
Tia menatap punggung Sinta yang berlalu begitu saja. Biasanya akan ada cibiran dan sindiran yang Sinta lontarkan pada Tia. Akan tetapi entah mengapa malam ini Sinta hanya diam dengan mata yang sembab.
"Lagi PMS kali!" ucap Tia mengendikkan bahunya. Dia pun memutuskan untuk tidak memerdulikan apa yang dilakukan Sinta tadi.
Tok ... Tok ....
Tia mengetuk pintu ruang kerja sang ayah.
"Masuk." Suara bariton Gunawan sedikit parau terdengar di telinga Tia. Tia pun bergegas masuk ke dalam ruangan Gunawan.
"Ayah ... Ayah kenapa?" tanya Tia berjalan mendekati sang ayah. Gunawan terkejut, tidak menyangka yang datang adalah Tia. Segera Gunawan memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan bekas air mata yang menetes.
"Tidak ... Ayah tidak apa-apa, Sayang. Hanya saja pedih mata ayah terlalu sering di depan komputer dan hp. Oh ya, kamu ingin bertemu dengan ayah pasti ada tujuannya. Katakan apa yang bisa ayah bantu?" tanya Gunawan menutupi semua dari sang putri.
"Ayah tidak perlu berbohong pada Tia. Tia tahu pasti ayah sedang menyembunyikan sesuatu dari Tia. Katakan, Yah. Jadikan putrimu ini juga bagian dari diri ayah. Jangan pernah menyimpannya seorang diri," ucap Tia.
Ternyata sifat Tia yang menyembunyikan kesulitan yang dia hadap, menurun dari Gunawan.
Gunawan menatap Tia dengan perasaan campur aduk. Hampir saja dia lupa jika memiliki anak kandung. Sudah seharusnya Tia lah satu-satunya anak yang harus ia perhatikan. Bukannya darah orang lain yang hanya bisa merusak hidupnya.
Gunawan mendekat ke arah Tia, tubuh tua itu merengkuh sang anak dalam pelukannya. "Maafkan ayah, Tia. Ayah terlalu sibuk dengan urusan ayah, hingga tidak ada waktu untukmu. Ayah hanya sedang sibuk melarikan diri daripada kenyataan. Sepertinya ayah lelah, ayah ingin istirahat saja," ucap Gunawan yang mulai merasa goyah untuk mengarungi hidup sendirian.
Tia tercengang tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Gunawan, ternyata lelaki tua yang tampak selalu tegar dan kuat itu rapuh di dalamnya.
Gunawan menghindar dari tatapan Tia. Memang apa yang Gunawan rasakan itu sangat sulit untuk diungkapkan. Ada perasaan kecewa dan penyesalan yang bercampur menjadi satu. Selain itu ada rasa sayang dan cinta yang sulit untuk diungkapkan.
"Jujur, Tia. Ayah sangat menyayangi Sinta. Karena kau tahu juga kalau hubungan Sinta dan Ayah sudah terjalin lama. Dari Sinta bayi hingga dewasa, ayah selalu ada untuknya. Kami melewati hari-hari bersama dengan penuh bahagia sebelum Clara merusak semua. Memang mudah untuk berkata jika kita sudah tidak sayang atau putus hubungan. Tapi hati ini perlu waktu untuk bisa menerima semua," ucap Gunawan menangkup wajah Tia.
Hati Tia terasa dicubit mendengar ayah kandungnya memikirkan anak yang bukan darah dagingnya. Memang rasa kasih dan sayang yang terjalin lama akan sulit untuk dihapuskan. Demi sang ayah yang saat butuh dukungan, Tia membuang rasa sakit hatinya.
"Ayah ... Ayah tidak sendiri, masih ada kami yang akan selalu menyayangi ayah. Apapun yang ayah putuskan kami akan selalu mendukung. Itupun jika ayah ingin memaafkan Sinta, Tia pasti akan mendukung ayah," ucap Tia sembari tersenyum. Walau hatinya tidak rela, akan tetapi Tia harus melakukannya demi kesehatan sang ayah.
Hati yang terluka atau sakit akan membuat tubuh mudah sakit. Apalagi usia Gunawan sudah memasuki senja, yang mana rawan terkena penyakit.
"Terimakasih, Sayang. Kau memang anak ayah yang paling mengerti ayah. Ayah akan berusaha menjadi ayah yang terbaik untukmu. Masalah Sinta, biarkan saja dia menjalankan hidupnya sendiri. Ayah akan memberi waktu dia untuk bisa berubah," ucap Gunawan dengan napas lega.
"Baiklah, Ayah. Tia yakin ayah bisa menyelesaikan semua dengan baik. Tia percaya, Ayah adalah ayah yang terbaik untukku dan juga untuk Sinta," jawab Tia memberi lampu hijau pada Gunawan berbagi kasih sayang dengan Sinta.
"Terimakasih, Tia. Ayah pastikan kalau ayah tidak akan salah mengambil keputusan. Oh ya, apa yang tadi ingin kau sampaikan pada ayah, hem?" Gunawan menatap lekat manik mata Tia yang tiba-tiba berubah setelah ditanya apa yang ingin disampaikan pada dirinya.
Tia gelagapan, hampir saja dia lupa akan masalah yang ia hadapi.
"Mmm ... Itu, Ayah ...."
"Itu apa, Sayang. Sepertinya putri ayah ini sedang dilema. Apakah semua berhubungan dengan menantu ayah?"