
"Alhamdulillah acara lamaran berjalan dengan lancar. Jadi, apakah kalian sudah menentukan tanggal pernikahannya?" tanya Hans tiba-tiba membuat Aris yang sedang bersenda gurau dengan Devi langsung mengalihkan tatapan mereka ke arah Hans.
"Satu Minggu lagi," celetuk Aris membuat Devi yang ada di sampingnya langsung melotot dan menyikut perut Aris dengan sangat kencang hingga membuat tunangannya meringis kesakitan.
"Mas Aris, itu terlalu cepat!" bisik Devi tanpa menurunkan pandangannya. Ia tetap melotot ke arah Aris yang hanya bisa menampilkan cengiran kudanya.
"Nggak papa, Sayang. Umur Mas kan, sudah tua. Apa kamu tidak kasihan kepada Mas, Devi? Mas Hans dan Mbak Tia saja sudah memiliki tiga orang anak sekarang ini. Satunya masih calon, sih. Tapi kan, tetap saja aku ini sudah ketinggalan jauh!" cicit Aris dengan wajah memelas kepada Devi yang masih memelototi Aris.
"Om Aris, kok nikahnya cepet banget? Hasna nggak mau hadir, ah. Masa nanti Hasna dan kak Hasan izin lagi sekolahnya? Bulan besok saja, Om. Bulan besok kan, Hasna dan kak Hasan sudah tidak memiliki libur lagi. Jadi, bisa kita pakai waktu libur itu untuk acara pernikahan Om dan ibu guru Devi," ujar Hasna membuat semua orang tertawa. Apalagi, mereka melihat ekspresi tidak menyenangkan dari wajah Aris yang kini tampak cemberut akibat ucapan keponakannya itu.
"Bener loh, Aris. Untuk apa nikah cepet-cepet, coba? Yang penting kan, Devi sudah menjadi tunangan kamu. Nggak perlu khawatir lagi kalau ada yang mau ambil dia dari kamu," sahut Mery merasa lucu dengan anaknya yang satu ini.
"Iya sih, Ma. Tapi kan, Ma, bisa aku dan Devi kan baru lamaran doang. Pasti cowok lain di luar sana sudah banyak yang ngincar Devi. Aku nggak mau sampai kecolongan, Ma," kekeuh Aris tetap pada pendiriannya pada keputusannya menetapkan tanggal pernikahannya bersama dengan Devi.
"Iya, iya. Yang sudah kebelet kawin mah, memang beda, ya," canda Tia masih terus tertawa karena hari ini seharian dirinya terus meledek Aris dengan berbagai alasan. Mulai dari kegugupan sang adik yang menyampaikan niat baiknya kepada keluarga pihak wanita, ataupun hal lainnya.
"Om. Nanti kalau Om sudah nikah sama Bu Devi, apakah itu artinya Hasan dan Hasna bisa terus berjumpa dengan Bu Devi?" tanya Hasan tiba-tiba membuat semua orang menatapnya.
"Tentu saja dong, Sayang. Kenapa tidak? Tapi kan, di sekolah kalian juga pastinya bisa bertemu dengan Bu Devi, kan?"
"Tapi setelah Om dan Bu Devi menikah, Hasna ingin menghabiskan waktu Hasna bersama ibu guru Devi, Om," uajr Hasna.
"Apa? Tidak bisa seperti itu, dong! Mana bisa! Kan, Om sudah menikahi guru kalian yang cantik ini," ujar Aris terdengar begitu posesif di telinga dua pihak keluarga.
"Tapi Bu guru Devi juga guru Hasan dan Hasna, Om!" timpal Hasan membela sang adik yang sedang memperjuangkan agar bisa mendapatkan banyak waktu untuk dihabiskan bersama dengan guru favorit mereka di sekolah.
"Sudahlah, Aris. Kau mengalah saja. Lagipula, mereka adalah keponakan kamu. Untuk apa kamu cemburu kepada mereka hanya karena hal sepele seperti ini?" ledek sang ayah membuat Aris dan Devi merasa malu.
"Satu Minggu? Apakah kalian semua setuju?" potong Hans agar mereka kembali bisa bicara dengan serius.
"Baiklah. Kami pihak keluarga wanita setuju karena ini lebih baik daripada kita terus memperlama proses pernikahannya. Secara, jika dilihat-lihat, Aris dan Devi sudah sangat lengket. Jujur saja, saya hanya khawatir jika mereka kelewatan batas," ujar Ayah Devi membuat Aris merasa malu secara bersamaan dengan Devi.
"Baiklah. Tapi, waktu satu Minggu itu hanya bisa mendirikan pesta pernikahan sederhana, tidak terlalu mewah. Apakah tidak mengapa, Tuan?" tanya Hans agar semuanya transparan dan jelas oleh pihak keluarga wanita.
"Tidak apa-apa, Tuan. Yang penting, pernikahannya berjalan lancar dan nyaman untuk para tamu yang hadir."
Hans mengangguk. Tia dan Hans teramat sangat bersyukur karena Aris sudah memiliki calon istri yang tepat seperti Devi. Kepribadian Devi yang sangat lembut lah yang menjadi nilai plus dari Mery dan juga Tia, serta Hans dan ayah kandung Aris dalam menilai Devi.
Satu Minggu kemudian.
Aris menegang dadanya yang terus berdetak kencang yang berasal dari jantungnya. Aris tak henti merapalkan doa-doa agar ia bisa sukses disaat pengucapan ijab qobul, saat-saat menegang bagi para mempelai pria.
Suara lantunan ayat suci Al-Quran mulai terdengar, dan menandakan jika acara pernikahannya sedikit lagi akan di mulai.
"Om. Kok Om bisa keringetan, sih? Kan di ruangan ini ada AC. Dingin banget lagi," ujar Hasna dengan bingung melihat Aris terus mengelap keringat yang terus bercucuran dari kening, hidung, leher dan juga bagian lainnya.
"Iya nih, Hasna. Om bener-bener gugup. Doakan ya, semoga Om bisa mengucapkan ijab qobul dengan lancar tanpa terbata-bata dan banyak berpikir," Jane Aris, mengusap rambut panjang milik Hasna yang dibiarkan di gerai indah. Rambut yang halus dan wanginya pun sangat menenangkan.
"Aris, ayo siap-siap. Kamu nggak mau ijab qobul?" tanya Hans begitu memasuki ruangan Aris dan melihat adik iparnya sedang asyik mengobrol dengan anaknya.
"Iya, Kakak ipar. Sebentar lagi."
"Doakan Om ya, Sayang." Aris menyempatkan diri untuk mengusap berkali-kali Surai Hasna sebelum mengikuti langkah Hans yang akan membawanya ke aula pernikahan, tempat dimana hotel yang menjadi sasaran mereka dalam melakukan acara resepsi.
Beberapa menit kemudian ….
"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya penghulu kepada semua para tamu yang menghadiri acara ijab qobul itu.
"SAHHH!" teriak para tamu serentak membuat Aris langsung mengusapkan tangannya ke wajah dan tak henti mengucapkan kata 'hamdalah' untuk mensyukuri keberhasilannya dalam mempersunting pujaan hatinya.
Bukan saja Aris yang berbahagia karena telah berhasil melewati masa-masa tegang yang sering terjadi oleh para mempelai pria karena takut salah sebut, kini Devi juga ikut menitihkan air mata dengan sangat terharu. Kedua orang tua Devi langsung memeluk Devi dengan begitu erat.
"Mak, jaga selalu diri kamu, ya. Turuti semua apa yang dia katakan dan inginkan. Jangan jadi istri durhaka hanya karena membangkang salah satu ucapan suami kamu," ujar ibunda Devi tanpa melepaskan pelukan mereka.
"Iya, Ma. Devi akan selalu ingat pesan Mama ini."
"Dev, ayo. Kita harus segera pergi dari kamar ini karena suami kamu sudah menunggumu di luar sana sejak tadi. Tadi, mas Hans yang memberitahukan aku, kalau Aris sudah tidak sabar menunggu kedatangan bidadari cantiknya," goda Tia setelah Devi melepaskan pelukan dari sang ibu.
Semua mata menatap ke arah Devi yang terlihat cantik dengan balutan gaun pengantin berwarna putih dan jilbab putih bertabur Swarovski. Sungguh bagai bidadari yang turun dari surga, menyejukkan siapapun yang melihatnya.
Hal yang sama juga mereka lakukan saat melihat Tia yang begitu cantik dengan jilbab yang menutupi auratnya. Tia berpenampilan menyesuaikan diri dengan keluarga sang pengantin wanita.
"Masyaallah, cantik sekali istri mas. Kamu juga ikut dirias, Sayang?" tanya Hans menggamit tangan Tia dengan posesif. Seakan tidak rela istrinya menjadi pusat perhatian para tamu laki-laki. Memang Tia sangat cantik memakai jilbab, dan hal itu baru ia lakukan saat pesta pernikahan adiknya.
"Apa mas menyukai Tia dengan penampilan tertutup begini?" tanya Tia malu-malu. Dia belajar banyak dari Devi sang adik ipar. Tidak salah jika Aris memilih Devi. Selain Devi memiliki jiwa keibuan, Devi juga pandai dalam hal agama. Tia ingin belajar banyak dari istri adiknya itu.
"Tentu saja, Sayang. Mas akan membelikan semua pakaian gamis dan jilbab yang bagus untukmu sekalian jika perlu se-tokonya mas belikan untukmu!" Ucap Hans yang sangat senang dengan keinginan Tia untuk merubah penampilannya.
"Mas! Gak sekalian tokonya juga kali!! Kan pasti ada yang kekecilan dan kebesaran ukurannya. Mana bisa Tia pakai, apalagi perut Tia makin membuncit seperti ini!" Tia meras heran dengan sang suami. Mana bisa dibeli semua baju dalam toko, tentu saja yang ukurannya tidak muat untuk Tia atau kebesaran.
"Iya, gak apa-apa lah. Siapa tahu kamu ingin buka toko baju muslimah sekalian. Mas akan dukung apa yang ingin kau inginkan, Sayang!"
"Maaas ... Ingat kita lagi di prosesi acara pernikahan Aris dan Devi. Tidak enak dengan para tamu yang terus lihatin kita yang ribut sendiri!" hardik Tia pada sang suami yang selalu nempel dengannya.
"Hehe ... Tidak rela mas itu, melihatmu dipandangi oleh tamu laki-laki. Mas ingin bawa kamu ke kamar dan mengurung mu di sana. Biar kamu hanya untuk mas. Mas akan puas pandangi kamu terus! Besok-besok dandan yang cantik seperti ini hanya di rumah saja ya! Pokoknya mas gak ikhlas kamu jadi pusat perhatian para lelaki!!"
Tia memutar malas bola matanya. Suaminya jika sudah mulai posesif maka tidak akan ada yang mengalahkannya.
"Mas .... Jangan banyak bicara terus, ayo kita salami para tamu undangan kita. Tidak baik jika kita hanya berdiri terus di sini!" Ajak Tia pada Hans untuk menyalami para tamu undangan.
Acara pun berlangsung dengan meriah, senyum kebahagiaan terus terukir di wajah Aris. Hingga senyum itu tiba-tiba hilang saat sosok wanita yang dandan dengan sederhana datang memberikan ucapan selamat pada Aris.
"Selamat atas pernikahannya, Mas. Maaf aku datang tanpa diundang. Hanya ingin meminta maaf atas semua yang pernah aku lakukan pada mas Aris. Aku telah salah, mengejar bulan yang tinggi walau tahu ada bumi yang menerima ku apa adanya," ucap Alya menyalami Aris.
Aris hanya diam tidak menjawab apapun, tangannya pun tertangkup di dada, menolak bersalaman dengan Alya.
Alya pun tersenyum kecut dan tanpa melanjutkan kata-katanya lagi, dia menyalami Devi.
"Selamat atas pernikahan kalian, Mbak Devi. Semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawadah wa Rahmah."
Alya menyalami sambil mendoakan Devi. Dengan senyum yang tulus, Devi mengaminkan apa yang diucapkan oleh Alya.
"Terima kasih, Mbak Alya. Semoga mbak juga akan mendapatkan kebahagiaan yang sama," ucap Devi dengan tulus.
Devi adalah wanita yang tidak mau menengok masa lalu, baginya Alya adalah masa lalu Aris dan Devi tidak mau mengungkit tentang masa lalu Aris, hanya akan memperkeruh suasana hati. Apa yang ada sekarang itulah yang harus dijaga. Walau Devi tahu, pastilah Aris masih mencintai wanita di masa lalunya itu.
Alya pergi meninggalkan pelaminan dan seketika itu pula dia meninggalkan pernikahan Aris dan Devi. Tia dan Hans hanya menatap wanita yang terlihat sembab matanya itu.
"Mas, kasihan Alya ya. Sebagai wanita aku bisa merasakan bagaimana sakitnya jika orang yang dicintai malah menolak. Sungguh itu sangat meyakinkan," ucap Tia pada Hans. Dia merasa bersimpati dengan nasib Alya yang ditolak oleh Nigam.
"Kasihan sih kasihan, tapi semua juga karena kesalahan Alya sendiri. Sudah ada lelaki yang berniat baik dan tulus kepadanya malah ia campakkan begitu saja dan ia khianati. Mungkin itu karma untuknya. Kita hanya bisa mendoakan agar Alya menemukan jodoh yang lain. Seperti dirimu yang mendapatkan aku, Sayang!" ucap Hans tanpa memalingkan sedikitpun matanya menatap ke bibir Tia yang merah merekah.
"Benar juga, siapa tahu jodoh kedua Alya lebih baik dari sekarang," ucap Tia polos. Dia tidak tahu apa maksud di balik ucapan suaminya.
"Yuk kita ambil makan, mas tidak mau jika anak mas yang ada di dalam kandunganmu ini merasa lapar karena ibunya sibuk memikirkan orang lain!" ajak Hans pada Tia karena sesi makan siang bersama sudah dimulai.
"Mmm ... boleh juga, Tia ingin makan salad aja, Mas. Nampaknya seger, tapi kok antriannya banyak ya? Oh ya di mana Hasan dan Hasna?" Tia celingukan mencari kedua anaknya.
"Tenang, Sayang. Mereka ada di bagian es krim. Lihatlah mereka begitu senang dan bahagia, hampir separuh tempat mereka kuasai sendiri," jawab Hans sambil menunjuk ke arah tempat Es krim berada.
"Duh, Anak-anak itu tidak bisa lepas dari yang namanya es krim. Padahal dulu Tia waktu hamil mereka paling tidak suka dengan es krim, eeh ... Mereka sekarang malah seneng banget makan es krim, apalagi Aris selalu memanjakan mereka dengan es krim!"
"Biarkan saja mereka enjoy dengan masa kecil mereka. Kelak jika sudah dewasa mereka akan bisa mengambil cerita kalau dulu masa kecil mereka sangat seru dan tidak jauh dari es krim," sela Hans.
Tia melirik ke arah sang suami yang menurutnya kegemaran anaknya akan es krim itu menurun dari Hans.
"Mas ... Ambilkan salad itu, Tia pengen banget deh, mau ke sana sepertinya susah karena banyak antrian," pinta Tia merengek pada Hans.
"Baiklah, Permaisuri ku. Silakan permaisuri duduk, biarkan sang raja yang akan berburu salad untuk permaisuri," ucap Hans menirukan film favorit Hasna.
"Terima kasih, Mas. Kau memang suami yang bisa diandalkan. Sekalian es krim ya, Mas. Melihat Hasna makan es krim tiba-tiba Tia ingin es krim juga." Tia mengerlingkan matanya manja.