
"Mas ... Sudah datang? Sejak kapan?" tanya Wulan gugup seperti pencuri yang tertangkap basah.
Ridho mengambil napas dalam-dalam, dia harus meredam gejolak amarahnya. Selain untuk membongkar kebohongan Wulan, dua hari lagi dia membutuhkan Wulan untuk menghadiri acara pernikahan pemilik perusahaan yang baru saja membeli sahamnya.
Tidak mungkin dia akan datang sendirian, semua orang tahu kalau dirinya sudah memiliki istri.
"Ah, baru saja. Kebetulan mas haus karena cuaca sangat panas. Ya sudah, mas ambil minum dulu," jawab Ridho dengan senyum yang dipaksakan.
Wulan bernapas lega karena dia mengira Ridho tidak tahu akan kedatangan Randy.
"Oh, aku kira sudah dari tadi. Soalnya aku belum menyiapkan makan siang. Si Aris masuk kuliah dan bapak istirahat. Mau aku pesankan makanan atau aku buatkan nasi goreng?" ucap Wulan basa basi hanya untuk mencari alibi.
"Tidak usah, aku sudah kenyang. Tadi di kantor ada yang bagi -bagi nasi box untuk makan siang," jawab Ridho sudah enggan memakan makanan hasil masakan Wulan.
Berbeda waktu awal dulu, Ridho sangat senang jika Wulan memasak. Namun kini rasa itu sudah berubah menjadi jij*k.
"Oh ya sudah, kalau begitu aku pesan makanan untuk diriku dan untuk mama serta papa. Oh ya, Mas. Besok aku mau pergi mengurus semua uangku yang hilang di bank. Hari ini tadi tidak jadi karena Aris kuliah, tidak ada yang menjaga mama dan papa," celoteh Wulan dengan tanpa sedikitpun curiga dengan perubahan mimik wajah Ridho.
Wajah Ridho sudah berubah pucat, matanya membulat dan bibirnya agak bergetar setelah mendengar rencana Wulan.
"Bagus kalau begitu, duitmu yang hilang biar segera dikembalikan oleh pihak bank," jawab Ridho seakan-akan dia juga ingin menyalahkan pihak bank yang teledor.
"Tunggu dua hari lagi Wulan, kau akan merasakan pembalasan ku. Pokoknya aku tidak mau rugi, akan aku jual kau pada bos-bos pemuja nafsu. Hahaha ...."
Ridho tertawa girang di dalam hatinya. Dia sudah memutuskan untuk membalas sakit hatinya.
"Wulan, apakah kau tidak rindu padaku?" tanya Ridho tiba-tiba sembari bangkit dari duduknya lalu memeluk sang istri dari belakang.
Wulan terkejut, hampir saja ponsel miliknya terlepas dari genggaman tangannya.
"Mm ... Mas, kamu kenapa?" tanya Wulan gugup mendapat serangan tiba-tiba dari Ridho.
"Tentu saja ingin meminta hakku sebagai suami. Bukankah kau dulu sangat menyukainya? Harum rambut bas*h mu membuatku tiba-tiba ingin mengulang kembali kemesraan kita dulu. Aku sangat ingin ben*hku kembali bersemi di rahimmu setelah yang pertama gugur," ucap Ridho sembari menghirup harum rambut Wulan yang basah.
Wulan kebingungan, dia tidak tahu harus bagaimana. Baru saja dia menuntaskan hasr*tnya dengan Randy. Tenaganya sudah terkuras, dan sudah tidak ber-gaira*h lagi. Namun Wulan tidak ingin Ridho curiga padanya. Dulu dirinya bagai wanita li-ar yang selalu mengejar Ridho, walau tahu jika Ridho tidak bisa membuat dirinya merasa puas.
"Mm ... mas, maaf. Aku sudah mandi, jadi malas kalau harus keramas lagi," ujar Wulan menolak halus ajakan sang suami.
"Ayolah, Wulan. Mas sangat ingin sekali. Mau ya?" Ridho terus merayu sang istri agar mau diajak berhubungan ba-dan. Ridho ingin tahu apakah benar apa yang dikatakan oleh Rosie, kalau dirinya lemah dan tidak mampu mem*askan pasangannya.