
Tia tidak mungkin melangkah dengan cepat karena saat ini dirinya sedang hamil, salah-salah malah Tia yang terpeleset. Berakibat pada kandungannya yang baru berusia empat bulan.
"Hasnaa ... Jangan lari-lari, Nak! Awaaas ...!" teriak Tia memegangi perutnya agar bisa berjalan dengan cepat.
Hampir saja Hasna terpeleset dan tercebur ke kolam renang dewasa jika tidak ditangkap oleh lelaki yang bertugas menjaga kolam renang tersebut.
"Ups! Berhati-hati lah nona kecil. Jangan lari-lari di tepi kolam, bisa berbahaya, apalagi tanpa ada orang tua di sampingmu," ucap lelaki itu dengan mengusap wajah Hasna.
"Terimakasih, Om. Hampir saja aku jatuh di kolam," ucap Hasna dengan tersenyum.
"Hasna ... Kau tidak apa-apa, Sayang?" tanya Tia berada di belakang lelaki itu.
"Tidak apa-apa, Ma. Untung ada om itu yang menyelamatkan Hasna," ucap Hasna sembari menunjuk ke arah lelaki yang menolongnya.
"Mm ... Terimakasih, Pak, sudah menolong anak saya," ucap Tia berterima kasih pada lelaki itu.
"Sama -sama, Nyonya!" jawab lelaki itu berdiri dan memutar badannya menghadap ke arah Tia.
"Mas Ridho? Mas ada di sini?!"pekik Tia terkejut dan menutup mulutnya agar suaranya tidak sampai terdengar karena saking kerasnya.
"Mm ... Maaf, Nyonya! Saya tidak mengenal Anda, mungkin anda sudah salah orang," ucap lelaki sembari memegang topi lalu berlalu begitu saja meninggalkan Tia.
Tia terbengong melihat perubahan diri Ridho. Biasanya dia akan mengejar Tia, tapi kali ini Ridho hanya diam saja dan pergi meninggalkan Tia.
"Ma ... Mama ... Kenapa om itu pergi begitu saja? Apa dia marah dengan kita karena Hasna sudah membuat cemas semua?" Tanya Hasna yang juga terheran melihat sikap Ridho yang tiba-tiba dingin setelah bertemu dengan ibunya. Anak sekecil itu bisa merasakan perubahan sikap orang dewasa.
"Mama tidak tahu, Sayang. Sudahlah yang penting Hasna sudah mengucapkan terimakasih pada om itu. Sekarang kita pulang saja yuk ... Nanti papa mencari kita gimana?" bujuk Tia pada Hasna. Sedangkan Hasan masih asyik bermain.
"Ayo, Ma. Kita hampiri dulu kak Hasan. Dia masih asyik bermain dengan teman yang baru ia kenal," ucap Hasna.
"Benar, kakakmu sedang bersenang-senang rupanya, ayo kita hampiri kakakmu," imbuh Tia menggandeng tangan Hasna mendekat ke arah Hasan.
"Kak Hasan, ayo kita pulang! Hari sudah sore!" teriak Hasna meminta sang kakak untuk segera keluar dari kolam khusus untuk anak-anak.
Hasan dengan patuh meninggalkan kolam renang tersebut dan mengikuti Hasna juga Tia. Hasan memang tipe anak pendiam tidak suka banyak bicara, dia lebih mirip ayahnya.
Setelah selesai berbilas dan berganti pakaian, ketiga orang itu pun pulang ke rumah.
"Ma ... Lapar, kita mampir ke warung chicken katsu yuk ... Hasna sangat lapar. Kejadian tadi membuat Hasna merasa lapar sekali," ucap Hasna dengan pandangan memelas.
"Memang apa yang terjadi dengan kamu, Dek?" tanya Hasan pada adik perempuannya itu.
"Kakak tahu tidak, aku tadi hampir jatuh di kolam renang dewasa. Untung ada om Ridho. Dia baik deh, tapi juga aneh. Dia sepertinya marah dengan mama. Apa mama mengenal om Ridho?" jawab Hasna tiba-tiba pertanyaannya untuk Tia serasa mencubit hati Tia.
"Mmm ...." Tia mengulur waktu untuk menjawab pertanyaan sang anak. Dia merasa takut jika sampai salah satu di antara anaknya ada yang mengadu pada Hans.