
Merlyn menatap sekeliling awak media yang kini menyoroti nya, dia memegang pipinya yang memanas bekas tamparan Noah. Sungguh dirinya juga merasa malu karena Ayah nya dengan eteng menampar dirinya. Namun Merlyn tidak bisa berbuat apa-apa, semua ini juga karena ulahnya sendiri.
"Jika pak Polisi tidak bisa menangani kasus ini, biarlah media yang memberikan tanggapan mereka mengenai hukum di tempat ini." Gunawan tidak main-main dengan ucapannya.
"Biarkan kami menangani kasus ini, Tuan Gunawan anda silahkan tunggu selagi mengurus kasus ini. Dan untuk anda, Tuan Noah, sebaiknya anda tinggalkan tempat ini. Kami tidak ingin ada keributan lagi." tegas petugas kepolisian tidak ingin melihat adanya lagi keributan di kantor polisi apalagi tersorot media.
"Saya ingin mendampingi putri saya, ini surat penangguhan penangkapan putris saya dan saya akan melakukan apapun agar Merlyn tidak mendekam di penjara." Noah menyodorkan lagi surat penangguhan pada petugas polisi, hal itu membuat Gunawam geram saat jalur hukum bisa di jual belikan dengan uang.
"Hukum tetap hukum, jika wanita ini tidak segera mendekam di jeruji besi, dia tidak akan sadar atas semua perbuatannya yang memalukan. Bisa saja perempuan ini mengulangi kesalahannya kedua kali pada Hans!" ucap Gunawan sudah kelewatan sabar dengan Noah yang selalu bertele-tele mengulur waktu mencari celah agar Merlyn terbebas dari hukumannya.
"Kita bisa bicarakan ini dengan kekeluargaan, saya berjanji tidak akan membiarkan putri saya tanpa pengawasan dan tidak akan membuat masalah lagi." ujar Noah mulai meyakinkan lagi petugas polisi dengan mengimingi uang sebagai gantinya.
"Semua saya serahkan pada petugas kepolisian, jika Merlyn bebas hanya karena uang. Saya pun bisa membayar kalian dua kali liat asal wanita ini mendapat hukumannya. Tapi satu yang saya baru tahu! Hukum di negara ini sangat tidak bijak jika membebaskan tahanan nya hanya karena sogokan uang." ucap Gunawan menatap satu persatu petugas polisi yang ada di hadapannya, hal itupun tidak luput dari sorotan media yang masih gencar meliput kejadian di kantor polisi.
Kegaduhan di kantor Polisi semakin menjadi karena Noah yang bersikeras agar Merlyn tidak mendekam di penjara dan Gunawan yang tetap ingin menindak lanjuti hukum.
"Cukup! Kalian membuat gaduh kantor kami saja, disini saya yang memutuskan. Harap tenang." hardik petugas polisi melerai Noah dan Gunawan.
"Saya mau berbicara berdua dengan putri saya." Noah menarik Merlyn untuk berbicara empat mata ketika petugas kepolisian memberi izin.
"Sakit, Pa! Papa kenapa jadi kasar sama Merlyn." pekik Merlyn memgang pergelangan tangannya yang memerah akibat Noah mencekram dan menarik putrinya tanpa berperasaan.
"Papa juga tadi dengan enteng nampar, Merlyn." ucap Merlyn lirih namun Noah tidak menghiraukan nya.
"Kamu buat Papa malu, Merlyn! Mau taruh di mana wajah saya kalau berita ini sampai ke telinga publik dan para klien tahu?! Mau taruh di mana Merlyn."
Merlyn memejamkan matanya sambil tertunduk, engan menatap sang Ayah yang sedang murka. Dia tidak pernah melihat Noah sampai semarah ini padanya, terlebih sampai berani main tangan.
"Kenapa kau ini sangat bodoh! Seharusnya pikirkan resiko apa yang akan terjadi, kamu ini cantik dan masih gadis, Merlyn! Dimana otak kamu, mengejar-ngejar suami layaknya perempuan murahan." Noah memegang ujung pangkal hidung nya, rasanya kepalanya hampir pecah tidak habis pikir dengan jalan pikir sang putri.
"Mau tidak mau, kau harus bertanggung jawab atas perbuatan mu sendiri. Hadapi Polisi itu." Noah sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi denga putrinya, namun ia tetap akan mencari cara agar masalah ini tidak tersebar ke publik, dia tidak mau menahan malu.
Merlyn terbelalak dengan perkataan sang Ayah, dia bersimpuh dengan bulir air mata yang membasahi pipinya. Memohon minta bantuan pada Noah, dia tidak mau dipenjara.
"Tidak! Aku tidak mau di penjara, Pa. Merlyn mohon lakukan sesuatu." mohon Merlyn berlutut di depan Noah.
Noah tersentak, tidak biasanya ia melihat putrinya sampai bersujud seperti ini di kakinya. Merlyn yang terlihat angkuh dan disegani banyak orang, wanita cantik seperti Merlyn siapa yang tidak mau. Lelaki manapun mengantri untuk menjadi pendamping wanita bule itu, tapi hanya karena mencintai suami orang membuat Merlyn seperti wanita murahan dan tidak laku.
Sebenarnya apapun bisa Merlyn dapat kan dengan uangnya jika tujuan wanita bule itu mendapatkan Hans hanya karena harta, namun bukan itu tujuannya. Merlyn hanya salah mencintai Hans yang sudah memiliki keluarga bersama Tia. Mau bagaimanapun posisi Merlyn yang menyukai Hans tetap tidak dibenarkan.
Awak media yang semakin banyak memenuhi kantor Polisi. Petugas kepolisian sudah mengusir agar wartawan tidak terus menyoroti kantor mereka, tapi tetap saja wartawan itu seperti mendapat job lebih. Seperti saat ini, satu wartawan nekat memberi pertanyaan pada Gunawan.
"Sebenarnya apa yang dilakukan oleh anak dari pebisnis, Noah? Bisa tuan menceritakan kronologi nya pada media?" tanya salah satu wartawan menyodorkan Mikrofon reporter didepan Gunawan.
Jujur saja, Gunawan malas menanggapi wartawan yang bertanya di hadapan nya sekarang. Namun jika pihak Polisi belum juga menindak lanjuti kasus Merlyn, Gunawan sendiri yang turun tangan.
"Tuan? Apakah yang akan Tuan lakukan jika pihak Polisi enggan menindaklanjuti kasus ini?" tanya wartawan itu lagi karena tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang sebelumnya oleh Gunawan.
Wartawan itu terus menghujam Gunawan dengan beberapa pertanyaan, namun satu pertanyaan pun tidak di jawab. Dia malas berurusan dengan media, itu sama saja ia mengumbar aib keluarga anaknya sendiri. Terlebih Hans termasuk pebisnis sukses dan terkenal di kalangan publik.
"Tuan?"
Gunawan hendak menjauh dari sorotan media. Tapi wartawan mengikuti nya sambil terus menyodorkan mikrofon dan memberi pertanyaan mengenai kasus Merlyn.
"Apakah pihak Polisi akan menyetujui surat pembebasan bersyarat atas Merlyn?" bukannya menurut dan pergi, wartawan malah beralih dengan memberi salah satu Polisi pertanyaan.
Polisi itu bingung, dia tidak mau citranya turun hanya karena ulah wartawan. Pihak Polisi yang seharusnya menjadi panutan bagi masyarakat akan tercoreng jika publik mengetahui jika Polisi memberi kebebasan pada Merlyn hanya dengan beralasan wanita itu adalah putri dari pebisnis yang memiliki kuasa besar di dunia bisnis.
"Kami bekerja sesuai prosedur yang sudah di tentukan, yang bersalah tetap bersalah dan harus di hukum." jawab Polisi dengan tegas.
"Maka dari itu demi kenyamanan, sebaiknya kalian tinggalkan kantor kami. Jangan membuat kerumunan dengan kamera-kamera yang terus menyorot, disini kantor polisi butuh ketenangan." timpal Polisi lainnya.
"Tapi kami disini juga bekerja, kami memerlukan informasi terkini." kata si wartawan menyorot kamera sepenuhnya pada polisi.
Melihat banyaknya wartawan berdatangan membuat Noah tidak bisa menampilkan wajahnya depan kamera, dia sangat malu sekarang.
"Bangun! Bangun, Merlyn." Noah mengangkat lengan putrinya agar bangun.
"Kamu lihat!" Noah menunjuk para wartawan. "Apa yang akan Papa katakan pada mereka?! Apa kamu tidak memikirkan nasib perusahaan Papa setelah ini, hah?!" bentak Noah sudah kehilangan akal menghadapi Merlyn.
"Apa yang kamu inginkan dari Hans? Kamu ini gadis cantik, banyak laki-laki yang mengantri ingin memilikimu, yang pasti yang tidak beristri." ucap Noah dengan nada yang mulai ia kecilkan.
"Merlyn cinta sama Hans, Pa. Dari jaman kuliah, Hans udah buah Merlyn tertarik." ucap Merlyn terlalu melibatkan perasaannya pada Hans.
Noah di buat frustasi dengan putrinya, tidak mungkin Merlyn wanita terhormat bisa memiliki pola pikir yang dangkal. Noah tidak bisa membayangkan bagaimana nasib perusahaan nya setelah berita ini tersebar.
"Anak kurang ajar!" Noah hendak menamar Merlyn lagi kalau saja pihak Polisi tidak menghampiri nya dan memborgol dua pergelangan tangan Merlyn.
"Papa! Tolong Merlyn, lepasin borgol ini dari tangan Merlyn." Merlyn meronta, tangannya memberontak.
"Diam! Atau kami semakin menambah hukuman mu." hardik petugas polisi membuat Merlyn bungkam.
Merlyn pasrah, walaupun dalam hati nya terus memberontak. Dia menyalahkan semua hal yang menimpanya pada Hans dan Tia.
"Kau lihat saja perempuan kampung! Aku tidak akan tinggal diam." ucap Merlyn dalam hati menaruh dendam pada istri dari lelaki yang dia sukai.
Wanita bule itu sangat yakin bahwa mendekam nya dirinya di penjara tidak akan lama karena Noah tidak akan membiarkan putrinya menderita. Ayahnya itu akan membebaskan dirinya secepatnya mungkin.
"Nona Merlyn sementara kami tahan agar tidak membuat kekacauan lagi pada keluarga Tuan Hans, perihal menindak lanjuti kasus ini. Kami akan segera mungkin mengabari anda, Tuan Gunawan." ujar salah satu Polisi mulai memproses kasus Merlyn dengan dua pasal. Penculikan dan penjebakan terhadap Hans dan membuat kekacauan terhadap rumah tangga orang lain.
"Saya harap pihak kepolisian dapat menghukum perempuan itu dengan hukuman yang sesuai dan memberinya pengajaran agar menjadi gadis yang lebih baik lagi dan terhormat, saya juga orang tua. Peran orang tua sangat penting bagi anaknya." Gunawan sengaja berbicara sangat lantang agar Noah bisa mendengar nya dengan baik.
"Saya permisi." ucap Gunawan lalu meninggalkan kantor polisi dengan perasaan yang puas.
Noah menatap Merlyn dengan tatapan sulit di artikan. Kecewa, marah. Semuanya memenuhi dirinya, tapi saat ini karir dirinya lebih penting, apalagi perusahaan nya akan menjadi sorotan. Kapanpun bisa dengan mudah di jatuhkan oleh lawan bisnisnya.
"Tuan, sebaiknya anda juga meninggalkan kantor ini. Putri anda akan baik-baik saja disini." ucap petugas Polisi pada Noah.
Noah tidak menjawab, dia melenggang pergi dari tempat itu. Sudah kehabisan kata-kata dan akal, mau seberusaha mungkin membebaskan putrinya, tetap saja hukum bertindak atas putrinya.
Awak media masih setia menunggu di depan kantor Polisi tiba-tiba mengerubungi Noah yang hendak memasuki mobilnya.
"Saya tidak punya waktu untuk meladeni kalian." Noah menjauhkan wajahnya dari sorotan media, dia sedikit mendorong para wartawan yang menghalangi jalannya menuju mobil.
"