Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab. 189


Sementara itu di rumah sakit Lampung. Luna setelah dipecat dari pekerjaannya, Luna bertolak ke Lampung. Dia memiliki tujuan untuk bertemu dokter yang telah mengoperasi wajahnya.


Luna menemui dokter Arfa di klinik. Dengan memakai masker karena tidak ingin ada orang yang melihat wajahnya tanpa riasan, Luna masuk ke dalam ruangan kerja dokter Arfa setelah turut mengantre seperti pasien lainnya.


"Dokter, kau masih ingat aku, kan?" Luna membuka maskernya. "Aku Wulan, pasien yang pernah kau operasi dulu."


Dokter Arfa menganggukkan kepala. "Ya, aku tahu. Ada keperluan apa lagi? Kalau tidak penting, aku tidak bisa menemuimu lebih lama karena masih ada pasien yang menungguku." Dokter Arfa yang sudah merasa tidak punya urusan dengan Wulan berdasar tanda tangan sang ayah di atas meterai di surat pernyataan yang ia buat.


"Tolong buat wajahku kembali cantik seperti dulu," pinta Wulan dengan nada suara yang lirih.


Dokter Arfa menghela napas panjang. "Maaf, aku tidak bisa melakukan operasi pada wajahmu lagi. Kerusakan andomen di kulitmu, sudah tidak bisa dikembalikan. Lagipula, butuh biaya yang besar untuk melakukan operasi."


"Aku punya uang." Wulan merogoh tasnya dan mengeluarkan amplop cokelat yang kemarin diberikan oleh Wulan padanya sebagai pesangon. Dia menunjukkan uang itu ke hadapan Dokter Arfa, berharap bisa mengubah wajahnya kembali.


Dokter Arfa menyeringai. "Uang yang kau miliki, tidak ada apa-apanya. Tidak cukup sama sekali bahkan untuk melakukan pemeriksaan pun. Maaf, aku harus pergi."


Dokter Arfa bangkit dan keluar dari ruangannya, disusul oleh Wulan yang memohon dengan kedua gangan yang mengatup di dada. "Aku mohon, tolong bantu aku sekali ini saja."


Wulan bersimpuh di lantai, memohon pada Dokter Arfa. Namun, pria itu tidak bergeming. "Dengar, Wulan. Aku sudah mencobanya, tapi kau lihat sendiri hasilnya, kan? Wajahmu memang tidak bisa dikembalikan seperti dulu. Maaf, aku pergi."


Wulan menangis, terus memohon pada Dokter Arfa sampai membuat semua perawat dan pasien yang berada di sekitar mereka pun memandang dengan penuh kebingungan. Dokter Arfa berteriak memanggil pihak keamanan untuk menjauhkan Wulan secara baik-baik dari hadapannya.


"Dok ... Please aku mohon, jangan begitu. Aku ingin wajah ini terlihat sempurna lagi. Aku akan bayar semua," ucap Wulan setengah berteriak. Berharap dokter Arfa mau membantu dirinya.



"Security! Cepat kalian bawa wanita gila itu! Aku tidak mau sedikitpun terganggu olehnya!" teriak dokter Arfa yang sudah lepas dari tanggung jawabnya pada Wulan sesuai dengan isi perjanjian antara ayah Wulan dan dokter Arfa.



"Baik, Tuan! " jawab dua orang security yang berhasil dipanggil oleh dokter Arfa. Kedua security itupun berhasil membawa Wulan keluar dari ruangan dokter Arfa.



Selama kejadian itu, seorang pria bertopi pun pergi dari klinik tersebut dan mengeluarkan ponsel, menghubungi seseorang.


"Hallo, Nyonya. Perempuan itu menangis, memohon untuk dilakukan operasi plastik pada dokter. Dan, dokter menyebut wanita itu dengan nama Wulan," ucapnya melalui sambungan telepon.


Mata Tia membelalak sempurna mendengar penuturan yang disampaikan oleh orang utusannya untuk mengikuti mantan baby sitternya itu. "Kau sudah mengambil buktinya?" seru Tia dengan suara tertahan. Dia tidak ingin suaranya membangunkan sang suami yang tengah tertidur setelah mendapatkan haknya dari Tia.


"Sudah. Foto dan video. Hanya beberapa saja karena di sini cukup ramai," jawab pria bertopi putih itu. Dia adalah orang suruhan Tia yang di dapat dari sang ayah.


Tia menganggukkan kepalanya. "Bagus, kirimkan semua foto dan video itu kepadaku secepatnya. Baiklah, terima kasih."


Tia tidak menyangka jika orang yang beberapa hari terakhir ini ternyata Wulan, kakaknya yang pernah menghancurkan hidupnya dahulu. Tia juga tidak menyangka jika Luna yang dikenalnya ternyata hanyalah sebuah nama samaran.


Setelah beberapa jam menenangkan diri, Tia berpikir untuk melakukan pembalasan dendam pada wanita yang menjadi mantan kakak tirinya itu. Dia menghubungi nomor telepon dengan nama kontak Luna. Tia sengaja mengambil liburan di sebuah pantai di Lampung. Nama pantai itu adalah pantai Kiluan. Sebuah pantai berpasir putih yang indah, di sana bisa ditemui ikan lumba-lumba.


Tia mengambil ponselnya lalu menekan nomer Luna.


"Baik, Nyonya. Saya akan segera ke sana," ucap Luna datar. Luna merasa heran mengapa dia bisa tahu kalau dirinya ada di Lampung. Namun hal itu tidak menjadi beban pikirannya. Dia berpikir mungkin ada temannya yang memberi tahu Tia.


Siang itu, mumpung Hans masih tidur. Tia segera bergegas menuju cafe tempat pertemuan mereka, begitu juga dengan Wulan yang baru saja sampai di rumah kontrakannya. Wulan merias wajahnya kembali sebagaimana peran Luna yang dia mainkan.


Setelah selesai berhias, Wulan memesan ojek online dan pergi ke tempat pertemuan. Di sana, Tia sudah menunggu di dalam satu meja luar cafe. Wulan menghampiri dengan sopan sebagaimana menjadi Luna.


Tia mengangkat tangan kanannya ke atas, mempersilakan Wulan untuk duduk di kursi berhadapan dengannya.


"Ada apa, ya, Nyonya?" tanya Wulan dengan nada suara yang sopan. Dia berharap Tia mau menerima kembali dirinya sebagai baby sister.


"Tidak usah berpura-pura lagi," ucap Tia sembari melipat kedua tangannya di atas dada.


Pertanyaan itu membuat kening Wulan mengernyit. "Maksud Nyonya?"


"Aku sudah tahu semuanya, Kak Wulan."


Mata Wulan seketika membelalak dengan sempurna. Dia terkekeh sembari mengalihkan pandangan ke arah lain. "Apa yang dimaksud oleh Nyonya? Saya tidak mengenal nama Wulan."


Tia terkekeh mendengar sanggahan dari Wulan. Dia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sesuatu ke hadapan wajah Wulan. "Ini kau dan Dokter Arfa. Masih bisa mengelak?"


Wulan terlihat panik. Kapan Tia mendapatkan foto itu, pikirnya dalam hati. Tia kembali menggulir ponsel dan menunjukkan sebuah cuplikan video singkat yang menunjukkan saat Wulan memohon pada Dokter Arfa untuk mengubah wajahnya kembali menjadi cantik.



"Tidak, itu bukan aku. Nyonya tidak lihat, wajah wanita itu saja tidak terlihat dan ada bekas luka besar di sana. Lihatlah wajahku, tidak ada bekas luka, kan?" Wulan menggerakkan wajahnya ke samping kiri dan kanan.



Tia terkekeh melihat itu. "Ya, karena kau memakai riasan tebal untuk menyembunyikannya. Aku sudah pernah melihatmu ketika menghapus riasan. Ada luka bekas pecahan kaca yang membuatku yakin kalau kau adalah Kak Wulan. Ditambah dengan bukti-bukti ini. Apa kau masih mau mengelak?"


Wulan mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. "Lalu, kau mau apa?"


Tia sedikit terkejut melihat raut wajah wanita yang ada di hadapannya itu sudah berubah, menunjukkan tabiat yang sebenarnya seperti dahulu. Dia mengambil ponsel dan memasukkannya ke dalam tas, lalu bangkit dan membungkukkan setengah tubuhnya ke hadapan Wulan.


"Kau masih bisa hidup dengan tenang setelah menghancurkan hidupku? Aku tidak menyangka, kau sampai berani masuk kembali ke kehidupanku dan menyamar menjadi baby sitter. Apa yang kau pikirkan?" Tia tidak bisa menahan amarahnya.


Wulan turut bangkit dan mengacungkan jari telunjuknya ke hadapan Tia. "Kau sendiri bahagia di atas penderitaanku. Jadi, siapa yang jahat di sini, hah? Kau!"


Tia terperangah mendengar tuduhan yang dilayangkan oleh Wulan. Bisa-bisanya Wulan menuduhnya sebagai orang jahat. "Setelah yang kau lakukan, kau masih tidak merasa menjadi orang jahat?"



Wulan mengalihkan pandangan ke arah lain. Dia tidak ingin mengakui kesalahannya pada Tia di masa lalu. Baginya, Tia yang sudah menghancurkan hidupnya sampai seperti ini. Deru napas Wulan memburu karena amarah di dalam hatinya yang membara sampai memuncak ke ubun-ubun kepala.


Tia menggelengkan kepala. "Aku sudah bersikap baik padamu. Lihat saja nanti, aku tidak akan membiarkanmu begitu saja mengganggu keluargaku. Aku bukan Tia yang bodoh seperti dulu. Aku akan membuatmu menderita hingga kau lupa akan siapa dirimu itu!!" ancam Tia pada Wulan.


Tia mengakhiri pertemuan itu begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun, meninggalkan Wulan di cafe. Tia tidak akan mengalah seperti hari itu, membiarkan hidupnya rusak oleh Wulan. Sudah cukup hidupnya menderita, kini Wulan tidak boleh sampai merusak kebahagiaan keluarga kecilnya.