
Hans membalikkan badan menghadap ke arah sang istri.
"Kalau mereka mau masuk, biar mas nanti yang antar sekalian mas mau bilang pada kepala sekolah tentang Alya. Lengan Hasan akan mas jadikan bukti bahwa semua yang mas katakan adalah benar. Kamu tenang aja, Sayang."
"Baiklah, Mas. Nanti Tia akan katakan pada Hasan dan Hasna. Kalau gitu Tia mau siapin sarapan dan bekal untuk mereka." Tia berbalik hendak meninggalkan kamarnya.
"Tunggu, Tia."
"Ada apa, Mas?" tanya Tia heran mengapa suaminya menghentikan langkahnya.
"Siapa Sharma Qatar?" tanya Hans dengan serius. Kalau soal lelaki lain yang berniat mengganggu sang istri, maka dia akan bersikap tegas.
"Oh, itu. Dia pengusaha dari Qatar, baru kemarin kami menandatangani kontrak kerjasama. Memang ada apa, Mas?" tanya Tia dengan wajah keheranan.
"Tidak apa-apa. Hanya saja, AMS tidak suka kalau dia telepon malam-malam," ucap Hans menunjukkan kecemburuannya.
"Mungkin dia ingin segera kami mengirim barang ke Qatar. Memang dia reseh sekali, selalu ingin cepat ditangani," jawab Tia dengan tersenyum. Tidak tampak kebohongan di wajah Tia.
"Baiklah, mas harap kamu hati- hati. Jangan sampai kamu terjebak dalam bahaya bekerja sama dengan orang luar," ucap Hans memperingatkan Tia.
"Tenang, Mas. Dia sudah berkeluarga kok. Kabar yang aku dengar ia sangat mencintai istrinya."
"Walaupun sudah beristri tetaplah waspada. Karena banyak yang sudah beristri pun mau merusak rumah tangga orang lain. Kita jangan sampai membuka celah untuk orang seperti itu," tandas Hans lagi.
"Baiklah, Mas. Oh ya, Mas. Hari ini aku ingin periksa. Perutku seperti ada yang mengganjal. Nanti sore ya," pinta Tia. Merasa dirinya tidak enak badan.
Tia akan periksa ke dokter sore ini ditemani oleh Hans, sebab dari kemarin Tia merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Tentu saja ditemani oleh suami tercinta yaitu, Hans. Entah mengapa mereka langsung menuju ke dokter kandungan karena akhir-akhir ini Tia merasa seperti ada yang mengganjal di perutnya.
Sesampainya di rumah sakitbdan antri di dokter kandungan. Sang dokter pun langsung menyuruh Tia untuk berbaring di tempat tidur pasien dan mulai melakukan pemeriksaan yaitu melakukan USG ke perut Tia. Baik Tia maupun Hans menatap ke layar itu, ada sesuatu yang mengejutkan terjadi.
"Pak, Bu. Berdasarkan hasil USG nya ibu hamil empat bulan," ujar dokter itu sembari tersenyum.
Hans dan Tia saling pandang satu sama lain. "Dok, istri saya kok bisa hamil?" tanya Hans. Sebab mereka tidak menyangka bahwa Tia akan hamil.
"Iya Pak, istri anda hamil. Usianya sudah empat bulan."
Hans dan Tia berpelukan dengan haru. Sungguh ini adalah karunia yang paling indah setelah ujian rumah tangga mereka datang dan terus menerpa.
"Mas! Ini sungguh di luar perkiraan kita. Tia kira, Tia sudah tidak bisa hamil lagi. Apalagi sudah hampir delapan tahun tidak ada tanda-tanda akan datang kehamilan kedua Tia," ucap Tia memeluk sang suami.
"Benar, Sayang. Mas benar-benar tidak percaya jika kau bisa hamil dan sekarang usia kehamilan mu sudah menginjak empat bulan. Itu artinya lima bulan lagi kita akan memiliki anak lagi, Tia!" ucap Hans dengan penuh kegirangan.
"Maaf, Tuan dan Nyonya. Berhubung kehamilan masih terbilang muda, saya harap jaga dengan baik karena masih belum kuat. Banyak istirahat dan perbaiki gizi agar bayi bisa tumbuh dengan sehat dan kuat," ucap sang dokter memberi nasihat.
"Baik, Dokter. Maafkan kami yang terlalu bergembira hingga lupa saat ini sedang ada di mana. Kami akan mengikuti semua saran dari dokter.
Setelah melakukan pemeriksaan dan Tia dinyatakan hamil mereka langsung pulang. Mereka juga sudah menembus beberapa obat yang diresapkan untuk kesehatan kandungan Tia. Sampai saat ini mereka masih belum menyangka bahwa mereka akan memiliki anak lagi.
Karena Tia berpikir setelah ia melahirkan anaknya ia tidak akan bisa punya anak lagi. Tapi memang kuasa Tuhan itu tidak ada yang tahu. Usia kandungannya sudah empat bulan dan selama itu pula ia tidak merasakan ngidam-ngidam apapun. Maka dari itu dirinya juga sama-sama tidak menyangka akan hamil.
Hans juga tidak menyangka Jika ia dipercaya oleh Tuhan untuk memiliki momongan lagi. Bahkan usianya sudah empat bulan sekarang, merasa bersalah karena selama empat bulan ini ia belum mengetahui ada malaikat kecil di perut istrinya. Mungkin jika dirinya tahu ia akan menjaga istrinya itu dengan sangat baik.
"Mas, kira-kira kamu seneng nggak aku hamil lagi?" tanya Tia.
Hans langsung menatap ke arah istrinya. "Iyalah sayang, tentu saja aku senang kamu hamil lagi. Aku jadi nggak sabar dia akan lahir dan pasti rumah kita akan ramai karena ada anak-anak."
"Iya mas, aku juga berpikir bahwa aku tidak memiliki anak lagi setelah melahirkan. Ternyata memang takdir Tuhan itu begitu indah, Tuhan masih mengizinkan aku dan kamu untuk dipercayai memiliki anak lagi. Aku juga berjanji akan menjaga kandunganku ini dengan baik," sahut Tia.
"Iya, nanti kita berdua yang akan menjaga anak-anak kita. Nanti kita juga akan merawat mereka dengan sangat baik dan aku tidak akan membiarkan mereka terluka sedikitpun. Rumah kita akan ramai oleh gelak tawa mereka.
Tia sangat beruntung memiliki Hans, dia begitu senang Tia hamil. Itu artinya rumahnya akan ramai di penuhi oleh anak-anak. Mereka jadi tidak sabar, apalagi Hans. Dia berangan-angan anak-anaknya akan berkumpul ketika ia pulang kerja yang akan melepaskan penatnya karena seharian bekerja.
Hans mengelus perut istrinya, tidak terlalu kelihatan buncit mungkin karena usianya masih empat bulan. Lagian memang juga beberapa hari ini istrinya itu tidak suka makan. Dia juga tidak muntah-muntah seperti ibu hamil pada umumnya dan maka dari itu Hans tidak tahu kalau istrinya hamil.
Kalau tidak periksa ke dokter kandungan, hingga sampai saat ini mereka tidak akan tahu hal itu. Karena hamil pertama Tia muntah-muntah dan selalu ngidam. Tapi untuk hamil kedua kali ini tapi terkontrol, jarang sekali dia muntah-muntah. Mungkin cuma nggak enak badan saja.
***
Tidak terasa usia kandungan Tia sudah menginjak 4 bulan. Memang kehamilan yang kedua ini cukup berbeda dari kehamilan yang pertama. Tia tidak muntah-muntah, dia juga jarang sekali ngidam. Mungkin hanya satu kali dan Hans lupa kapan itu.
Selebihnya Tia melakukan aktivitas biasa seperti pada umumnya, Tetapi dia juga terus menjaga kandungannya dengan baik dan Hans tidak mau istrinya itu kelelahan. Sebisa mungkin Hans ada di samping istrinya.
Seperti hari minggu ini, Tia ingin belanja kebutuhan bayi. Padahal kandungan Tia usianya saja masih 4 bulan, dan masih ada 5 bulan lagi untuk dia bisa melihat dunia. Akan tetapi Hans tidak mau membuat istrinya kecewa, jadi Hans menemani dia untuk melihat-lihat ke toko bayi.
"Sayang, kita kan masih belum tahu anak kita laki-laki atau perempuan. Jadi kamu beli bajunya yang warna netral aja ya, yang cocok dipakai buat laki-laki sama perempuan. Nanti kalau kamu beli yang biru sama kita perempuan. Sebaliknya, kalau kamu beli yang pink ternyata anak kita laki-laki," sahut Hans.
"Iya juga sih, ya udah deh aku mau belinya yang warna netral-netral aja. Oh iya, kamu coba cari kaos kaki deh. Untuk warnanya terserah kamu aja yang penting cocok," ujar Tia.
"Iya," jawab Hans.
Cukup lama mereka berada di tempat ini karena rasanya senang sekali bisa memilihkan baju untuk calon bayi mereka. Rasanya mereka ingin memborong semua baju yang ada di baby shop ini, akan tetapi mereka masih belum tahu calon anak mereka itu laki-laki atau perempuan.
Akhirnya mereka memutuskan untuk membeli baju yang warna netral-netral saja dan cocok dipakai untuk perempuan dan laki-laki. Sebenarnya mereka tidak berharap lebih jenis kelamin anak mereka. Entah itu laki-laki atau perempuan mereka akan tetap menjaganya dengan baik.
Hal yang paling penting adalah calon anak mereka lahir dengan selamat tanpa kekurangan satu apapun. Itulah harapan mereka satu-satunya. Tidak peduli nanti lahir laki-laki atau perempuan. Hans juga tidak memaksa untuk Tia melahirkan anak laki-laki ataupun perempuan.
Menjaga kesehatan istri dan calon anaknya saja itu sudah cukup. Sebenarnya Tia tidak ingin USG untuk mengetahui jenis kelamin anaknya. Karena ia ingin supaya surprise saja ketika lahiran. Tidak tahu dengan Hans mau bagaimana, apakah dia mau USG atau tidak ia juga belum mempertanyakan hal itu. Akan tetapi kalau seumpama Hans mau USG dirinya juga akan menuruti perintah suaminya.
"Mas, apakah kamu sudah mendapatkan model kaos kakinya?" tanya Tia.
"Mas udah dapat nih, gimana menurut mu, Sayang? Apakah kamu suka warna-warna yang mas ambil?"
"Iyalah, tentu saja Tia suka. Ya udah kita akan bayar semua belanjanya sekarang, Tia juga udah capek banget mau istirahat."
Akhirnya mereka pergi ke kasir untuk membayar belanjaan mereka. Kali ini mereka belanja cukup banyak untuk keperluan bayi baru lahir. Sebenarnya ini baru 30% saja, masih banyak barang-barang lain yang belum mereka beli tetapi bisa dibeli ketika anak mereka sudah lahir nantinya.
Untuk saat ini mereka akan mengutamakan yang penting-penting terlebih dahulu. Lainnya bisa menyusul di kemudian hari. Lagian Tia juga sudah lelah, Jadi mereka harus pulang supaya Tia bisa beristirahat di rumah dengan baik.
***
Keesokan harinya Tia mulai melakukan rutinitasnya yaitu menyiapkan keperluan untuk Hasan dan Hasna berangkat ke sekolah. Hasan dan Hasna sendiri sudah memakai pakaian sekolah mereka. Mereka bersiap untuk sekolah.
Tia sedang membantu mereka memakaikan sepatu, memang jika pagi hari seperti ini ia akan disibukkan oleh anak-anak. Apalagi biasanya Hasan dan Hasna sendiri sering sekali malas berangkat ke sekolah semenjak kejadian kemarin. Jadi Tia harus gerak supaya mereka mau ke sekolah.
"Hasna, Hasan, pokoknya nanti di sekolah kalian itu baik-baik dan saling jaga satu sama lain ya. Pokoknya kalian nggak boleh nakal-nakal sama di rumah dan harus turuti apapun yang guru katakan," pesan Tia.
"Iya mama, tapi aku mau tidur aja di rumah," ujar Hasna.
"Astaga sayang, kan kemarin kamu udah tidur terus di rumah karena hari minggu. Jadi sekarang kamu harus ke sekolah pokoknya mama nggak mau tahu kalian harus ke sekolah juga! Untuk hari ini nggak ada kata bolos sekolah!" ujar Tia dengan beberapa penekanan kalimat di akhir.
"Iya deh, Ma. Nanti kita berangkat ke sekolahnya sama siapa?" tanya Hasan.
"Nanti biar papa yang antar kalian, bekalnya jangan lupa dimakan ya. Harus dihabisin juga bekal yang dibawakan mama," ujar Tia.
Setelah selesai memakaikan sepatu untuk mereka, Tia menuju ke meja makan. Anak raja sudah terbiasa sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat ke sekolah. Tentu mereka makan sendiri, Tia mengajari anaknya untuk mandiri.
Setelah itu Hans mengantarkan anak-anaknya berangkat ke sekolah. Tia mengantarkan sampai ke depan pintu, lalu melambaikan tangan kepada mereka. Sementara Hasan dan Hasna sendiri juga melambaikan tangannya kepada Tia.
"Hati-hati kesayangannya mama, mama tunggu kalian di rumah ya," pekik Tia. Sebelum akhirnya mobil yang dikemudikan oleh suaminya menjauh dari halaman rumahnya.
Tia kembali masuk ke dalam rumahnya untuk melakukan rutinitas lainnya sebagai ibu rumah tangga. Jika anak-anaknya sudah berangkat ke sekolah dan suaminya sudah berangkat kerja itu sudah membuat dirinya lega dan bisa mengerjakan tugas-tugas lainnya dengan santai. Tia menuruti sang suami untuk cuti selama hamil. Perusahaan Tia untuk sementara dihandle oleh Hans.
"Baiklah, aku akan pergi ke kantor Aris mumpung sebentar lagi jam istirahat. Sebaiknya aku bawakan Aris bekal makanan dari rumah." Tia bergegas menyiapkan bekal untuk Aris dan Hans, setelah itu barulah Tia pergi mandi. Tia lupa jika dirinya belum berbicara dengan Aris karena terlalu bahagia dengan berita kehamilannya.
Dengan diantar sang supir, Tia berangkat ke kantor Hans, di mana Aris bekerja sebagai direktur bagian pemasaran.
"Selamat siang, Nyonya. Sapa salah satu resepsionis yang sudah mengenal siapa Tia.
"Selamat siang, tuan Aris ada di ruangannya?" tanya Tia dengan ramah. Walaupun dia istri dari pemilik perusahaan di mana i berpijak, tidaklah membuat dirinya merasa sombong dan merasa lebih tinggi derajatnya.
"Tuan Aris ada, Nyonya. Baru saja dia kembali dari sidak di lapangan bersama tim manager pemasaran," jawab sang resepsionis.
"Baiklah, aku akan langsung ke sana," sahut Tia.
Semua pegawai menatap Tia yang setiap harinya bertambah kadar kecantikannya. Hans sendiri mengakui jika sang istri kali ini di masa kehamilannya terlihat lebih cantik dari biasanya.
Tok! Tok!
"Masuk!"
"Selamat siang, Bos!" Tia berdiri di depan pintu.
"Mbak Tia?! Masyaallah, mbak. Kenapa repot-repot sampai datang kemari?" tanya Aris berdiri lalu menghampiri kakaknya.