
Bab 41
Ridho menatap cemas sang dokter yang baru saja keluar dari kamar operasi.
"Operasi berjalan lancar, Tuan. Tapi ada hal yang tidak kuasa kami pertahankan, rahim pasien terpaksa kami angkat karena kantung janin itu sudah melekat kuat dan menimbulkan infeksi. Jadi kalau tidak diambil segera maka akan membahayakan kondisi pasien."
Deg!
Ridho mengambil napas dalam-dalam, di dalam pikiran Ridho saat ini, sang istri tidak bisa memberikan keturunan lagi padanya.
"Jadi, istri saya akan kehilangan rahim sebelah kanannya, Dok?" tanya Ridho penasaran dengan ekspresi wajah yang sulit untuk diungkapkan.
"Benar, Tuan. Tapi rahim sebelah kirinya masih bisa berfungsi dengan baik. Hanya saja semua kembali pada kuasa Sang Pencipta. Tuan bisa melihat kondisi pasien nanti setelah dipindah ke kamar rawat. Saat ini masih menunggu pasien siuman terlebih dahulu. Kalau begitu saya permisi dulu, Tuan," ucap sang dokter berpamitan.
"Baiklah, Terima kasih, Dok," ucap Ridho dengan senyum yang dipaksakan.
Ridho pun kembali duduk menunggu sampai Wulan dibawa keluar dari ruang operasi.
Bip ... Bip!
Suara notif pesan masuk ke dalam ponsel Ridho. Dengan dahi berkerut Ridho mengambil ponsel miliknya yang dia simpan di saku celana depan.
'Bagaimana keadaan nyonya, Tuan? Semoga baik-baik saja' ( emoticon peluk)
Sekretaris Ridho mengirim pesan menanyakan keadaan Wulan. Memang tadi Ridho memberi kabar pada sang sekretaris kalau dirinya tidak jadi lembur karena Wulan masuk rumah sakit.
'Operasi sudah selesai. Kabar terburuknya salah satu rahim istri saya harus diangkat. Kini semakin sulit peluang untuk memperoleh keturunan' (emoticon sedih).
Ridho membalas pesan sang sekertaris semabei membuang napas kasar. Hatinya sangat kecewa dengan Wulan. Namun, Ridho masih juga mencintainya.
Lama pesan belum dibalas oleh sang sekertaris. Penuh harap Ridho menunggu jawaban.
"Arum, kenapa lama sekali dia membalas pesanku! Sedang sibuk apa dia?" gumam Ridho dengan hati yang berharap. Ridho merasa nyaman jika curhat pada Arum. Arum adalah sosok wanita yang pandai membawa diri. Baik penampilan ataupun gaya bicaranya selalu bisa membuat Ridho nyaman dengannya.
Alis Ridho bertaut menjadi satu. Hatinya ingin tahu berapa isi rekening bank sang istri.
"Buka tidak ya? Ah, biarlah! Toh dia juga tidak tahu, aku ingin tahu berapa banyak uang istriku!" Ridho bermonolog dengan hatinya.
Perlahan tangan Ridho bergerak membuka buku tabungan itu, mata Ridho menatap tajam angka demi angka yang tertera di kolom debit dan saldo.
"Apa! Wulan memiliki yang sebanyak ini? Dapat dari mana uang ratusan juta ini, bahkan saldonya sendiri mencapai setengah milyar. Jadi selama ini aku ditipu habis-habisan oleh Wulan! Kurang ajar! Aku susah payah bekerja hingga perusahaan hampir bangkrut dua malah enak-enakan menimbun uangku!" geram Ridho mengepalkan tangan kanannya.
Ridho mencari ponsel Wulan, berharap dia tahu nomer pin ATM Wulan.
"Pasti nomer pin ATM ini dia simpan di dalam ponselnya. Tapi ... Sial!! Ponselnya dikunci sandi! Dasar wanita sialaaaan!" Ridho memaki Wulan di dalam hati.
Klik!
Pintu operasi sudah terbuka, tubuh Wulan dipindahkan ke kamar rawat inapnya. Mata Ridho berkilat marah memandang tubuh istri yang sudah berani menipunya mentah-mentah.
"Sabar Ridho! Ini adalah ruang sakit, kau tidak bisa seenaknya bertingkah!" suara hati Ridho yang baik mencegah diri Ridho untuk melampiaskan amarahnya. Ridho pun mengikuti suster menuju kembali ke kamar Wulan.
"Tuan, kami tinggal dahulu. Nanti kalau ada apa-apa, langsung sampaikan pada kami," ucap sang suster setelah selesai memindahkan tubuh Wulan.
"Terima kasih, Sus," jawab Ridho singkat. Dia sudah tidak peduli dengan istrinya. Melihat Wulan yang masih tertidur. Timbul niat dalam hatinya untuk membuka ponsel Wulan yang terkunci dengan sidik jari Wulan.
Perlahan, Ridho mengambil ibu jari Wulan dan diarahkan ke ponselnya.
Klik.
Bunyi ponsel Wulan terbuka. Ridho tersenyum, dia melanjutkan mengutak-utik ponsel Wulan mencari kata sandi ATM nya. Dari apk catatan, galeri dan semua yang ada Ridho cari dengan teliti. Wajah putus asa sudah tercetak di wajah Ridho. Dia merasa gagal menemukan nomer pin password ATM Wulan. Ridho mencoba membuat aplikasi hijau sang istri. Di sana tertera nama seseorang yang unik menurutnya.