
"Kali ini aku harus tahu dimana Clara di rawat, Cloe … aku tahu kamu memanfaatkan peran yang sekarang sedang kamu jalani kan? apa ini salah satu rencana mu untuk membalas dendam dengan memperalat Merlyn untuk merusak rumah tanggaku. Aku tidak akan tinggal diam Cloe! Memang harus bersikap tegas pada orang-orang yang ingin menghancurkan keluarga ku." ucap Tia menatap punggung Cloe yang semakin jauh dari pandangan nya.
Demi Tuhan, jujur saja Tia bingung dengan semua yang terjadi pada keluarga nya. Apakah ini balasan di masa lalu yang Tia perbuat, jika memang ada kesalahan nya di masa lalu, ingin sekali Tia memutar waktu untuk memperbaiki nya. Trauma Tia memaksa dirinya untuk lebih hati-hati dan waspada jika ada yang ingin mengganggu rumah tangganya.
Dua hari ini Tia memendam perasaan nya sendiri, ia tidak berbagi nya dengan Hans. Tia harus bisa menyelesaikan sendiri masalah pribadinya dengan Cloe. Terlebih Devi yang sekarang sudah kelihatan sisi buruknya untuk Tia, jika memang Hans mengetahui semua postingan yang Devi unggah biarlah jadi urusan dua kakak beradik itu. Tia tidak ingin memperkeruh suasana dengan mengadu pada suaminya.
"Cloe seperti menunggu taxi, aku harus ambil langkah cepat. Pokoknya tidak boleh kehilangan jejak Cloe sedikit pun." ucap Tia bergegas mengambil mobilnya yang terparkir menuju halte rumah sakit, hanya ada Cloe seorang diri disana.
Dengan jarak yang cukup jauh, di dalam mobil, mata Tia fokus menatap jalanan kosong dan Cloe yang mengutak atik ponselnya. Tidak lama sebuah mobil pribadi berhenti tepat di samping Cloe, wanita itu memsuki mobil pesanan nya dan melaju meninggalkan halte.
Tia menginjak pedal gas mobilnya, fokusnya saat ini agar tidak ketahuan telah mengikuti mobil yang di tumpangi Cloe. Mobil tia berdampingan dengan kendaraan lain dan mobil Cloe jauh di depan, namun Tia masih bisa melihatnya.
Citt …
Suara decitan rem mobil Tia berhenti di belakang pepohonan rindang di dekat rumah sederhana namun terlihat mewah, taxi online Cloe pun sudah berlalu meninggalkan wanita itu yang memasuki rumah.
Cloe melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah, langkahnya terhenti saat dirinya merasakan getaran dari dalam tas selempang nya. Ia merogoh benda pipih miliknya, sebuah smart phone yang limited edition itu. Apapun yang Cloe pakai dan gunakan, semua produk mewah dan tidak dijual bebas.
Nomor tidak dikenal menelepon Cloe, dengan malas ia mengangkat panggilan yang menurutnya nya itu tidak penting. Namun entah kenapa tangan Cloe menarik tombol hijau pada layar ponselnya ke atas.
Cloe memutar bola matanya malas, wanita bule yang akhir-akhir ini mejadi bebannya. Jika boleh berkata jujur, sebenarnya Cloe malas menjadi budak wanita manja itu.
"Nona?! Ada apa menelepon ku?" tanya Cloe memasang raut wajah jengah, namun suaranya terdengar seperti orang kebingungan. Dia kesal di saat begini ada orang yang meneleponnya.
"Cloe! Kau tahu, aku dijebloskan oleh ayah dari wanita kampung itu. Dia memergoki ku saat aku dengan Hans di kamar hotel."
Cloe mengernyit ketika orang di seberang sana membentaknya nya dan melanjutkan ucapannya dengan nada setengah berbisik.
"Bagaimana, Nona?! Suaramu putus-putus, aku tidak dapat mendengar nya dengan jelas," ucap Cloe setengah berteriak. Cloe tentu sengaja karena tidak ingin dua orang petugas polisi yang berjaga curiga kepadanya.
"Aku sengaja mengecilkan suara karena disini ada dua petugas polisi yang mengawasi ku, ini pun aku memakai telepon kantor polisi." masih dengan nada berbisik membuat Cloe malas meladeni nya, ia sungguh tidak tahu apa yang wanita bule itu katanya.
Tutt … tutt …
Tiba-tiba sambungan terputus, Cloe menatap ponselnya dengan menautkan kedua alisnya. "Tidak jelas sekali." gerutu Cloe lalu kembali menaruh ponsel ke dalam tas miliknya. Dia pun melanjutkan perjalanannya.
Sementara itu Tia berhasil mengikuti Cloe masuk ke dalam rumah, tidak ada penjaga atau asisten rumah tangga di rumah ini. Tia dapat melihat raut kesal yang terpatri di wajah Cloe saat menerima telepon.