Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab. 86


Langkah Ridho terhenti sejenak, dia mendengar suara yang tidak asing baginya. Suara dimana dua orang sedang berbagi peluh. Ridho melangkah mendekati pintu. Dia berdiri mematung di depan pintu tersebut. Sungguh saat ini hatinya seakan beradu dengan sangat hebat.


Ridho menguatkan hatinya sendiri, kenyataan akan apa yang dikatakan Rosie kini benar-benar terjadi. Sang istri telah berselingkuh, dan semua itu karena senjata Ridho tidak mampu memberi kepuasan pada lawan mainnya.



"Lebih cepat, Sayang. Semua ini benar-benar membuatku gila. Hanya kau yang bisa memberiku kepuasan. Lelaki itu sungguh payah! Sudah kere, masih saja sok perkasa!" Ujar Wulan di bawah deru napas sosok lelaki yang menjadi kekasihnya itu.



Ridho mendengar dengan hati yang hancur semua yang dikatakan oleh Wulan, dengan kondisi hati yang baru saja hancur berkeping-keping, Ridho menguatkan dirinya. Setelah itu Ridho terdiam dan mematung, menerka apa yang akan dilakukan oleh Wulan jika tahu kalau Ridho melihat semua perbuatan bejatnya.



Meredam semua itu lebih baik untuk mencari kebenaran. Dulu Wulan selalu memuji kalau Ridho selalu lebih jantan dan lebih perkasa dibanding Hans. Namun, kenyataan berkata lain. Ridho lah yang lemah, bukan Hans. Mungkin semua itu dilakukan Wulan untuk membuat hati Ridho senang dan tidak bisa lepas dari Wulan.



"Wulan, apa kau sengaja mempermainkan aku? Dulu kau memujiku hanya untuk menyenangkan hatiku?" Ridho berdiri bersandar di dinding kamarnya. Satu menit kemudian tubuhnya luruh, dan sekarang dia duduk berjongkok, dengan kaki tangan melingkar di kakinya.



Suara dari dalam kamarnya masih keras terdengar, membuat Ridho tersulut emosinya. Amarah telah mengalahkan logikanya. Namun, lagi-lagi Ridho berusaha menekannya karena Ridho ingin tahu tentang kebenaran tentang dirinya.



"Jalan satu-satunya, aku akan mengajak Wulan bercinta lalu aku akan melihat bagaimana wajah dan kelakuan Wulan saat aku sudah mencapai puncaknya." Ridho berujar di dalam hati bahwa dia akan membuktikan semua yang dikatakan oleh Rosie. Jika semua itu benar, maka Ridho akan berobat.



Ridho memutuskan untuk beranjak pergi meninggalkan kamar tersebut. Dia memilih ke dapur untuk membuat makanan sendiri sembari menanti siapa laki-laki yang telah berani datang ke rumahnya.




"Sudahlah, Wulan. Aku mau pulang saja. Tidak ada yang terpenting dari uang. Selama kau memberiku uang walau berapapun aku akan selalu datang. Okey, Tante. Randy pulang dulu, see you again, byee ...!" ucap Randy pamitan pada Wulan lalu melambaikan tangannya.



"Bye ...!" Wulan membalas lambaian tangan Randy.



Randy pun keluar dari kamar Wulan tanpa beban. Dia tidak tahu jika ada sosok yang menatap nyalang ke arahnya. Api amarah terlihat jelas di dua bola mata tersebut.



Sambil bersiul Randy berlalu dari rumah itu, satu foto wajah Randy sudah masuk ke dalam galeri foto ponsel Ridho.



"Tunggu saja, kalian tidak akan selamat!" geram Ridho menahan amarah, jika tidak demi membongkar kebohongan Wulan, dia tidak akan mau menahan amarah tersebut.



Wulan dengan senyum yang ceria karena kebutuhan batinnya sudah terpuaskan, melangkah menuju ke dapur untuk mengambil air putihnya yang sudah habis. Selain itu dia akan meminta sang ayah untuk memasak.



Semenjak kedua orang tuanya pulang dari rumah sakit, Wulan meminta Aris yang mengurus rumah. Namun, jika Aris kuliah maka dia tidak akan segan menyuruh sang ayah untuk memasak jika dirinya lapar.



Saat kaki Wulan sampai di depan meja makan, dirinya sangat terkejut melihat sang suami tengah duduk di kursi makan sambil menatapnya tajam. Di depan sang suami ada secangkir minuman.