
"Hai," jawab Hans datar dan dingin. Dia pun memilih tidak memerdulikan keberadaan Ridho. Dia tidak ingin terjadi keributan, sudah cukup dengan membeli saham.
Ridho menghela napas kasar, merasa dirinya tidak diterima untuk sekadar menyapa Hans seperti tidak berkenan.
"Huft, sombong sekali! Hanya pegawai aja sok-sokan," lirih Ridho menghina Hans. Namun, ucapan Ridho ternyata terdengar di telinga Hans.
"Maaf, Ridho. Apa maksudmu berkata begitu?" tanya Hans menghentikan kegiatannya mengecek laporan keuangan. Alis Hans menyatu, dia heran ada masalah apa Ridho dengan dirinya.
Ridho tersenyum sinis, lalu menjawab pertanyaan Hans, " Hah! Pegawai rendahan seperti kak Hans itu memang tidak patut untuk disapa. Sudah baik aku menyapa kakak, tapi mengapa kakak hanya menjawab singkat?"
"Aku sudah menjawab sapaan mu bukan? Kau tidak lihat kalau aku sedang sibuk?" timpal Hans heran dengan kesombongan Ridho.
"Ck ... Sudahlah, ngomong sama orang dengan level beda emang susah! Lebih baik aku lihat Wulan yang pasti terlihat cantik dengan baju barunya," ucap Ridho seakan lagi-lagi menghina Hans.
Hans hanya melengos tidak mau menanggapi apa yang dikatakan oleh Ridho, dia berpikir tidak perlu meladeni orang b*doh dengan kebodohan pula. Hans pun kembali fokus pada pekerjaannya.
Di dalam butik.
Tia memilih gaun kebaya untuk sang ibu, akan dia senadakan dengan warna gaunnya. Pernikahan mendadak tidak sempat untuk membuat couple untuk seluruh keluarga.
"Wow, ternyata ada adik tercintaku di sini, apa kabar, Tia? Kau yakin mau membeli gaun di sini? Di sini mahal semua lho, takutnya nanti kau tidak bisa bayar, dan terpaksa aku deh yang bayarin lagi. Dulu sih gak masalah, sekarang aku gak maulah, bayar aja sendiri! Atau paling kau akan dilaporkan ke polisi jika tidak sanggup bayar. Maka dari itu aku beri tahu sekarang!"
Wulan yang melihat Tia sedang memilih baju di butik yang sama, membuatnya tidak suka. Tia diam dan tetap fokus memilih baju, sama sekali dirinya tidak tertarik untuk meladeni Wulan.
Merasa tidak ditanggapi, Wulan semakin kesal, di setiap lorong deretan baju ada saja baju yang dijadikan Wulan sebagai bahan untuk mengejek Tia.
"Mbak, sebenarnya apa masalahmu? Suami sudah aku relakan saat kau mengambilnya, sekarang apa lagi? Masih kurang kau membuatku menderita?"
"Masih kurang, Tia! Sebelum kau kembalikan surat tanah yang kau curi dari mas Ridho!" balas Wulan dengan nada yang semakin meninggi dan mengundang perhatian semua orang.
"Apa?! Surat tanah yang mana? Surat tanah semua pakai namaku mbak, tidak ada yang pakai nama mas Ridho! Itu hasil aku mengumpulkan semua uangku dari jualan on-line! Masih bisakah itu aku mengambil milik mas Ridho? Itu pas saja waktunya aku beli saat masih bersama mas Ridho!"
"Sst ... ternyata pelakor tho itu! Gayanya selangit! Dasar tidak tahu malu!!"
Nyinyiran pedas hinggap di telinga Wulan. Tanpa menoleh ke belakang Wulan berlalu meninggalkan kerumunan, menuju ke kasir. Dua gaun yang dipilih Wulan harganya mahal.
"Sudah semua, Nyonya," tanya sang kasir.
"Sudah, Mbak. Berapa totalnya, Mbak?" tanya Wulan dengan senyum kesombongan.
"Total Semua 12 juta. Mau pakai kartu kredit atau uang Cash, Nyonya?" tanya penjaga kasir.
"Pakai kartu ini saja, Mbak," jawab Wulan menyerahkan kartu debitnya.
"Baiklah, tunggu sebentar, Nyonya," ucap sang penjaga kasir.
Tidak berapa lama kemudian.
"Maaf, Nyonya. Saldo kartu anda tidak memenuhi. Silakan cek ulang," ucap sang kasir.
"Apa?!" Wulan terkejut bukan kepalang. Mana mungkin saldonya berkurang karena baru saja Minggu kemarin dia mendapatkan arisan sebanyak 100 juta.
"Pakai yang ini, Mbak. Mungkin aku salah ambil kartu," ucap Wulan memberikan kartu yang lain.
"Maaf, Nyonya. kartu ini pun saldonya tidak memenuhi. Apa mungkin mau di Cash saja?" tanya sang kasir.
Deg ... Deg ....