Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab 40


Hans hanya terdiam, tubuhnya yang masih lemah. Dokter melarang untuk tidak banyak bergerak dan berpikir keras. Penyakit lambung memang tidak diijinkan untuk stress dan kelelahan.


Tangan pak Toni dengan lincah mengemudikan mobil itu hingga sampai di rumah Hans.


"Nyonya, maaf. Saya tidak tahu rumah sakit mana wanita itu dirawat. Tadi yang membawa wanita itu adalah tukang parkir bank," jawab pak Toni sembari melepas safety beltnya.


Hans melirik Tia yang terlihat dari wajahnya kekhawatiran akan sesuatu hal. Mata indah Tia mengerjap untuk meredam rasa khawatirnya. Bulu mata lentik Tia ikut bergerak naik dan turun, membuat Hans yang melirik Tia terkesima.


"Ternyata wajah Tia jika dilihat dari dekat cantik juga, selama ini aku tidak memperhatikannya dengan baik, hingga tidak sadar ada berlian di rumah itu, bukan besi yang disepuh menjadi emas," gumam Hans sembari terus memerhatikan Tia.


Tidak lama kemudian, Hans dan Tia turun dari mobil, mereka disambut oleh Ningsih. Selama ini Ningsih dijaga oleh Marni-istri pak Toni saat Tia menjaga Hans di rumah sakit.


"Assalamu 'alaikum, Bu," sapa Hans kemudian mencium tangan sang ibu.


"Wa'alaikum salam, Hans. Syukurlah sudah sembuh dan lebih bugar sepertinya, pasti ini tidak lain dan tidak bukan karena Tia yang selalu merawat mu dengan baik. Benar begitu, Tia?" Ningsih memuji wanita yang selama ini tulus merawat Hans.


"Ibu bisa saja, Tia hanya membantu perawat menjaga mas Hans saja," ucap Tia tanpa sadar mengganti panggilan pada Hans dari Kak menjadi mas.


Ningsih tersenyum dengan mata berbinar dia berkata, "Wah, syukurlah kalau Tia sudah bisa menerima Hans, terbukti dari berubahnya sebutan panggilan, dari kakak menjadi mas. Ayo, kapan kalian akan segera menikah!" Ningsih sangat antusias hingga dia lupa kalau belum mengajak masuk Hans dan Tia.


"Bu, biarkan kami masuk terlebih dahulu, badanku masih lemah dan butuh banyak istirahat," gerutu Hans seperti anak kecil yang sedang bermanja.


"Oh iya, ibu lupa. Ayo masuk," ajak Ningsih pada Hans dan Tia.


Tia tersipu malu, dia mendadak grogi di depan Bu Ningsih.


"I ... Iya, Bu," jawab Tia dengan menunduk karena malu.


Sementara itu di rumah sakit.


"Dok, kita harus secepatnya melakukan kuretase pada pasien ini. Kehamilan pasien ini tidak bisa dipertahankan lagi. Semakin besar maka akan semakin berbahaya," ujar dokter kandungan pada dokter bedah.


"Janinnya tidak ada, sedangkan plasentanya berkembang dan sudah melekat di dinding rahim. Jika kita ambil pastilah dinding rahim pasien akan terluka. Resikonya kehilangan satu indung telur. Apakah keluarga pasien sudah dihubungi? Tanpa persetujuan mereka kira tidak bisa gegabah," tandas sang dokter bedah.


"Pihak keluarga sudah dihubungi, kata petugas sebentar lagi akan datang. Kita tunggu suaminya saja, Dok. Kita tidak bisa mengambil keputusan begitu saja. Takut jika pihak keluarga menuntut kita melakukan tindakan tanpa seijinnya," jawab sang dokter kandungan.


Tidak lama kemudian, datanglah seorang suster membawa seorang lelaki masuk. Dengan tergesa, suster itu menghampiri para dokter yang sedang bermusyawarah dalam mengambil tindakan pada kandungan Wulan.


"Permisi, Dok. Tuan ini adalah suami dari pasien. Silakan, Tuan," ucap sang suster meninggalkan Ridho untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai Wulan.


"Dengan suami pasien?" tanya sang dokter kandungan.


"Benar, saya Ridho suami dari pasien. Bagaimana keadaan istri saya, Dok?"


Ridho menjabat tangan para dokter, kemudian mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh sang dokter.


"Tuan, istri Anda harus dioperasi secepatnya. Jika Anda menyetujuinya maka silakan tanda tangan,"pinta sang dokter.


Ridho membulatkan matanya, apa yang dikatakan oleh dokter sebelumnya ternyata benar. Semua dokter sudah memvonis bahwa tidak ada kehidupan di dalam kandungan Wulan. Untuk itu perlu diambil dan dibersihkan.


"Dok, apakah operasi ini aman bagi rahim Wulan? Atau ada risikonya?" tanya Ridho dengan wajah yang serius, senyum telah hilang dari bibirnya.


Sang dokter mengambil napas dalam-dalam, walaupun berat semua harus disampaikan pada pasiennya.


"Tentu ada, Tuan. Akibat dari terlalu lama dibiarkan tumbuh maka kantung janin itu sudah menempel kuat dinding rahim, akibatnya terpaksa harus diambil dan dibersihkan rahimnya," jelas sang dokter yang sulit dipahami oleh Ridho.


"Ya sudah, Dok. Lakukan yang terbaik untuk istri saya. Mana berkas yang harus saya tanda tangani, Dok?" ucap Ridho pasrah pada keputusan dokter untuk kebaikan istrinya. Dia pun segera menandatangani berkas yang diberikan oleh sang dokter.


Ridho meninggalkan IGD, bersama para dokter dan suster mereka membawa tubuh Wulan menuju ke ruang operasi. Ridho menunggu di ruang tunggu.


Keringat dingin membasahi dahi Ridho, perasaan takut dan khawatir akan keadaan sang istri menderanya. Walaupun dia kecewa dan kesal pada Wulan, tidaklah menjadikannya tidak peduli pada sang istri.


"Maaf, Tuan. Ini tas istri Anda. Ki temukan di samping tubuh istri Anda sewaktu pingsan tadi," ucap tukang parkir yang menghampiri Ridho.


Ridho menerima tas itu kemudian mengucapkan terimakasih pada sang tukang parkir.


"Terimakasih, Pak. Dan ini untuk sekadar ganti ongkos pulang bapak," ucap Ridho memberikan dua lembar uang seratus ribu.


Tukang parkir itupun tersenyum menerima pemberian Ridho. Ia pun pamit untuk kembali ke bank tempatnya bertugas.


Ridho menghela napas dalam-dalam, matanya melirik ke arah lampu ruang operasi yang masih menyala. Kepala Ridho berdenyut, berita yang dia terima begitu mendadak hingga ia lupa untuk makan.


Hari sudah menginjak malam, operasi sudah berjalan selama hampir dua jam. Melebihi waktu yang estimasikan oleh sang dokter. Wajah Ridho makin kusut, kedua tangannya memijat pelipis untuk mengurangi sakit kepalanya.


Lampu operasi pun padam, pertanda operasi telah selesai. Ridho mendongak, kemudian menyugar rambutnya untuk merapikan penampilannya. Dokter pun keluar dari ruangan. Ridho beranjak dari duduknya kemudian menghampiri sang dokter.


"Dok ... Bagaimana keadaan istri saya, Dok?"