
Gunawan menatap lembut pada sang putri asuhnya itu. Dia tahu bagaimana rasanya dikhianati dan dikecewakan.
"Maafkan papa, Sinta. Semua itu di luar kendali papa. Mama mu menghina papa dengan begitu kasar. Seolah papa adalah lelaki yang tidak punya harga diri. Mama mengira papa tidak bisa hidup enak tanpa bantuan dari mama mu. Sungguh hal itu sangat menyedihkan bagi kami sebagai seorang laki-laki. Seolah kami tidak ada harganya di mata wanita seperti mama mu itu," jawab Gunawan.
Sinta masih terisak menangis sembari sesekali membersihkan ingus yang keluar dari hidungnya. Dia mengerti penyebab semua ini adalah sang ibu. Ibu yang seharusnya memahami anaknya, akan tetapi Clara hanya mengedepankan ego dan ambisinya.
"Maafkan Sinta yang tidak tahu akan hal ini. Sinta terlalu disibukkan dengan masalah Sinta sendiri. Sinta lelah dengan kehidupan ini, Pa. Kehidupan yang sepertinya tidak berpihak pada Sinta. Sinta kehilangan banyak hal dalam hidup Sinta, Pa!" Sinta terus menangis terisak.
"Sudahlah, lebih baik kita mulai kehidupan kita dari awal. Jika kau ingin ikut dengan papa itu hak mu, akan tetapi kau harus bicarakan hal ini terlebih dahulu dengan mamamu. Saat ini mamamu pasti khawatir karena kamu tidak pulang semalaman," ujar Gunawan mengingatkan Sinta.
"Hahaha ... Pa, mama itu tidak pernah lagi mencari Sinta. Mau kemanapun Sinta mama sudah tidak peduli, dia terlalu sibuk dengan om Rai!" tegas Sinta dengan geram mengingat sang mama yang tidak menanyakan kabarnya semenjak ada Rai.
"Apa? Mama mu sudah tinggal serumah dengan lelaki itu?" tanya Gunawan dengan wajah terkejut, hampir saja mobil yang ia kemudikan menjadi oleng.
"Iya, Pa. Om Rai sudah tinggal bersama mama sejak aku liburan ke Bali itu. Maafkan Sinta yang tidak bisa jaga mama, Pa," ucap Sinta menunduk merasa bersalah karena di saat perusahaan sedang dilanda masalah malah dia menghambur-hamburkan uang dengan berlibur ke Bali.
Mobil Gunawan memasuki halaman rumahnya. Rumah mewah milik Gunawan terpampang di depan Sinta, seketika wajah Sinta berubah. Dia menghapus air matanya dan menggosok kedua mata dengan tangannya.
"Waaoow ... Rumah siapa, Pa?" tanya Sinta saat mobil berhenti di depan teras.
"Rumah papa dong, masa iya rumah tetangga, hahaha ...." seloroh Gunawan menggoda sang anak.
"Gil4 ..! Besar sekali, Pa? Rumah mama saja kalah dengan rumah papa. Ini benar-benar besar sekali, Pa? Sinta mau tinggal di sini bersama papa," ucap Sinta terkagum pada kebesaran dan kemegahan rumah Gunawan.
Gunawan tersenyum melihat kepolosan Sinta. Gunawan mengira itu hanya reaksi biasa saja, akan tetapi tidak dengan Sinta. Dia memiliki keinginan untuk bisa tinggal selamanya di rumah itu.
"Tentu saja, Sinta. Kamu boleh tinggal sampai kapan kau mau. Ayo kita masuk," ajak Gunawan pada sang anak.
"Ayo, Pa. Sinta sudah tidak sabar untuk melihat isi rumah ini. Luarnya sudah bagus begini, apalagi dalamnya," jawab Sinta dengan menggandeng lengan Gunawan.
Gunawan menekan bel pintu dan keluarlah wanita separuh baya yang bertugas menjadi kepala pelayan di rumah besar itu.
"Selamat pagi, Tuan," sapa perempuan dengan baju ala pelayan.
"Selamat pagi, Bi. Oh ya kenalkan ini adalah Sinta, anak saya," balas Gunawan memperkenalkan Sinta pada pelayan itu.
"Selamat pagi, Nona Sinta," sapa sang pelayan dengan membungkukkan badannya.
"Sungguh sombong sekali dia!" gumam sang pelayan membatin sikap Sinta yang tidak memandang dirinya.
"Bi, antar Sinta ke kamar tamu," pinta Gunawan pada sang pelayan.
"Papa ... mengapa Sinta suruh nempatin kamar tamu, apa Sinta di sini tamu bagi papa?" tanya Sinta dengan wajah cemberut.
"Bukan begitu, Sinta. Kamar di sini hanya ada dua kamar utama dan satu kamar tamu lalu tiga kamar biasa. Yang kamar utama yang satu untuk papa dan satunya lagi untuk Tia. Kamar yang biasa dipakai oleh Rustam dan tersisa dua kamar biasa juga kamar tamu," jawab Gunawan.
"Tia? Siapa Tia?" tanya Sinta yang belum kenal dengan Tia.
"Tia adalah anak kandung papa, dia yang akan mewarisi semua harta kekayaan papa. Sekarang dia ada di Jakarta bersama sang suaminya yang juga seorang pengusaha," jawab Gunawan menjelaskan siapa Tia.
Ada perasaan tidak suka menyelinap dalam diri Sinta, bagai bara api yang ditiup lama-lama menjadi api besar yang bisa menghanguskan diri. Rasa iri hati akan melahap habis sang pemiliknya, seperti api yang membakar kayu, perlahan tapi pasti kayu itu akan terbakar habis.
"Mengapa kamu diam, Sinta? Kamu memang belum mengenal Tia. Nanti jika kamu papa kenalkan pasti kamu akan menyukainya, dia wanita yang berhati mulia, baik dan ramah pada siapapun hingga mudah dimanfaatkan oleh orang yang berniat buruk padanya," ujar Gunawan memuji sifat Tia yang ramah pada siapapun.
"Benarkah, Pa. Baiklah, Sinta sangat beruntung jika memiliki saudara perempuan seperti Tia. Walau bukan saudara kandung, tapi pastinya aku akan menyayanginya," tukas Sinta dengan senyum yang dipaksakan.
Gunawan bahagia jika Sinta bisa hidup rukun bersama Tia. Dua wanita itu akan menjadi anak-anaknya.
"Bagus, Sinta. Tapi kamu tidak boleh lupa jika harus bilang pada mama mu kalau kau tinggal bersama papa. Dan papa tinggal dulu, papa mau istirahat di kamar. Kamu juga istirahat ya, selamat beristirahat, Sinta," ucap Gunawan sembari mengusap pucuk kepala Sinta.
"Selamat beristirahat, Pa. Sinta juga akan beristirahat. Tidak mengapa Sinta tinggal di kamar tamu," ucap Sinta dengan wajah yang dibuat sendu.
"Baiklah, sementara kamu pakai kamar tamu, nanti akan kita renovasi kamar tamu menjadi kamarmu," sahut Gunawan menghibur hati sang anak.
"Benarkah, Pa? Asyiiik ...." Sinta menghambur ke pelukan Gunawan sama seperti sebelum Gunawan meninggalkan ibunya.
Gunawan ikut tersenyum dan menepuk bahu Sinta. "Papa istirahat dulu, tubuh papa sudah sangat letih dan mengantuk," ucap Gunawan sambil menguap.
"Okey, Pa. Selamat beristirahat," balas Sinta sembari melambaikan tangannya pada sang ayah asuhnya. Sosok lelaki yang bukan ayah kandung tapi menyayangi diri Sinta dengan sepenuh hati melebihi ayah kandungnya sendiri.
Sinta masuk ke dalam kamarnya dan menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Dengan tidur terlentang sembari menatap langit-langit kamar yang dihiasi dengan desain plafon PVC yang indah. Kamar yang menyerupai kamar hotel, semua yang menempati kamar itu pasti akan merasa betah dan tidak ingin pergi dari kamar itu.
"Waaah ... Kamar tamu saja bagus seperti ini, apalagi kamar utama? Pasti lebih indah. Sebenarnya siapa Tia itu? Andai tidak ada dia, pasti akulah yang akan mewarisi semua harta papa!"