
Aris mendesah sedih melihat sikap Wulan yang begitu menyebalkan. Gegas Aris mengambil ponselnya lalu menelpon Tia. Dia ingin meminta ijin pada Tia untuk menggunakan uang belanja harian untuk membeli diapers dewasa.
Tuut ... Tuut ....
Nada panggil terhubung dengan nama kontak Tia.
Klik ....
"Hallo ...."
"Assalamu 'alaikum, Mbak. Ini Aris."
"Wa'alaikum salam, Aris? Ada apa, Ris?"
"Mbak, Aris ingin minta ijin memakai uang belanja yang diberi mbak Tia untuk membeli diapers mama. Mbak Wulan tidak mau mengasih uang untuk beli diapers, sedangkan Aris sendiri belum bekerja lagi, Kak. Entah bagaimana nanti Aris bisa membayar uang kuliah Aris," ucap Aris dengan nada sendu.
"Tenang, Aris. Pakai saja dulu uang yang mbak kirim. Nanti kalau kurang kau bisa minta mbak lagi," jawab Tia.
Aris tersenyum lega, dia tahu kakak perempuan yang sangat dia sayangi itu tidak akan berbuat tega dengan ibu kandungnya sendiri.
"Terima kasih, Mbak. Aris jadi lega. Nanti kalau Aris sudah lulus dan bisa bekerja, orang yang pertama kali Aris undang untuk menghadiri wisuda Aris adalah mbak Tia," ucap Aris terharu. Sungguh dia merasa bahagia memiliki kakak perempuan seperti Tia.
"Sudah, kau fokus pada kuliahmu. Jika mbak punya uang berlebih, pasti mbak akan kirim lagi yang untukmu. Doakan usaha online mbakmu ini bisa berkembang pesat."
"Aaamiin ... Aris doakan, semoga mbak Tia makin sukses. Mbak, udah dulu ya ... Aris mau beli diapers mama dulu ya, Mbak. Kasihan pasti mama sudah risih karena sudah penuh isi diapers nya," ucap Aris pamit pada Tia.
"Oke, Aris. Kamu yang sabar menghadapi mbak Wulan ya ... Jangan terpancing emosi, biarkan saja dia seperti itu, nanti bakal kena tulah sendiri. Jaga baik-baik mama," jawab Tia.
"Iya, Mbak. Terima kasih. Assalamu 'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Aris menutup ponselnya lalu bergegas kembali ke kamarnya l mengambil dompet.
Sementara itu di kamar Hans.
"Siapa itu?" tanya Hans sembari memicingkan matanya.
"Memang siapa? Cepat katakan!!" Hans begitu mudah terpancing.
Tia tertawa, pancingannya berhasil. Ibarat memancing ikan lele, namun yang didapat malah ikan emas. Tia sangat menikmati raut wajah menggemaskan sang suami.
"Yang telpon barusan adalah lelaki yang sangat berarti dalam hidup Tia. Dialah yang selalu ada saat Tia mendapatkan ketidak adilan dan hukuman dari mama. Dia juga yang membantu Tia untuk kabur saat hari pernikahan Ridho dan Wulan. Orangnya ganteng, tinggi dan masih muda sekali. Jelas dong, tuh lelaki kan masih kuliah," ucap Tia dengan gaya genitnya seakan sedang membayangkan wajah sang lelaki.
Hans terdiam, dia memilih untuk meredam emosinya. Namun diamnya Hans membuat Tia kebingungan.
"Mas? Mas Hans ... Kamu tidak apa-apa 'kan?" Tia mendekat ke arah Hans lalu ....
"Muach ...."
Tia mengecup pipi Hans berharap marahnya akan lega, namun ternyata Tia salah. Hans hanya terdiam saja, raut wajahnya datar tanpa ekspresi.
"Duh, mas Hans kalau marah diem begini malah lebih berbahaya sepertinya. Mending dia ngamuk dari pada diem begini!" racau Tia dalam hatinya. Kini gantian Tia yang menjadi tersangka.
Tia tidak utang akal, dia pun memeluk Hans dari belakang.
"Maaas ... Jangan diam saja! Aku tidak suka kalau mas Hans diam seperti itu! Ya sudah kalau mas marah, Tia juga bisa! Kita saling mendiamkan bagaimana? Siapa yang paling lama maka dia lah pemenangnya!" Tia menantang sang suami.
Tia berusaha untuk bisa membuat suaminya menjadi diri pribadi yang tidak mudah marah ataupun egois. Berharap Hans bisa berubah seiring berjalannya waktu.
Hans hanya melengos, dia memilih tidur memunggungi sang istri tanpa sepatah katapun. Tia pun tidak mau kalah, dia juga tidur memunggungi Hans. Entah bagaimana mereka besok akan memulai harinya.
Malam merangkak menuju pagi, para insan yang terbuat di alam mimpi mulai tersadar dan bangun untuk mulai beraktivitas kembali. Suara adzan subuh memanggil semua insan untuk mulai beribadah.
Tia yang sudah selesai mandi dan sholat subuh kebingungan mencari cara agar bisa membangunkan sang suami tanpa harus mengeluarkan suara. Tia dilema, karena dihadapkan dengan pilihan sulit. Dibangunkan dia kalah, jika tidak dibangunkan dia akan bersalah dan berdosa.