
Hasan dan Hasna tampak asyik menikmati semua makanan yang sudah mereka pesan. Tidak berapa lam kemudian datanglah wanita menghampiri meja Tia.
"Mbak Tia? Mbak di sini?" tanya wanita yang berpenampilan cantik dengan seorang anak di sampingnya.
"Sinta? Haii ... Kau bersama siapa?" tanya Tia sembari menoleh ke kanan dan ke kiri. Hanya anak kecil berumur delapan tahun yang Sinta bawa.
"Mbak, aku hanya sama Sherli saja. Lama kita gak ketemu, bagaimana kabarnya, Mbak?" Sinta mengulurkan tangannya.
"Alhamdulillah, baik. Hai Sherli ... Duh, makin cantik saja kamu. Ayo silakan duduk."
"Hasan, Hasna Salim dulu sama tante Sinta," titah Tia pada kedua anaknya.
"Hai, Tante." Hasan dan Hasna dengan patuhnya menyalami Sinta. Berbeda dengan Sherli yang hanya diam saja.
"Sherlii ... Ayo Salim sama Tante Tia!" Sinta meminta sang anak menyapa sama seperti yang dilakukan oleh Hasan dan Hasna. Namun, Sherli tidak mematuhi perintah sang ibu. Dia hanya diam saja, menatap tidak suka pada Hasan dan Hasna.
"Sherliii ...!" Sinta memanggil sang anak untuk melakukan apa yang dia suruh kepada anaknya. Namun sayang, Sherly tetap terdiam tidak mau melaksanakan apa yang diperintahkan oleh sang ibu.
Sinta merasa malu ketika sang anak sama sekali tidak mau mematuhi perintahnya, dan seakan-akan anaknya tidak pernah diajari sopan santun saat bertemu dengan keluarga yang lebih tua.
"Sudahlah, Sinta, tidak apa-apa namanya juga anak kecil, toh mereka juga baru bertemu hari ini. Hampir kita tidak pernah bertemu hanya sekali saja saat kamu melahirkan Sherly itu saja. Kita harus memaklumi itu," ujar Tia tidak ingin membuat keributan di restoran itu.
Sinta merasa dipermalukan oleh anaknya sendiri hari ini Sherly memang sangat sulit untuk diatur dia lebih cenderung berbuat sesuka hatinya.
"Siapa wanita muda ini, Mbak? Sepertinya saya baru pertama kali bertemu dengan dia," tanya Sinta mengalihkan perhatian Tia.
"Dia adalah adik iparku, istrinya Aris. Mereka baru menikah kemarin kok, jadi pantes aja kau tidak pernah bertemu dengannya. Maaf kemarin tidak sempat mengundang karena sibuknya mempersiapkan pesta," ucap Tia yang tidak enak hati karena lupa mengundang Sinta dan Gunawan.
"Iya, tidak apa-apa, mbak. Kami maklum kok. Oh ya, siapa nama adik ipar mu yang cantik ini, Mbak?" Sinta ingin berkenalan dengan Devi.
"Kenalkan dia adalah Devi, istrinya Aris," ucap Tia sambil menunjuk ke arah Devi.
"Oh, hai ... Apa kabar, Devi?" Sinta mengulurkan tangannyaw mengajak Devi bersamaan.
"Devi," ucap Devi yang menerima uluran tangan Sinta sebagai salah satu kerabat sang suami.
"Ayo silakan dipilih menu yang kau dan anakmu suka, Sinta. Biar nanti mbak yang bayar," ucap Tia menyuruh Sinta untuk memesan menu makanan.
"Terima kasih, Mbak. Bersyukur bisa bertemu dengan mbak Tia di sini. Sekalian mau mengundang Hasan dan Hasna untuk datang di pesta ulang tahun Sherly minggu depan," ucap Sinta sambil membuka buku menu.
"Sherly ulang tahun yang ke berapa?" Tia kembali melahap makanan yang hampir dingin itu.
"Yang ke tujuh, Mbak," jawab Sinta sambil memilih dan pilihannya jatuh pada menu yang serba mahal. Mungkin mumpung dapat gratisan. Devi mendelik saat melihat harga menu yang dipilih oleh Sinta.
"Astaghfirullahal Adziim ... Wanita itu memilih menu yang harganya mahal, bahkan lebih mahal dari yang dimakan oleh mbak Tia!" pekik Devi di dalam hati.
Shinta hanya tersenyum saat Devi memerhatikan semua gerak-geriknya. Sengaja Shinta ingin memakan menu yang selalu ia incar tali belum pernah ia makan, mengingat harganya yang terlalu tinggi.
"Sudah?"
"Sudah, Mbak," jawab Shinta dengan semangat melahap habis semua makanan yang ia pesan. Itu baru dipesankan, belum benar-benar ada di hadapannya.
"Baiklah. Pelayaaan ....!" panggil Tia pada pelayan restoran.