Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
MMSP2. Bab. 79.


Merlyn terus meronta, akan tetapi tenaganya tidak cukup untuk melawan petugas kepolisian yang berbadan kekar. Kedua polisi itu membawa paksa Merlyn masuk ke dalam sel tahanan.


"Nona, bekerjasama lah. Tunggu sampai pengacara Anda datang untuk membela Anda. Kasus ini akan digelar di pengadilan negeri. Bersiaplah Anda untuk menghadapi semua," ucap salah satu petugas yang melepaskan borgol Merlyn.


"Dengarkan aku, Pak polisi! Aku akan memenangkan kasus ini! Tidak akan aku biarkan kalian semua menari di atas lukaku!" teriak Merlyn di balik jeruji.


"Heh! Anak baru kau tidak usah berteriak! Apa kau sudah punya nyali untuk melawan kami?!" ucap salah satu wanita berambut pendek, bertubuh gembul, dan memiliki tato di kedua lengan atas.


Glek!


Merlyn terdiam seketika saat dua tangan kasar sudah menarik kasar rambutnya.


"Apa yang kau lakukan?! Sakiiit ..!!" teriak Merlyn meronta. Dia tidak tahu bagaimana preman wanita di negara +62 ini.


Wanita preman itu tidak mendengar teriakan Merlyn. Dia menyeret tubuh Merlyn agar menjauh dari jeruji besi. Preman wanita itu sangat terganggu dengan teriakan Merlyn.


"Sudah aku katakan jika aku tidak suka kau berteriak, Bule!!" jawab Preman wanita itu dengan teriakan juga.


Terjadilah pergumulan seru antara Merlyn dan Preman wanita yang sudah terlebih dahulu berada di dalam sel tahanan itu.


Tidak ada petugas yang memisahkan mereka. Merlyn yang tidak mau kalah karena sudah jadi sifatnya yang tidak mau kalah, membuat tubuhnya babak belur, lebam dan sudut bibirnya mengeluarkan da rah.


Kedua wanita itu sama-sama duduk menahan lelah. Tenaga mereka berdua sama-sama terkuras.


Sementara itu, Tia membawa Hans untuk pulang. Mengingat sang anak juga baru sakit.


"Mas, kita pulang saja dulu ya, Hasan sedang sakit. Badannya demam, kata dokter kemungkinan terkena radang tenggorokan. Buat makan dan menelan ludah saja sakit," ucap Tia duduk di belakang bersama Hans. Mereka berdua naik taksi online karena Tia tidak membawa mobil, mobilnya digunakan untuk mengantar Hasan dan mbak Yuni pulang.


"Iya, Sayang. Terimakasih kau sudah datang untuk menyelamatkan ku. Tindakan mu sangat hebat, luar biasa. Sungguh tidak aku sangka jika istri mas yang lembut ini memiliki keberanian dan tahtik yang patut diacungi jempol. Kau benar-benar luar biasa, Sayang! Aku bersyukur Allah menjodohkan kita. Berbagai ujian dan cobaan rumah tangga yang datang mampu kita hadapi dengan baik," ucap Hans merebahkan kepala Tia di bahunya.


Tangan kekar yang akan selalu dia jaga agar jangan memegang tangan wanita lain. Sudah cukup Tia merasakan kebodohan, merelakan apa yang ia punya hanya karena rasa tidak enak pada saudara.


"Semoga keluarga kita bisa menjadi keluarga sakinah mawadah wa Rahmah. Walau untuk menuju semua itu banyak ujian yang kita hadapi. Oh ya, mengapa Aris hari ini tidak masuk ke kantor? Bukannya masih dua hari lagi dia mengambil cuti?" tanya Hans pada Tia. Siapa tahu Tia tahu alasan Aris tidak masuk ke kantor.


"Benarkah? Malah aku tidak tahu jika hari ini Aris tidak masuk kerja lho, Mas." Tia menatap wajah sang suami melihat apakah suaminya tahu apa yang terjadi pada Aris.


"Kalau mas tahu, mas tidak akan bertanya pada mu, Sayang. Seharusnya sudah jadi tugas Aris untuk meeting dengan tuan Vian. Semua berkas masuk ke mejanya. Mas tadi hanya mengganti saja, dan kebetulan tuan Vian meminta mas yang menemuinya."


"Kemana anak itu? Devi juga tidak memberi kabar apapun, semoga mereka baik-baik saja. Tidak biasanya Aris tidak masuk tanpa ijin terlebih dahulu," ucap Tia sembari men-scrol status milik Aris maupun Devi. Namun keduanya tidak ada satupun yang membuat story di WA.


"Kamu mencari apa, Sayang?" tanya Hans terheran dengan apa yang dilakukan sang istri yang menaik turunkan story WA nya.


"Ini lho, Mas. Biasanya Devi dan Aris membuat status story di WA. Tapi mengapa hari ini tidak ada status satu pun. Malah dua-duanya tidak bikin sama sekali," jawab Tia masih sibuk dengan ponselnya.


"Mungkin keduanya masih sibuk, jadi tidak ada waktu untuk memposting apapun," jawab Hans menenangkan sang istri.


Tia masih belum puas dengan jawaban sang suami. Hatinya masih penasaran dengan apa yang terjadi pada adik dan adik iparnya itu.


Tia melanjutkan pencariannya di media sosial yang lain. Baik IG ataupun FB milik Aris dan Devi. Siapa tahu ada petunjuk dari sana.


Akun milik Devi sudah Tia buka, dia perlahan membaca semua yang di-posting oleh Devi. Alangkah terkejutnya Tia membaca postingan yang dibuat oleh Devi. Tia tidak menyangka jika adik iparnya itu akan memposting semua yang Tia lakukan saat pergi bersama Devi.


Hati Tia tercubit saat membaca salah satu postingan Devi yang seakan mengatai dirinya sebagai seorang istri yang suka menghamburkan uang milik sang suami.


Saat di mall itu pun tidak luput dari jemari Devi yang mengemas semua menjadi suguhan yang menarik dan menimbulkan banyak like. Namun, bukan sifat baik Tia yang di-posting melainkan sikap buruk Tia. Tangan Tia bergetar memegang ponselnya. Membuat Hans bertanya tentang spa yang terjadi pada Tia.


"Sayang, kamu kenapa?"