
Keesokan harinya, Sinta yang semalam tidak tidur merasa lemas dan tidak bertenaga.
"Hoek ... Hoek ...!"
Sinta tiba-tiba kembali mual dan muntah di pagi ini. Perutnya serasa dipelintir.
"Nona ... Nona ... Nona tidak apa-apa? Saya antar ke klinik dokter terdekat ya ...." bik Siti yang khawatir dengan keadaan Sinta pun panik.
Sinta hanya mengangguk pasrah karena dirinya sudah tidak kuat. Sinta diantar sang supir menuju ke klinik dokter terdekat.
Sinta sudah berada di klinik terdekat dan sekarang ini dirinya sedang diperiksa oleh dokter, dirinya juga sudah diberikan beberapa obat untuk mengurangi rasa sakit yang ada di perutnya. Dokter tampak melakukan pemeriksaan secara berkala kepada Sinta. Memang rasa mual itu masih ada, hanya saja sudah berkali-kali lipat jauh lebih berkurang dari yang tadi.
Bahkan dokter juga fokus untuk melihat perutnya takutnya terjadi sesuatu atau penyakit yang dapat membahayakan tubuhnya. Setelah itu ia turun dari tempat tidur yang dikhususkan untuk melakukan pemeriksaan atau check up seperti ini.
Setelah itu dirinya menuju ke ruangan dokter, guna mendengarkan penjelasan dokter setelah ia melakukan pemeriksaan.
"Nyonya. Selamat, Anda dinyatakan hamil dari hasil USG yang telah dilakukan. Usia kandungan Anda masih muda dan sangat rentan sekali, jadi Diharapkan anda dapat menjaga kesehatan diri anda sendiri dan juga bayi yang ada di kandungan anda."
"Hah? Apakah dokter sedang bercanda kepada saya? Saya tidak hamil, bagaimana bisa dokter menyimpulkan hal itu?" tanya Sinta tak percaya. Bahkan dirinya berharap salah dengar dengan apa yang dokter katakan.
"Saya serius nyonya, anda dinyatakan hamil. Usia kandungan janin anda sekitar 4 minggu, nanti saya akan buatkan resep supaya janin anda lebih kuat. Mual-mual yang Anda rasakan memang kerap kali dirasakan oleh ibu hamil. Tapi setelah beberapa minggu usia kandungan rasa mual itu perlahan akan sedikit hilang dan nyonya harus rutin minum obat supaya kandungan nyonya kuat."
"Sekali lagi, saya mengucapkan selamat karena nyonya telah menggandung anak nyonya. Saya doakan keadaan bayi nyonya yang ada di dalam kandungan sehat sampai lahir nanti dan tidak ada kurangnya satu apapun."
Sinta benar-benar dibuat terdiam dengan pernyataan itu, bahkan dirinya menatap ke depan dengan tatapan kosong.
***
Sesampai di rumah, Sinta langsung menuju ke kamar tanpa menyapa ataupun menjawab sapaan pembantu yang lewat. Beberapa pembantu rumah tangga merasa kebingungan sebab melihat nona mereka pulang dari klinik hanya diam saja. Bahkan Sinta tidak mengatakan sepatah kata pun setelah dia keluar dari klinik.
Mereka semua juga tidak mau bertanya sebab tidak ingin mengganggu privasi dari Sinta. Maka dari itu mereka membiarkan Sinta beristirahat saja di kamarnya. Sementara Sinta sendiri masih belum percaya bahwa dirinya dinyatakan hamil. Bahkan kalimat itu tidak ada di benaknya sebelumnya.
Sampai detik ini Sinta tidak percaya bagaimana ia bisa hamil secepat ini. Padahal dari awal dirinya berpikir ia mual dan muntah hanya karena masuk angin saja. Tapi dokter mengatakan itu tanda-tanda dan awal mula kehamilan muda yang sering terjadi. Semua aku juga pasti akan senang dengan kehamilannya tapi tidak dengan dirinya.
"Kenapa aku bisa hamil secepat ini? Bagaimana jika aku tidak bisa merawat anakku dengan baik? Aku masih belum siap untuk memiliki seorang anak apalagi jika memiliki seorang anak tanggung jawabnya sampai tua nanti. Aku juga tidak mungkin akan menggugurkan kandungan ini, lantas apa yang harus aku lakukan setelah ini?"
Sinta benar-benar dilema, jika anak ini lahir maka anak itu tidak akan mendapatkan kasih sayang dari dirinya sebab ia akan fokus dengan pekerjaan dan hal-hal yang membuat dirinya sibuk. Bahkan sampai saat ini dirinya juga tidak yakin bisa memberikan kasih sayang yang sebenarnya dan seutuhnya kepada anaknya nanti.
Apalagi kembali ke awal bahwasannya dirinya tidak suka dengan anak kecil, itu sama saja dirinya menyiksa calon anaknya nanti. Gunawan masih belum tahu masalah ini, hanya dirinya yang tahu. Ia menatap obat yang ada di atas nakas. Ada lebih dari empat jenis obat yang harus dirinya konsumsi untuk menguatkan janin yang ada di kandungannya.
Sinta berpikir apakah ia tidak perlu meminum itu saja? Dirinya benar-benar stress memikirkan semua ini. Akhirnya Sinta mulai tidur dengan keadaan pikirannya yang masih kacau dan masih belum menerima kehamilannya. Berharap ini semua hanya mimpi, jika ingin mimpi tolong bangunkan dirinya segera.
Sinta seharian tidur, dia tidak mau makan ataupun minum. Bik Siti yang khawatir pada Sinta akhirnya menelpon Gunawan untuk membujuk Sinta agar mau makan dan minum. Sudah hampir seharian Sinta mengurung diri di kamar. Kamarnya ia kunci sehingga tidak ada yang bisa masuk.
Tuut ....
Tuut ....
"Hallo?"
"Hallo, Assalamu 'alaikum, Tuan. Ini bik Siti, Tuan," ucap bik Siti melalui telepon rumah.
"Wa'alaikum salam, ada apa, Bi?"
"Maaf, Tuan. Nona Sinta seharian ini mengurung diri terus di kamar dia melewatkan makan siang dan Samapi sekarang belum keluar kamar juga. Bibi takut jika Nona Sinta sakit. Tadi habis periksa ke dokter, akan tetapi pulang-pulang dalam keadaan diam tidak mau menjawab sapaan kami," ucap bik Siti.
"Sinta tidak mengurung diri di kamar? Bibi sudah menggedor pintunya?"
"Baiklah, Bi. Bi jaga Sinta, saya akan segera pulang. Pekerjaan saya juga sudah selesai."
"Iya, Tuan. Kami tunggu."
Klik.
Gunawan mematikan teleponnya, setelah itu dia bergegas pulang. Bik Siti pun bergegas kembali ke kamar Sinta untuk mencoba kembali membangunkan Sinta.
Tok!
Tok!
"Nona ... Nona Sinta? Bangun, Nona ...."
Bik Siti terus berusaha memanggil Sinta yang belum juga ada jawaban dari dalam. Bik Siti mengulang sekali lagi. Dia mengetuk dan memanggil Sinta. Namun tidak juga ada jawaban.
Tiin ... Tiin ....
Mobil Gunawan terdengar sudah memasuki halaman rumahnya. Setelah memarkirkan mobilnya, Gunawan turun dan segera masuk rumah.
"Bik Siti, bagaimana Sinta, Bik?" tanya Gunawan masih dengan jas dan kemejanya.
"Belum ada jawaban apa-apa dari dalam kamar. Kamar nona sepetinya juga gelap belum dinyalakan lampunya," jawab bik Siti dengan raut wajah yang penuh kekhawatiran.
"Baiklah, Bi. Cepat ambil kunci cadangan kamar ini. Kunci itu aku simpan di laci meja kerja saya. Cepat tolong ambilkan kunci itu, Bi. Biar saya yang mencoba memanggil Sinta," ujar Gunawan memberi perintah pada bik Siti.
Bik Siti pun berlalu meninggalkan Gunawan yang berdiri di depan pintu kamar Sinta.
Tok!
Tok!
"Sinta ... ini papa, ayo buka pintu ya, Nak!" teriak Gunawan memanggil nama Sinta. Namun tidak ada jawaban juga dari dalam.
Gunawan menggedor-gedor pintu kamar Sinta. Berharap Sinta terbangun karena suara berisik pintu itu. Akan tetapi lagi- lagi usaha Gunawan tidak berhasil.
Lima menit kemudian, bik Siti datang sembari membawa kunci cadangan kamar Sinta.
"Tuaan ... Saya sudah dapat kuncinya, Tuan," ujar bik Siti sembari menunjukkan kunci yang tergantung dimaksud oleh sang majikan.
"Baik, Bik. Ayo kita buka pintu Sinta bersama," ajak Gunawan sambil meneliti kalau anak kunci yang ia maksud sudah apa atau belum.