
Gunawan merasa khawatir, dia merasa tidak akan mampu melawan pemuda itu lantaran usianya yang sudah lanjut. Tenaganya tidak bisa mengimbangi tenaga pemuda itu.
"Gawat, aku harus bagaimana? Aku akan mengunci semua jendela dan pura-pura tidak tahu kalau ada orang. Rustam, cepatlah sampai!" gumam Gunawan mengunci semua pintu dan jendela mobilnya. Dia pun merebahkan kepalanya di sandaran kursi.
Pemuda dengan penampilan seperti seorang preman menghampiri mobil Gunawan lalu mengetuk kaca jendelanya.
Tok!
Tok!
Pemuda itu mengetuk jendela mobil, Gunawan yang pura -pura tidur diam saja tidak bergerak dan meladeni teriakan pemuda tersebut. Di dalam hati Gunawan berdoa semoga Rustam cepat sampai bersama rombongan polisi.
"Ya Tuhan, tolong selamatkan hamba. Hamba hanya ingin menyelamatkan wanita yang sudah hamba anggap seperti anak kandung hamba sendiri," ucap Gunawan di dalam hati.
Saat ini jantung Gunawan berdetak dengan cepat. Darahnya berdesir menahan takut, Gunawan sendiri heran mengapa dia begitu berani mencampuri urusan para preman anggota sindikat jual beli wanita.
Pemuda itu kembali mengetuk jendela Gunawan dengan lebih keras lagi. Namun, Gunawan tetap tidak mau bangun. Dia sudah bertekad tidak akan membuka mata hingga pemuda itu pergi.
Wajah kesal terlihat jelas di muka pemuda itu. Melihat keramaian yang ada di sekitar jalan tersebut, sang pemuda itu pun pergi meninggalkan mobil Gunawan.
"Alhamdulillaah ... Aman." Gunawan bernapas lega karena bahaya sudah tidak mendekatinya. Dia pun bangun dan melihat apakah mobil box itu sudah berjalan lagi. Tepat saat mobil box itu hendak melaju, rombongan Rustam dan polisi sudah memblokade jalan dan meminta mobil box itu menepi ke tempat yang lebih aman.
"Siaal ..!! Kita terkena razia! Jelas nanti kita akan kena masalah! Cepat kau hubungi bos!" ucap sopir mobil box meminta temannya untuk segera melaporkan semua pada bos mereka.
Tok!
Tok!
"Ada apa, Pak?!" tanya sopir mobil box dengan masker menutupi wajahnya.
"Maaf, boleh kami melakukan pemeriksaan, kami menerima laporan jika barang yang anda kirim merupakan barang ilegal! Jadi silakan Anda turun dan kami akan melakukan pemeriksaan. Siapkan surat-surat mobil ini!" ucap salah satu polisi yang mendatangi sopir itu.
Sopir itu hanya diam tidak mau turun, sepertinya dia akan melakukan perlawanan.
"Jangan bergerak! Cepat kalian turun atau kami bertindak!" tegas salah satu polisi dengan menodongkan pistolnya. Polisi itu sudah bisa membaca gelagat dari sopir itu, maka dia tidak segan untuk menodongkan pistolnya.
Melihat polisi sudah menodongkan pistol, mau tidak mau sopir dan temannya turun. Selama ini mereka selalu lolos saat pengiriman pada wanita itu sampai ke pelabuhan. Nasib mereka hari ini benar-benar apes, hingga polisi bisa mengetahui pergerakan mereka.
Gunawan turun dari mobil dan mendekati mobil box itu, dia memberi tahu isi dari box yang ditutupi terpal itu.
Para polisi itupun membuka terpal tersebut. Para wanita itu berteriak kegirangan kecuali Sinta yang masih duduk tertidur. Dia tidak sadar jika dirinya sedang dibawa ke luar negeri.
"Sintaaa ...!" teriak Gunawan melihat putrinya.
"Rustam, kamu urus semua, aku akan membawa Sinta ke rumah sakit terdekat!" ucap Gunawan panik melihat kondisi wanita yang sudah ia anggap anak perempuannya sendiri.
"Baik, Tuan. Saya akan mengurus semua," jawab Rustam patuh.
Mobil Gunawan melaju dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah sakit terdekat. Setelah sampai di lobi rumah sakit Gunawan berteriak memanggil para perawat dan dokter jaga. Dengan membawa brankar mereka membawa Sinta masuk ke dalam ruang UGD.
Sementara Gunawan mengurus administrasi, Sinta mendapatkan perawatan dari sang dokter.
Beberapa jam Sinta mendapatkan perawatan dari dokter, akhirnya dia dinyatakan boleh pulang karena tidak ada luka yang berarti.
"Maaf, Tuan. Nona Sinta bisa dibawa pulang karena tidak ada luka yang berarti hanya pengaruh dari minuman keras yang ia konsumsi sebelumnya. Saya hanya memberikan obat pusing dan beberapa vitamin agar tubuhnya segar kembali," ucap sang dokter sembari menulis resep yang harus ditebus oleh Gunawan.
"Baik, Dok. Terima kasih sudah melakukan yang terbaik untuk anak saya," ucap Gunawan mengucapkan terima kasih kepada sang dokter sembari menerima resep dari sang dokter.
"Sama -sama, Tuan. Nona Sinta juga sudah sadar dan baik-baik saja." Sang dokter tersenyum melihat Sinta yang sudah lebih segar daripada sebelumnya.
Gunawan menghampiri Sinta yang duduk di ranjang periksa.
"Papa ... Apa yang terjadi? Mengapa Sinta ada di rumah sakit?" tanya Sinta pada Gunawan. Rupanya dia belum ingat dengan apa yang ia alami semalaman dan pagi hari itu.
"Ceritanya panjang, Sinta. Nanti papa ceritakan semua setelah kita sampai di rumah papa. Kamu tidak keberatan kan sementara tinggal bersama papa?" tanya Gunawan pada Sinta yang masih merasa pusing. Pengaruh minuman keras itu ternyata belum hilang.
"Baiklah, Papa. Aku akan tinggal bersama papa. Sinta tidak ingin kembali pulang ke rumah mama. Di sana ada paman Rai yang mengaku jadi ayah kandungku!" ucap Sinta dengan wajah yang manja pada Gunawan. Sudah kebiasaan Gunawan selalu memanjakan Sinta sewaktu Sinta masih kecil.
"Bagus, Mari kita pulang," ucap Gunawan setelah dia menyelesaikan semua administrasi.
Gunawan memapah Sinta yang masih sempoyongan karena kepalanya pusing akibat minuman keras. Gunawan prihatin dengan Sinta. Sosok anak yang dulu pernah menghiasi hari-harinya. Sinta lebih banyak menghabiskan waktu bersama Gunawan di saat week end daripada dengan sang ibu.
Kedua orang berbeda usia dan memiliki ikatan kasih sayang itu berjalan bersama menuju ke parkiran. Gunawan bernapas lega, perasaan khawatir kemarin ternyata benar adanya. Andai saja pagi dini hari itu Gunawan tidak terbangun dari tidurnya, mungkin Sinta sudah berpindah ke negara orang.
Mobil melaju menuju rumah Gunawan yang ia tinggali dengan beberapa pelayan dan terkadang Rustam juga menginap di situ.
"Sinta, apa yang terjadi hingga kau mabuk-mabukan seperti itu? Lihatlah jika papa tidak cepat datang menolong mungkin kau sudah dijual oleh para penjahat itu ke luar negeri." Gunawan memecah keheningan yang tercipta di mobil itu.
Sinta menatap wajah lelah lelaki yang ada di sampingnya itu.
"Pa ... Sinta marah, kesal dan kecewa karena mama bilang jika Sinta bukan anak kandung mama dan papa. Pa, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa papa meninggalkan kami dan sekarang mama malah hidup dengan lelaki yang diakui mama sebagai ayah kandung Sinta? Apa yang sebenarnya kalian sembunyikan dari Sinta?" ucap Sinta dengan nada setengah berteriak.
Emosi dalam diri Sinta tidak bisa ia bendung lagi. Setelah berteriak Sinta menangis tersedu-sedu. Gunawan menoleh ke arah gadis dewasa yang akan selalu dianggap kecil olehnya.