Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab. 69


Kehangatan malam yang terjalin antara Hans dan Tia ditutup dengan lelapnya Hans menuju ke samudra mimpi.


Berbeda dengan Tia, ia masih memikirkan bagaimana dia bisa masih perawan saat bersama Ridho. Bukankah setiap kali Ridho meminta haknya, Tia selalu melayaninya? Namun, kalau dihitung dengan jari. Hanya dua kali saja Ridho sampai pada puncaknya.


"Sebenarnya apa yang terjadi di antara aku dan mas Ridho. Memang mas Ridho tidak pernah melakukan hubungan suami istri di siang hari. Saat malam pun, mas Ridho juga mematikan lampu terlebih dahulu! Arggh ... Ini sungguh membuatku pusing!! Aku hanya tahu mas Ridho melakukan itu saja!"


Tia masih bergelut dengan pikirannya sendiri. Dia masih penasaran, bagaimana bisa Ridho berbuat tega pada dirinya.


"Tunggu ... Waktu cacing gilig mas Hans masuk seperti gak muat, sedangkan punya mas Ridho tidak terasa apapun. Tiba-tiba nyembur begitu saja! Apa batangnya kecil? Tapi mbak Wulan bisa hamil? Hah! Mengapa aku malah memikirkan cacing gilig mereka? Tia ... Tia ... Mengapa otakmu jadi konslet begini!!"


Tia menggelengkan kepalanya. Dia pun akhirnya memilih untuk menyusul Hans ke alam mimpi. Di hati Tia, dia ingin mencari tahu bagaimana bisa dirinya yang sudah menikah tapi masih juga perawan.


*****


Mentari pagi bersinar dengan begitu indahnya. Menghangatkan bumi dari hawa dingin. Tubuh Tia menggeliat, tubuhnya terasa pegal semua.


Dalam kesadaran yang belum sempurna, Tia berusaha bangun. Kebiasaan bangun pagi membuat Tia bangun tepat waktu. Segera dirinya bangkit untuk membersihkan dirinya di kamar mandi.


Di depan cermin, Tia menggosok kedua matanya. Berbagai tanda merah bertaburan menghiasi dada dan lehernya.


"Astaga ... Apa ini? Mengapa banyak sekali??" Tia terkejut melihat tanda merah menyebar di area tersebut. Baru pertama kali Tia mendapatkan tanda merah seperti itu.


Tia memakai bathdrobe nya kemudian keluar dari kamar mandi untuk bertanya pada Hans. Dengkuran halus Hans masih terdengar, pertanda dia masih nyenyak tidur. Semenjak menikah dengan Wulan hingga sekarang, baru kali ini Hans tidur dengan begitu pulas-nya.


"Maaas ... Mas, banguuun ...." Tia mengguncang tubuh Hans, selain untuk bertanya tentang tanda merah itu, Tia juga ingin membangunkan Hans untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Tidak ada lagi rasa jaim atau malu pada Hans. Perubahan diri Tia terjadi karena adanya rasa nyaman saat bersama Hans.


"Mas ... Bangun, Mas ...." Tia masih setia membangunkan sang suami.


"Hoam ... Masih malam, mengapa kau bangunkan, Tia. Ayo tidur lagi!!" Hans tanpa membuka matanya menggeliat lalu kembali memeluk guling dan tidur.


"Maaass ... bangunlah, sudah pagi. Jangan sampai terlambat untuk sholat!" teriak Tia di telinga Hans.


Walaupun bukan ahli ibadah, akan tetapi Tia tetap ingin melaksanakan kewajibannya.


Tia menaiki ranjang, lalu membuang guling yang di peluk Hans dan kemudian Tia pun duduk di tubuh Hans.


"Rasakan ini!!" Tia mencabuti bu-lu dada Hans dengan kasar.


"Aww ... Sakiiit!" pekik Hans seketika. Namun, dia tidak bisa bergerak karena tubuh Tia ada di atas tubuhnya.


"Tia! Apa -apaan ini, geli Tiaa ..!!" pekik Hans yang kaget dengan semua yang dilakukan Tia atas dirinya.


"Hahaha ... rasakan kau, Mas. Makanya bangun!" Tia tanpa berdosa meminta Hans untuk bangun. Namun sayang, bukan hanya satu bagian yang bisa Tia bangunkan. Ada bagian lain yang ikutan bangun lalu tegak berdiri.


Tia membelalakkan matanya, saat tubuh bagian belakangnya ada yang menyundulnya. Reflek tangan Tia menangkap benda itu.


"Aaaa ... Apa ini!!" teriak Tia panik, dia pun turun begitu saja dari tubuh Hans.


"Hahaha ... Makanya Tia, kalau kau bangunkan mas, maka bukan hanya satu yang bangun tapi pasti ada dua yang ikutan terbangun," seloroh Hans dengan senyum penuh kemenangan.


"Astaga, Mas. Mengapa besar sekali?!"


"Ya, memang cetakannya dari sana segitu. Masa iya aku tidak terima lalu mengembalikannya pada Sang Pencipta? Rugi donk ... toh semalam kau sampai merem melek begitu!" Cerocos Hans tanpa difilter terlebih dahulu.


Blush ....


Pipi Tia merona menahan malu, apa yang dikatakan oleh Hans memang benar. Entah sampai di langit ke berapa semalam dirinya dibawa terbang oleh Hans.


"Mas! Maluu!" protes Tia dengan pipi yang masih merah. Jelas terlihat kontrasnya karena kulit Tia pada dasarnya putih.


"Hahaha ... Tia ... Tia, kita kan suami istri, hal biasa dong bahas begituan. Udah ah, ayo kita mandi," ajak Hans pada Tia.


"Apa? Mandi bersama? Tidaaak ... Tia malu, Mas!" tolak Tia, mandi bersama dengan lelaki, suatu hal yang belum pernah dia lakukan sebelumnya.