
Sinta menggandeng sang anak yang sudah mengantuk dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya membawa tas cangking yang berisi dompet, HP dan beberapa kebutuhan Sherly saat diajak keluar.
"Ayo cepat, Sherly. Kalau kamu mengantuk kamu harus cepat jalannya!" desak Sinta pada sang anak untuk berjalan dengan cepat.
"Maa ... gendong!" rengek Sherly yang sudah sangat mengantuk hingga jalan pun sempoyongan.
"Sherly, jangan manja!! Ayo cepaaat!!" ucap Sinta tidak memerdulikan rengekan Sherly anaknya. Terpaksa Sherly menuruti perintah dari ibunya karena takut kena marah dari sang ibu.
Sinta berjalan dengan cepat, dia ingi segera menemui sang ayah yang pastinya sudah sampai duluan, hal itu bisa dilihat dari mobil Gunawan yang sudah terparkir di garasi.
Sinta memegang handle pintu, dia mengira jika pintu itu tidak terkunci seperti biasanya. Namun berulang kali dia coba untuk membuka pintu tetap tidak bisa.
"Kenapa pintu ini dikunci? Apa semua pergi? Tidak mungkin ... Mobil papa ada di garasi, itu tandanya dia ada di dalam rumah!" gumam Sinta sambil terus mencoba memutar handle pintu.
"Maa ... Gak bisa dibuka ya? Kita terkunci dari dalam ya, Ma? Opa di mana sih? Mengapa dia kunci pintunya? Apa kita tidak boleh lagi tinggal di rumah ini?" tanya Sherly dengan wajah lesu dan mengantuk.
Deg!
Deg!
Sinta memikirkan apa yang dikatakan anak perempuan semata wayangnya itu. Seketika hatinya merasa gelisah dan khawatir. Sinta pun mulai berteriak memanggil Gunawan.
"Papaa ... Papaa ...!" teriak Sinta dari luar memanggil Gunawan. Namun sayang tidak ad jawaban dari dalam. Semua tampak sepi tidak ada yang berani membukakan pintu untuk Sinta.
"Papaa ... Ini Sinta, Pa. Tolong bukakan pintu, Sinta ingin bicara, Pa!!" teriak Sinta tidak mau menyerah juga. Sinta berharap perjuangannya membuahkan hasil.
"Ma ... Mama ... Bukankah itu tas koper kita?" tanya Sherly sambil menarik baju Sinta.
Sinta menoleh ke arah sang anak. "Sherly, apa yang kamu katakan?" tanya Sinta yang tidak terlalu jelas mendengar kata-kata dari Sherly.
Sherly menunjuk ke arah timbunan tas dan koper yang berada di teras. Karena terburu-buru tadi, Sinta tidak melihat jika ada tas koper dan beberapa barangnya teronggok di teras di sisi sebelah kanan.
Deg!
Deg!
Sinta membulatkan matanya, dadanya berdebar tidak karuan dan tubuhnya bergetar. Dia tidak percaya jika dirinya diusir secara kasar oleh Gunawan
"Tidaak ... Ini tidak mungkin! Papa tidak mungkin menyuruh kita untuk pergi dari sini! Kita mau tinggal di mana, Sherly!!" teriak Sinta sembari berlari ke arah tas dan beberapa barang miliknya juga milik Sherly.
"Boneka Teddy Sherly mengapa ada di luar, Ma? Apa opa marah dengan kita, hingga kita suruh tidur di luar?" ucap Sherly polos. Dia belum mengerti maksud dari semua.
Sinta tidak menjawab pertanyaan sang anak. Baginya hal yang paling pentinga adalah di mana dia akan tinggal bersama anak perempuannya yang masih kecil. Sinta berdiri kembali lalu berlari ke arah pintu dan menggedor-gedor pintu itu lagi.
Prak!
Prak!
"Papa ... Jangan begini, Pa. Sinta dan Sherly akan tinggal di mana? Apa papa tidak kasihan pada kami berdua? Tolonglah, Paa. Jangan begini, Sinta minta maaf pada papa. Sinta berjanji tidak akan mengulang kembali kesalahan Sinta!" teriak Sinta pada sembari menggedor pintu.