
Suhu AC yang menunjuk ke arah minus 30 tidak terasa dingin di kulit Tia maupun Hans. Keduanya merasa gerah berada di satu ruangan dalam kondisi berbeda dari biasanya.
"Kak ... Boleh, Tia tidur duluan. Badan Tia serasa capek semua. Besok masih harus ke kantor pengadilan agama untuk mengambil akta cerai," ucap Tia sembari menunduk malu.
"Ah, iya, Tia. Tidurlah, kakak akan tidur di sofa, takut khilaf padamu," ucap Hans menahan semua hasrat yang ada di dada. Dia tidak ingin meminta haknya secara paksa. Walau sesungguhnya mereka sudah halal secara agama.
"Kakak baru saja sembuh, kita berdua bersama tidur di kasur ini. Toh ini kasur sangat luas, masih banyak sisa kalau aku pakai sendirian," timpal Tia sembari menata guling di tengah, sebagai pembatas mereka berdua.
"Ah, baiklah kalau begitu," ucap Hans pasrah menerima tawaran Tia. Hans juga merasa pegal jika tidur di sofa.
Keduanya pun bersiap tidur, badan yang lelah membuat mereka tidur dengan cepat. Malam ini berlalu begitu saja tanpa saling memenuhi kebutuhan batin mereka.
Di rumah sakit.
Kondisi Wulan berangsur membaik pasca operasi. Kini dia sudah bisa duduk dan berjalan walau belum banyak langkah. Selama di rumah sakit, Ridho hanya menemani saat malam saja, itu pun kadang dia terlambat karena lembur. Seperti malam ini Ridho pamit untuk lembur.
"Wulan, maaf. Sepertinya malam ini mas akan terlambat untuk datang ke rumah sakit. Masih banyak pekerjaan yang belum mas selesaikan. Mas harap kau mengerti, semua ini karena kondisi perusahaan yang mulai turun," ucap Ridho melalui sambungan telepon.
"Baiklah, Mas. Aku tidak apa-apa kok sendiri di rumah sakit, toh besok sudah diperbolehkan pulang," jawab Wulan.
"Oh ya? Baguslah besok mas jemput ya, dan jaga kesehatan mu mas dapat undangan dari salah satu klien pemilik perusahaan terbesar di kota ini. Dia akan mengundang kita dalam acara pesta pernikahannya," ucap Ridho pada sang istri. Di dalam undangan yang dia terima, memaksanya untuk mengajak sang istri.
"Benarkah? Baiklah, Mas. Sudah lama aku tidak menghadiri undangan para pemilik perusahaan. Aku akan secepatnya sembuh dan bisa menemani dirimu di pesta itu," ucap Wulan dengan senyum yang mengembang.
"Baik, Mas. Aku akan segera minum obat dan beristirahat. Semangatku untuk sembuh semakin besar. Terimakasih ya, Mas. Mau mengajakku ke pesta itu," ucap Wulan dengan gembira.
Wulan tidak tahu jika ada udang di balik batu. Sikap Ridho yang sangat perhatian pada Wulan dianggapnya sebagai hal yang biasa. Wulan terlalu sibuk memikirkan harta dan status sosialnya hingga tidak memahami perubahan dari sang suami.
"Aku sudah tidak sabar untuk belanja gaun dan tas branded. Aku yakin di sana pasti banyak pengusaha kaya dan tampan yang bisa aku jadikan cadangan jika aku dan mas Ridho berpisah. Ah, aku harus segera minum obat dan beristirahat agar cepat fit kembali," gumam Wulan tidak ada yang mendengarnya.
Wulan pun bergegas minum obat dan segera beristirahat. Senyum terukir di bibirnya walau mata terpejam, Wulan sudah terbang ke alam mimpi setelah obat yang diminumnya bekerja.
Sementara itu, Ridho sedang menghabiskan malamnya di sebuah club malam. Dia mencari kesenangan pribadi dengan menggunakan uang hasil curian dari ATM Wulan. Ridho terlihat sudah mabuk, mulutnya meracau tidak jelas. Di sampingnya sudah berdiri, sosok wanita penghibur yang bekerja di club itu.
"Tuan, Anda sudah mabuk, lebih baik kita habiskan malam ini di hotel saja," ucap sang wanita berparas cantik bak model papan atas.
"Aku tidak mabuk, Cantik. Aku masih bisa membawamu terbang melayang tinggi di awan, hahaha," jawab Ridho sempoyongan.
Hingar bingar dentuman musik tidak membuat Ridho terganggu. Dia masih asyik terus meracau dan sesekali berjoget.
"Tuan, ayolah. Anda sudah begitu mabuk. Aku takut tidak bisa membawa tuan lagi jika tuan sudah terkapar Tilak berdaya," ucap Sang wanita.
"Baiklah, Rosie, Sayang. Ayo kita berenang dalam lautan cinta, hahaha ...." Ridho akhirnya menuruti kemauan Rosie. Sedangkan Rosie tersenyum menyeringai.