
Hans menuruti permintaan sang istri, dia rela menunggu antrian salad dan es krim.
"Papa mau es krim juga?" tanya Hasna yang sedari tadi duduk di dekat stand es krim. Selain stand es krim ada juga stand salad, rendang dan lontong, sate ayam, gudeg, gulai kambing, snack, es buah, dan minuman lainnya.
"Iya, papa mengambilkan untuk mama, karena mama ingin es krim setelah melihat kak Hasna makan es krim," jawab Hans yang masih antri es krim setelah mendapatkan salad.
"Benarkah? Waaah ... Pasti adek Hasna nanti sama kayak kakaknya ini, suka sekali makan es krim," ucap Hasna sambil menyendok es krim yang ada di tangannya.
"Pasti dong, Kak. Kakak kan, bakal jadi panutan adek nantinya. Sama kayak kak Hasan juga," ujar Hans sambil mengusap dengan gemas rambut anaknya yang tidak terlalu panjang.
"Ya sudah. Kakak mau tetap nunggu di sini atau mau ikut papa ke mama? Mama sudah nungguin es krim ini soalnya," ucap Hans sambil sedikit berjongkok agar menyetarai tingginya dengan sang anak.
"Di sini aja, Papa. Hasna masih mau makan es krim. Biasanya kan, Hasna jarang banget diizinin makan es krim sama mama. Mumpung mama juga mau es krim dan juga lagi ada acara mewah ini, Hasna mau makan es krimnya dengan puas!" celetuk Hasna dengan begitu polos berkata jujur di depan sang ayah hingga membuat Hans terkekeh pelan.
"Ya sudah. Papa tinggal nggak papa kan, Hasna? Kalau mau ketemu Papa, papa ada di meja paling sudut, ya. Ada Mama juga di sana." Hans menunjukkan tempat Tia sedang menunggunya dengan senyum sumringah yang tak henti untuk di luncurkan.
"Iya, Papa. Tolong rahasiakan ini dari mama ya, Papa. Hasna nggak mau nanti saat Hasna sedang asyik makan es krim, Mama malah nyamperin Hasna dan omelin Hasna. Kan sayang, Papa, kalau es krimnya harus di buang karena Hasna ketauan udah makan banyak sekali es krim hari ini," ujar Hasna dengan tatapan memohon kepada Hans.
"Siap, Tuan putri Papa. Jangan terlalu banyak makan es krimnya, ya. Secukupnya saja. Jangan berlebihan, karena itu juga tidak baik untuk diri kamu," peringat Hans diangguki oleh Hasna.
Hans bergegas pergi menghampiri Tia. Tia langsung menjulurkan tangannya dan meminta es krimnya. Hans langsung memberikannya dengan tersenyum kecil. Menurut Hans, kehamilan Tia untuk anak mereka yang ke tiga ini begitu membuat Tia sangat menggemaskan.
"Pelan-pelan makannya, Sayang. Mas nggak akan ambil es krimnya, kok," ujar Hans.
"Iya, Mas. Tapi, Tia ingin buru-buru agar bisa menghabiskannya dengan cepat. Tia mau menggoda Aris dan Devi. Lihatlah, Mas. Mereka berduaan terus di sana," ujar Tia sambil cemberut.
"Biarin lah, Sayang. Mereka kan, sudah halal. Seharusnya, bukankah itu adalah hal baik? Kecuali, jika mereka belum mukhrim," ujar Hans kembali merasa lucu dengan sikap istrinya.
"Iya, Mas. Tapi, Tia iri! Masa, Tia yang menjadi jalur singkat Aris hingga sampai sekarang dia bisa duduk di pelaminan dengan wanita yang dia cintai, malah duduk di sini aja, sih?" kesal Tia. Entah kenapa, perasaan Tia menjadi kesal melihat keromantisan adiknya dan adik iparnya itu yang menjadi guru di sekolah anak kembarnya.
"Sayang, wajar saja. Mereka yang memiliki pesta ini. Kecuali, jika kita yang menikah. Barulah kita yang seperti mereka." Hans menarik badan Tia hingga membuat kepala istrinya bersandar di dad4 bidangnya.
"Iya, Mas. Tapi aku tetap iri saja!"
Hans geleng-geleng kepala.
Sedangkan sepasang pengantin baru yang sedang diobrolkan oleh Tia dan Hans kini sedang bersenda gurau membahas masa depan mereka yang sudah dibayangkan oleh Aris.
"Mas terlalu berpikir jauh, Mas! Kita kan, baru saja menikah, Mas! Nggak mungkin banget lah, aku langsung punya anak empat! Mas ini! Sampai segitunya kau ngalahin mas Hans dan mbak Tia," sungut Devi begitu kesal dengan setiap ucapan yang Aris keluarkan untuk menggoda dirinya.
"Cantik, nggak papa. Kalau kita punya anak banyak, otomatis rezeki kita juga pasti akan lancar. Maka, kalau anak kita melebihi dari kata banyak, pasti rezekinya juga melebihi dari kata banyak kan, Sayang?" goda Aris dengan alis naik-turun.
"Nggak seperti itu konsepnya, Mas! Mas kira, aku ini pabrik apa ya?, sampai-sampai harus memberikan Mas banyak keturunan?" kesal Devi. Kini Devi membalikkan tubuhnya. Devi begitu kesal kali ini dengan godaan yang Aris berikan.
"Yah, jangan ngambek dong, Sayang. Kalau kamu ngambek, bagaimana dengan malam pertama kita?" tanya Aris lagi, namun kini ditanggapi oleh Tia.
"Kita bakal lembur, Mas! Mas nggak liat? Mbak Tia dan mas Hans undang banyak banget teman-teman mereka dan kolega bisnis mereka untuk hadir di acara pernikahan kita. Aku yakin, pasti isi amplop mereka nominalnya besar-besar, deh," ujar Devi mulai berandai-andai membayangkan banyaknya uang yang akan ia miliki setelah semua uang di amplop ia keluarkan dan ia hitung bersama dengan Aris.
"Bukan itu maksud Mas, Sayang. Tapi …."
"Tapi apa, Mas? Mas nggak usah khawatir, karena Devi bukanlah seorang wanita yang boros uang. Uang amplop para tamu undangan bisa mencukupi hidup kita sampai satu tahun, kok. Tapi, tergantung nominalnya dulu, sih," kekeh Devi. Mata Devi terus menatap langit-langit dekorasi pernikahan dengan senyum mengembang, membayangkan jika malam ini ia dibanjiri oleh lembaran uang kertas hasil dari hadiah para tamu undangan.
"Baiklah. Nanti akan mas bantu hitung berapa nominalnya," pasrah Aris karena sang istri tak kunjung mengerti akan kemauannya. Dengan terpaksa Aris menuruti keinginan sang istri.
"Mas, aku mau ke kamar mandi dulu, ya. Mas tolong sambut tamu saja," ujar Devi langsung mendapatkan anggukan kepala Aris.
"Iya. Hati-hati ya, Sayang," ujar Aris. Aris tetap menatap punggung belakang Devi yang semakin menjauh dan mengecil dari pengelihatannya.
"Om."
Aris menolehkan kepalanya saat mendengar salah satu suara keponakannya memanggil namanya.
"Iya? Ada apa, Hasan?" tanya Aris lembut dan membawa Hasan untuk duduk di sampingnya, menemaninya di ruang yang kosong di kursi pernikahan panjang itu.
"Nanti malam sampai satu Minggu ke depannya, Hasan dan Hasna akan menginap di rumah baru milik Om yang kemarin Om belikan untuk ibu guru Devi," ucap Hasan.
Mata Aris melotot dengan begitu terkejut. Ia mengerjapkan matanya dengan perlahan saat mendengar penuturan sang keponakan.
"Kenapa harus di rumah baru milik Om, Hasan?" Aris masih berusaha untuk tersenyum di depan keponakannya.
"Karena, Mama dan ayah ingin liburan, Om. Mama katanya terlalu suntuk di rumah dan memerlukan hiburan agar adik bayi Hasan dan Hasna tetap merasa nyaman di dalam perut," jelas Hasan.
"Mama kamu?" Mata Aris seketika langsung menggelap dan menatap tajam ke arah Tia yang kini terkekeh ke arahnya dan mengacungkan jari jempolnya.
Aris mendengkus kesal karena malam pertamanya pasti akan terganggu oleh kedua bocil itu. Satu minggu adalah waktu yang cukup lama baginya.
"Mbak Tia ... Please! Tolonglah adikmu ini, masa iya sih ... Pengantin baru suruh jagain dua bocil ini?" Aris menatap kakaknya dengan tatapan memohon. Berharap sang kakak mau mengajak dua anaknya untuk pulang.
"Maaf, Aris. Semua di luar kendali mbak. Mereka sendiri yang meminta ingin menghabiskan liburan mereka di rumah mu. Apalah daya mbak hanya bisa mengabulkan semua permintaan mereka," jawab Tia dengan raut wajah yang dibuat sesedih mungkin.
"Mass Haans ... tolong lah, Mas!" Aris memohon pada kakak iparnya.
"Mm ... Maaf, Aris. Mas kali ini tidak bisa membantu mu, semua juga di luar kendali, Mas. Anak-anak yang meminta sendiri untuk menginap di rumahmu. Devi kamu tidak keberatan kan?" Hans mengalihkan pembicaraan untuk bertanya pada Devi.
"Tentu saja tidak, Mas. Semua aman kok kalau sama Devi. Bukan begitu anak-anak?" tanya Devi pada kedua keponakannya.
"Iya, Tante ... Sekarang Hasna akan panggil Bu guru Devi dengan panggilan 'Tante'," jawab Hasna dengan senyum manisnya. Mereka berdua sudah nyaman dengan Devi.
"Dasar dua bocah kecil! Awas ya jika sampai gagal belah duren malam ini!" gumam Aris sambil memicingkan matanya menatap kedua keponakannya yang suka usil itu.
"Iya, Sayang. Tapi ingat jika di sekolah tetap harus panggil Tante dengan ibu guru, okey?!" Devi mencubit pipi chubby milik Hasna.
"Okey, Tante!" Jawab Hasan dan Hasna serempak. Mereka sangat kompak sekali, secara mereka akan menginap di rumah baru.
"Baiklah, Aris, Devi. Mbak pulang dahulu karena harus mengantar mama dan papa. Sepertinya mama sudah capek sedari tadi duduk menyalami tamu," ucap Tia ingin segera kabur dari hadapan Aris.
Aris mendengkus kesal, merasa dirinya dikerjain oleh sang kakak dan dua keponakannya itu
"Iya, Mbak. Hati-hati di jalan. Sampaikan salam Devi pada mama dan papa ya, maaf ... Devi tidak bisa mengantar pulang mama dan papa," ucap Devi sopan.
Hans, Tia dan Aris terheran mengapa sang mama bisa menerima Devi dengan baik. Bahkan Devi terlihat begitu dekat dengan Mery. Mungkin ini yang dinamakan jodoh hingga orang tua Aris pun merasa rela melepas sang anak hidup bersama dengan wanita yang tepat dan baik.
"Iya, pasti nanti mbak sampaikan. Kami pulang dulu ya ... Assalamu 'alaikum," ucap Tia berpamitan.
"Wa'alaikum salam," jawab Aris dan Devi bersamaan.
"Maaf, Aris. Mas pulang dahulu, ingat kamu harus perlakuan wanita dengan lembut, jangan sampai bikin trauma pada istrimu!" bisik Hans di telinga Aris.
Aris bertambah kesal, bagaimana mau pelan-pelan jika ada dua bocah kecil yang akan mengganggunya.
Tamu undangan pun berangsur pulang, hingga kini tersisa keluarga Devi dan dua bocil yang akan meramaikan hidup Aris dan Devi.
"Ma ... Pa ... Kami langsung pulang ke rumah baru kami ya, sepertinya di sana lebih nyaman untuk kami berempat," ucap Devi berpamitan.
Devi memang wanita yang pandai berhemat. Dia tidak mengambil paketan hajatan di hotel itu dengan alasan menghemat pengeluaran. Lebih baik uangnya ditabung untuk membeli keperluan rumah baru mereka.
"Baiklah, terserah kalian saja bagaimana enaknya. Kami juga akan kembali ke rumah," ucap ibu kandung Devi.
"Terimakasih, Ma. Kami pergi dahulu, kasihan anak-anak pasti sudah lelah," ucap Devi melihat ke arah Hasan dan Hasna yang sudah mulai lelah dan mengantuk.
"Baiklah, hati-hati di jalan, Nak."
"Siap, Ma. Terima kasih, Assalamu 'alaikum," Devi berpamitan. Setelah memeluk dan menyalami semua keluarganya Devi dan Hans pun pergi bersama Hasan dan Hasna ke rumah mereka yang baru.
Bruum ....
Aris mengemudikan mobilnya menuju ke rumah baru yang sudah ia beli saat merencanakan pernikahan dengan Alya dulu.
"Mas ... Lihat mereka, kalau tidur sangat menggemaskan!" ucap Devi yang duduk di kursi depan di samping Aris.
Aris melihat dari kaca spion, dia pun merasa senang jika dua keponakannya itu tidur, itu tandanya anti setelah sampai di rumah dia akan bebas melakukan ritual malam pertamanya.
"Mas ... Kok senyam senyum sih? Memang ada yang lucu, Mas?" Devi heran melihat lelaki yang baru tadi pagi ia nikahi tersenyum sendiri tidak jelas.
"Eh, Iya. Mereka sangat menggemaskan, mas tersenyum mengingat kelucuan mereka," jawab Aris berbohong. Dia tidak mungkin berterus terang apa yang ia pikirkan.
"Oh ... Aku kira ada yang aneh dengan mereka. Aku senang jika rumah jadi ramai karena ada anak kecil. Lumayan mereka seminggu di rumah kita, Devi akan ada temannya jika mas kerja," ucap Devi dengan wajah yang riang.
Memang Aris belum mengambil cuti untuk bulan madu. Dia ingin menyelesaikan semua pekerjaannya sebelum pergi berbulan madu.
"Baiklah, dua bocil itu ternyata ada gunanya juga," gumam Aris.
"Apa yang kau katakan, Mas? Memang kenapa dengan mereka berdua?"
"Eh, tidak apa-apa kok. Mas senang aja kalau mereka bisa menemanimu di rumah," ucap Aris hampir saja keceplosan.
"Oh begitu ... Iya, Mas. Devi jarang sekali berada di rumah sendiri. Rasanya bagaimana gitu kalau ruang sepi," ucap Devi lagi.
Memang keluarga Devi adalah keluarga besar, jadi setiap harinya pasti ramai, dan Devi terbiasa akan keramaian.
"Baguslah dua bocil itu menginap di rumah kita, karena seminggu ini mas akan gunakan untuk menyelesaikan semua pekerjaan kantor sebelum cuti bulan madu kita. Kau juga sudah ajukan cuti kan?" Aris memastikan istrinya juga mengambil cuti yang sama.
"Iya, Mas. Devi sudah mengajukan cuti untuk seminggu ke depan. Bukannya mas sendiri yang memintanya?" jawab Devi sambil melihat ke arah depan. Dia menjawab sambil memerhatikan lampu lalu lintas yang berwarna merah.
Mobil pun kembali melaju meninggalkan lampu merah, dan tidak berapa lama kemudian mereka pun sampai juga di rumah baru Aris.
Setelah memarkirkan mobilnya di garasi dan membuka pintu mobil juga pintu rumahnya. Aris perlahan menggendong Hasna untuk dipindahkan ke dalam kamar tamu di samping kamar utama miliknya.
Dengan dibantu Devi, Aris kembali ke mobil untuk menggendong Hasan. Setelah keduanya sudah berada di kamar dan tertidur pulas. Saatnya Aris beraksi di kamarnya.