Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab. 123


Di Universitas Lampung.


Event Malam Anugerah Mahasiswa Berprestasi.


"Hai, Clara. Cantik sekali hari ini, bagaimana kabarmu?" sapa Raiyanza sosok mahasiswa yang juga menjadi idola kampus tersebut.


Baik Raiyanza ataupun Clara adalah dua orang mahasiswa yang sama-sama berprestasi. Malam ini adalah malam penobatan mahasiswa paling berprestasi, baik Clara dan Raiyanza saling berlomba untuk mendapatkan gelar tersebut.


Merupakan suatu kebanggaan bisa menjadi mahasiswa paling berprestasi, selain mendapatkan mahasiswa untuk melanjutkan studi S2 di luar negeri juga akan menjadi duta kampus ternama.


"Maaf, kamu juga terlihat tampan," jawab Clara dengan hati yang berdebar tidak karuan. Clara sebenarnya menaruh hati pada Raiyanza, akan tetapi Clara terlalu takut untuk menunjukkan cintanya.


"Terima kasih, malam ini adalah malam anugerah mahasiswa paling berprestasi. Salah satu di antara kita akan duduk di kursi itu. Clara apakah kau tidak merasa deg-degan?" Raiyanza mulai mencoba mencairkan suasana yang tegang di antara keduanya.


"Mm ... Ya, tentu saja aku merasa deg- degan juga. Aku sudah pasrah siapapun di antara kita yang menang pasti itu yang terbaik," timpal Clara dengan senyum manisnya. Rambut panjang dengan poni di dahi dan bando pita di atasnya membuat Clara terlihat sangat imut.


Raiyanza tertegun. Jawaban Clara sedari tadi biasa -biasa saja. Berbeda dengan para mahasiswi yang lain, jika ia ajak bicara maka akan berebut mencari perhatiannya. Raiyanza adalah mahasiswa idola para mahasiswi di kampus itu.


"Apakah kau mau bertaruh dengan ku?" tanya Raiyanza memancing Clara.


Clara menoleh ke arah Raiyanza lalu bertanya, "Maksudmu bertaruh apa, Ray?" tanya Clara dengan alis berkerut.


"Ya, hanya untuk seru-seruan saja. Tapi kalau kamu tidak mau ya tidak apa-apa. Aku hanya ingin tahu apakah kau memang seperti yang dikatakan teman-teman yang lain, bahwa kau mahasiswi dingin dan angkuh," cibir Ray.


Clara mengernyitkan dahinya, dia tidak menyangka kalau dirinya mendapat julukan si dingin dan angkuh. Untuk menghindari julukan itu, Clara pun menyanggupi taruhan yang diberikan oleh Ray.


"Baiklah, aku akan bertaruh dengan mu," tandas Clara. Dia tidak ingin teman -temannya menjuluki dirinya si dingin dan angkuh.


Ray menyeringai dia mendapatkan apa yang ia mau. Dengan senyum yang dipaksakan, Ray mendekati Clara, jarak mereka kini hanya tinggal 15 cm saja.


"Okey, Clara. Kita taruhan. Jika kau yang terpilih menjadi mahasiswa paling berprestasi, maka kau harus menuruti semua kemauanku dan harus mau menjadi kekasihku. Tapi jika aku yang terpilih menjadi pemenangnya maka aku akan menuruti semua kemauanmu, apa yang kau inginkan maka aku akan menurutinya. Bagaimana?" ucap Ray menjelaskan apa yang harus mereka lakukan jika salah satu di antara mereka menang.


Clara berpikir sejenak, sepertinya taruhan itu adil. Dengan mengambil napas dalam-dalam, Clara mengangguk dan menyanggupi tantangan itu.


"Baiklah, aku setuju!"


"Okey, Deal?!"


"Deal!"


Keduanya pun sepakat untuk bertaruh. Mereka juga sudah setuju dengan konsekuensi yang harus mereka terima baik menang atau kalah. Teman-teman mereka menjadi saksi akan taruhan yang mereka lakukan.


Tidak berapa lama kemudian, acara pun dimulai. Clara berharap cemas bahwa dirinyalah yang akan menjadi mahasiswa pilihan kampus.


Begitu juga halnya dengan Rapi, dia juga sangat berharap bisa mendapatkan beasiswa S2 ke luar negeri dan bisa menjadi duta kampus.


Acara pun dimulai, pengumuman siapa yang menjadi mahasiswa pilihan pun segera dibacakan oleh sang rektor kampus. Semua mahasiswa pun terdiam, suasana menjadi tegang.


"Pada malam ini akan kami umumkan siapa yang terpilih menjadi mahasiswa paling berprestasi. Semua sudah bersiap?!" ucap sang rektor menambah suasana semakin tegang. Terutama Ray dan Clara, keduanya berdoa dalam hati bahwa namanya akan keluar sebagai mahasiswa pilihan.


"Mahasiswa paling berprestasi untuk tahun ini adalah ... Clara Angelisya." sang Rektor mengumumkan siapa yang terpilih menjadi mahasiswa paling berprestasi tahun ini.


"Wuuu ... Yeee ... Clara pemenangnya ...!" Pekik teman -teman yang mendukung Clara. Walau sedikit akan tetapi mereka sangat mendukung Clara. Sebab, dengan begitu maka kelas mereka akan menjadi kelas unggulan.


Clara pun maju naik ke podium untuk menerima penghargaan itu, sekaligus untuk memberikan kata-kata mutiara motivasi bagi mahasiswa lain. Raiyanza yang melihat dirinya kalah pun mengepalkan kedua telapak tangannya. Dia tidak suka kekalahan, apalagi kalah dengan wanita yang tidak ada apa-apa nya dibandingkan dengan diri Raiyanza.


"Arrgh! Sialan ... Ternyata yang menang bukan aku! Impianku untuk mendapatkan beasiswa S2 di luar negeri hangus sudah. Baiklah, aku tidak dapat maka kau pun juga tidak dapat pergi ke sana!" Raiyanza menyeringai, giginya bergemelutuk menahan amarah. Dia sangat kesal karena impiannya untuk bisa ke luar negeri harus gagal.


Setelah selesai semua mahasiswa memberi semangat pada Clara maka Raiyanza pun mendekat ke arah Clara. Dia berkata dengan lantang di tengah-tengah teman yang lain.


"Teman -teman semua, aku ucapkan selamat untuk Clara yang sudah menjadi mahasiswa pilihan. Tapi ... Aku mau mengingatkan pada Clara tentang taruhan kami. Kami bertaruh bahwa apabila Clara yang menang maka Clara harus menuruti semua kemauanku dan menjadi kekasihku. Dan sebaliknya apabila Aku yang menang maka aku yang aku menuruti kemauannya."


Semua menatap ke arah Clara dan Raiyanza. Para mahasiswi seakan iri karena Clara akan menjadi kekasih dari lelaki yang menjadi idola kampus itu. Ketampanan dan kecerdasannya tidak diragukan lagi.


Hati Clara pun berdebar tidak karuan, sesungguhnya dia juga sangat berharap jika Raiyanza menjadi kekasihnya.


"Jadi ... Clara, kau harus menjadi kekasihku dan menuruti semua keinginanku malam ini. Bagaimana Clara?" ucap Raiyanza lagi. Para mahasiswi histeris karena tidak hari ini akan menjadi hari patah hati nasional bagi mereka. Sang idola sudah sah menjadi kekasih Clara.


Clara pun tertunduk malu, dia tidak menyangka kalau malam ini Dewi keberuntungan berpihak padanya. Semua mahasiswa ys g ada di gedung itu pun mengelukan nama Clara dan Raiyanza. Bagi mereka keduanya adalah pasangan yang sangat serasi.


"Terima ... Terima ... Terima ..!!"


Teman -teman Clara memberi semangat Clara untuk menerima Raiyanza sebagai kekasih Clara.


"Baiklah, aku terima Raiyanza sebagai kekasihku," ucap Clara polos. Dia mengira ucapannya itu sebagai jawaban atas taruhan yang Raiyanza berikan. Namun, Clara tidak tahu jika kata-katanya itu justru membuat Rai semakin benci dengan Clara. Kata-kata Clara bagi Rai adalah suatu penghinaan untuknya.


Rai yang biasa dikejar -kejar oleh wanita, harus mengejar wanita. Demi apapun, hati Rai tidak terima dengan semua ini. Dia akan balas dendam dengan wanita yang telah membuat Harag dirinya hancur.


"Terima kasih, Clara. Sekarang kita sudah resmi jadi sepasang kekasih. Malam ini biar aku yang mengantarmu pulang," ucap Rai dengan senyum misterius. Entah apa yang direncanakan oleh Rai.


Clara tersenyum dan mengangguk. Dia harus menuruti keinginan Rai karena Clara terikat dengan janjinya.


"Baiklah, malam ini aku pulang dengan mu," jawab Clara menerima uluran tangan Rai. Mereka pun akhirnya pulang bersama. Clara dan Rai pulang dengan menggunakan mobil milik Rai, karena Clara hanya antar jemput sang sopir.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, di dalam mobil itu Rai terus melancarkan rayuannya pada Clara.


Clara yang baru pertama dekat dengan lelaki pun termakan rayuan gombal dari Rai. Segala janji palsu Rai ucapkan untuk membuat Clara semakin terpikat dengan pesona Rai.


"Aku berjanji padamu, Clara. Aku akan membawa hubungan kita ini menuju ke jenjang pernikahan. Jika kau menjadi istriku maka aku akan sangat bahagia. Memiliki istri yang cantik dan cerdas adalah idaman setiap lelaki," ucap Rai sembari mengemudikan mobilnya.


"Kau bisa saja, Rai. Kata-kata mu membuatku terbang ke awan," sahut Clara.


Rai tersenyum sinis, jawaban yang diberikan oleh Clara rata -rata diucapkan oleh gadis yang bisa ia ajak kencan.


"Benarkah, apakah kau mau aku ajak ke tempat yang bisa membawamu terbang ke awan?" tanya Rai pada Clara yang masih lugu.


"Kau mau mengajakku kemana?" tanya Clara penasaran.


"Ada tempat yang indah, dimana kau akan merasa seperti berada di awan. Bagaimana, apa kau mau ikut?"


"Tapi ini sudah malam, Rai. Aku tidak bisa pulang malam. Papa pasti mencariku," tolak Clara.


"Ini kan hari kemenangan mu, kau bisa bilang pada papamu kalau kau menginap di rumah teman mu. Mudahkan? Ayolah ... Kau belum pernah bersenang-senang bukan? Sekali saja rasakan bagaimana rasanya merasakan hidup bebas tanpa rutinitas belajar yang membosankan itu," bujuk Rai.


Clara terdiam memikirkan apa yang diucapkan Rai boleh dicoba. Selama ini dia telah tekun belajar, belum pernah merasakan kebebasan masa mudanya.


"Baiklah, aku akan mencobanya. Tapi bagaimana aku ijin dengan papa?" ucap Clara bingung bagaimana ia harus bilang pada sang ayah.


"Tidak susah. Aku bisa kirim pesan ke ayahmu, kalau kau menginap di rumah temanmu," ucap Rai terus membujuk Clara.


Clara tersenyum membenarkan apa yang dikatakan oleh Rai. "Baiklah, kau bantu aku dengan mengirim pesan pada papa ku," ucap Clara.


"Oke. Don't worry. Everything Will be okey," ucap Rai sembari mengedipkan matanya.


Clara dan Rai pun akhirnya menuju ke suatu tempat yang baru pertama kali Clara berkunjung. Mobil Rai melaju dengan kencang, hingga tidak butuh waktu lama mereka akhirnya sampai di sebuah villa yang berada di puncak bukit. Villa milik keluarga Rai.


"Wow ... Indah sekali, kita benar-benar seperti berada di awan. Bisa melihat pemandangan malam yang indah, kelap-kelip lampu seperti bintang yang bertaburan," puji Clara saat sampai di Villa Rai. Mereka berdua saat ini sedang berada di balkon.


"Benar, di sinilah kami sekeluarga sering menghabiskan waktu bersama. Menatap indahnya pemandangan alam dan merasakan udara dingin di malam hari," sahut Rai yang berdiri di samping Clara.


"Tuan muda, teh hangat dan kopi untuk nona dan Anda. Silakan, Tuan." Seorang maid menghidangkan minuman untuk Clara dan Rai.


"Terima kasih, Mbak. Ini yang selalu membuatku rindu untuk selalu datang ke mari," jawab Rai menyambut nampan yang dibawa sang maid dengan senyum penuh misterius.


"Sama-sama, Tuan. Baiklah saya permisi dulu." Maid itu pun pergi meninggalkan Rai dan Clara berdua di balkon.


"Clara, cobalah teh hangat ini. Teh ini akan menghangatkan tubuhmu yang dingin," ucap Rai memberikan secangkir teh untuk Clara.


"Terima kasih, Rai. Aku banyak mengucapkan terima kasih kau sudah membawaku ke tempat yang indah. Pemandangan alam di sekitar sini membuatku merasa tenang. Udaranya sangat sejuk, aku belum pernah merasakan berpetualang di daerah pegunungan seperti ini," ucap. Lara dengan wajah yang bersemu merah.


"Kau adalah kekasihku, sudah sepatutnya aku membahagiakan mu," timpal Rai.


Clara tersenyum menerima secangkir teh dari sang kekasih. Udara dingin yang menusuk tulang, membuat Clara meminum teh dengan perlahan. Rasa hangat merasuk ke tubuh Clara.


"Rai, teh ini sangat harum dan enak. Apakah ini teh pegunungan sini?" tanya Clara memuji teh yang diberikan oleh Rai.


"Benar sekali, teh ini produksi pabrik papa. Banyak diekspor sampai luar negeri. Villa ini dibangun karena ayah ingin kami bisa merasakan hidup di pegunungan. Apakah kau suka tempat ini?" Rai menatap Clara yang mulai merasakan tubuhnya tidak nyaman.


Rai tersenyum melihat tubuh Clara mulai berubah. "Rai, mengapa aku mulai merasa gerah dan tidak nyaman seperti ini," ucap Clara sembari mengusap lengannya sendiri.


Rai menyeringai, lalu perlahan mendekati tubuh Clara. "Kamu kenapa Clara?" Rai pura-pura membantu Clara yang mulai merasakan tidak enak tubuhnya.


"Entahlah, Rai. Aku juga tidak tahu," keluh Clara. Tubuhnya menggigil hebat. Rai pun dengan senang hati membopong tubuh Clara menuju ke tempat peraduan yang biasa ia gunakan bersama teman wanitanya.


Malam itu menjadi malam yang akan menjadi awal kehancuran hidup Clara.


"Rai ... Apa yang telah kita lakukan!" pekik Clara yang mendapati tubuhnya tanpa sehelai benang pun.


"Kamu tidak ingat apa yang sudah kita lakukan semalam? Kalau aku cerita pun, kau pasti tidak akan percaya. Untuk itu, aku perlihatkan video kita," ucap Rai beranjak dari tempat tidur untuk mengambil ponselnya.


Clara sangat terkejut melihat adegan yang belum pernah ia lihat, dan di dalam video itu aktris utamanya adalah dirinya sendiri.


"Rai, benarkah itu aku?" tanya Clara sembari menutup mulutnya dengan tangan.


"Siapa lagi, kau lihat sendiri bukan kalau kau yang telah memaksaku untuk melayanimu," ucap Rai berbohong. Dia memang sengaja ingin membuat Clara yang memaksa dirinya.


Clara pun akhirnya menangis sesenggukan. Mahkota yang selama ini ia jaga telah hilang.


"Rai ... Bagaimana ini? Aku sudah tidak suci lagi. Aku takut hamil, Rai ...." ucap Clara sambil sesenggukan.


"Tenang, Clara. Aku akan bertanggung jawab jika kamu hamil. Sudah aku katakan kalau aku sangat mencintaimu dan akan menjadikan mu istriku," ucap Rai sembari memeluk Clara.


Clara pun akhirnya bisa tenang, lalu meminta Rai untuk mengantarnya pulang. Sesampai di rumah, Clara terus mengurung dirinya. Bayangan adegan dirinya yang begitu liar di video itu terus berseliweran di ingatannya.


"Apa yang harus aku banggakan jika apa yang seharusnya wanita jaga dan lindungi telah hilang? Bagaimana jika aku sampai hamil, bagaimana masa depanku?" Clara menangis menyesali perbuatannya.