
Di kontrakan Wulan.
"Aku yakin ini perbuatan Tia, hanya dia yang tahu kalau aku menyamar sebagai baby Sister," ujar Wulan di dalam hatinya.
Wulan terus meronta, dirinya tidak mau polisi membawanya. Namun apalah daya, polisi itu lebih kuat dari dirinya. Tidak ada kesempatan untuk berlari pergi dari para polisi yang menangkapnya.
Wulan hanya bisa pasrah saat polisi membawa dirinya untuk pergi. Diri Wulan merasa yakin jika Tia lah yang sudah melaporkan dirinya.
Mobil polisi melaju menyusuri jalanan di tengah hutan pinus. Rumah-rumah berjarak cukup jauh hingga ratusan meter. Wulan memikirkan berbagai cara agar bisa terbebas dari polisi. Hingga tepat di ujung jalanan hutan, mobil polisi berhenti untuk mengisi ulang bensin.
"Pak, bolehkah aku ke kamar mandi sebentar? Kalau tidak salah, di sana ada kamar mandi umum," ucap Wulan sembari menunjuk ke arah belakang pom bensin.
Polisi itu melirik ke arah yang ditunjuk. Tertulis sebuah papan kecil bertuliskan toilet. Wulan yang semula kedua tangannya sudah diborgol pun terpaksa harus dilepaskan sejenak. Polisi mengikuti dari belakang sampai akhirnya berjaga di depan kamar mandi.
"Aku harus bisa melarikan diri dari polisi itu." Wulan celingukan melihat ke sekitar. Namun, tidak ada satu benda pun yang dapat digunakan untuk melarikan diri.
Jendela di kamar mandi tersebut sangat tinggi dan bila diperhitungkan, ukurannya sangat kecil. Tidak muat untuk menjadi jalan keluar Wulan. Dia melirik ke arah dua bilik kamar mandi yang sama sekali tidak memiliki jendela.
Wulan membasuh wajahnya sembari berpikir. "Tidak ada cara lain, selain melawan." Semua keberanian yang ada dalam dirinya, ia kumpulkan karena saat ini adalah kesempatan yang ia tunggu.
Wulan menarik napas dalam-dalam, lalu keluar dari kamar mandi. Polisi yang berjaga di depan kamar mandi, segera mengeluarkan borgol dan melingkarkannya di tangan kiri. Tiba saatnya ketika polisi hendak melingkarkan borgol di tangan kanan Wulan, wanita itu menepis kuat tangan polisi dan menginjak kaki polisi itu dengan kencang sampai berteriak kesakitan.
"Hei, jangan lari kau!" Dua polisi yang menangkap Wulan itu berteriak dengan kencang ketika langkah kaki wanita itu semakin cepat menjauh dari mereka.
Wulan mengerahkan seluruh tenaga yang dimilikinya untuk berlari dengan kencang menjauh dari kejaran dua polisi itu. Yang dipikirkan dalam kepalanya hanyalah pergi sejauh mungkin agar tidak tertangkap.
Dengan satu tangan yang sudah terborgol, Wulan berlari tanpa tahu ke mana arah dia pergi. Dia masuk kembali ke dalam jalanan hutan pinus yang berlainan arah dengan jalan yang tadi ditempuh oleh mobil polisi.
Beberapa dahan dan tangkai pohon kecil, kerap kali tersangkut di borgol tangannya. Membuat langkah kaki Wulan pun sempat terhenti beberapa saat untuk melepaskan. Keringat mengucur deras membasahi sekujur tubuh Wulan. Dia tidak peduli walaupun kakinya sudah bergetar karena kelelahan berlari.
Wulan terus melangkahkan kakinya sampai terjatuh di tanah yang berlumpur akibat hujan beberapa hari lalu. Dia merintih kesakitan karena lututnya terbentur dengan bebatuan kecil di dalam lumpur. Salah satu alas kaki yang digunakannya terlepas dan mengakibatkan kakinya luka tersandung oleh ranting kering di tanah.
Bertepatan dengan itu, terdengar suara teriakan dari polisi yang mengejarnya. Sejauh dan sekuat apapun dia berlari, ternyata langkah kakinya sangat kecil sampai bisa terkejar oleh polisi itu.
Wulan merangkak sedikit demi sedikit keluar dari tanah berlumpur itu dan bersembunyi di belakang sebuah batu besar yang tertutup oleh semak-semak belukar. Dia berharap bisa bersembunyi dari kejaran dua polisi itu, setidaknya sampai mereka pergi melewatinya begitu saja.
"Aku harus bisa melewati semua, aku harus bisa kabur dari mereka! Aku tidak mau mendekam di penjara!!" ucap Wulan di dalam hatinya. Dia tidak ingin hidupnya berakhir di penjara. Tidak ada yang boleh menahan dirinya, dia ingin hidup bebas. Wulan berusaha menyemangati dirinya sendiri agar bisa kabur.
Tidak sampai hitungan lima menit, dua polisi itu sudah berada tepat di balik bebatuan. Wulan sekuat tenaga menjaga deru nafasnya agar tidak bersuara. Sebisa mungkin meminimalisir gerakan. Dua polisi itu terdengar berdebat menentukan jalan mana yang harus mereka pilih karena mereka berada di tengah hutan yang jauh dari jalanan, akan sulit untuk mencari keberadaan Wulan.
"Ayo kita ke sana saja!" usul salah satu polisi. Percakapan mereka diakhiri dengan langkah kaki yang terdengar menjauh.
Napas Wulan bergemuruh karena lelah. Detak jantungnya tidak seirama, mengakibatkan aliran darah di dalam tubuhnya menjadi panas dan itu membuat produksi keringatnya pun semakin meningkat sampai membuat kedua telapak tangan dan kakinya basah.
Wulan berusaha untuk bangkit dengan bersandar ke batu besar tersebut, tetapi baru saja setengah berdiri, telapak tangannya yang licin tidak sanggup menopang tubuhnya hingga membuatnya kembali terduduk jatuh di tanah.
Braak!
"Aargh!" pekik Wulan yang jatuh ke tanah.
Suara jatuh tubuhnya itu begitu keras, sontak membuat kedua polisi itu tahu di mana keberadaan Wulan. Sama halnya dengan Wulan, dua polisi itu sudah lelah mengejar. Terlihat jelas dari kedua pakaian mereka yang basah karena keringat.
"Tidak, lepaskan aku! Aku tidak bersalah." Wulan meronta dan memberontak, mencoba melepaskan diri dari genggaman tangan dua orang polisi yang mengapit tubuhnya itu.
"Diam dan berkerjasama lah, Nyonya!" teriak salah satu polisi wanita yang ingin memborgol Wulan. Dia sangat kesal pada Wulan yang ingin kabur, membuat kedua polisi wanita itu harus mengeluarkan tenaga dua kali lipat.
Borgol di tangan Wulan sudah kotor, tetapi tidak membuat polisi itu tinggal diam dan membiarkannya begitu saja. Salah satu polisi itu melingkarkan borgol di tangannya sendiri sehingga tangan Wulan dan salah satu polisi saling berdekatan. Hal itu dilakukan agar Wulan tidak bisa melarikan diri lagi.
Meskipun sekuat apapun kini Wulan memberontak dan mencoba untuk melepaskan diri, dia hanya akan bisa menyakiti pergelangan tangannya sendiri. Mereka berjalan bersamaan dengan cepat menuju tempat mobil berada. Tanpa kelembutan dan belas kasihan, Wulan dipaksa untuk masuk dan duduk di kursi belakang bersama dengan seorang polisi.
"Kau tidak bisa memperlakukan kami seperti ini. Hukuman yang kau dapatkan akan lebih berat jika tidak kooperatif!" cerca polisi yang tangannya juga diborgol itu. Mereka gemas sekali dengan sikap Wulan yang sulit diajak kerjasama.
Wulan tidak bisa melakukan apapun selain hanya diam merasakan sakit di lutut dan kakinya yang terluka, kini mulai terasa perih. Hingga akhirnya mobil polisi itu pun sampai di kantor polisi. Wulan ditarik masuk ke dalam ruangan interogasi.