Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab. 144


Gunawan tersenyum kecut, tidak mungkin dia akan mengatakan apa yang telah terjadi tadi. Takut jika sampai Tia tahu apa yang dikatakan oleh Clara, pasti Tia akan merasa terpukul.


"Papamu ada di dalam, dan ayah Gunawan tadi mampir untuk bersilaturahmi saja," jawab Meri yang pada akhirnya mau mengeluarkan suara juga.



Gunawan menoleh ke arah Meri lalu tersenyum, dirinya merasa lega karena Meri sudah akrab dengan Tia.



"Papa!" teriak Tia menghampiri Cahyo yang datang sambil membawa selembar kertas salinan akta kelahiran Tia.



"Tia? Kau sudah kembali? Di mana Hans? Apa dia tidak bersamamu?" tanya Cahyo sembari memeluk sang putri dengan penuh kasih sayang.



Gunawan tersenyum kecut melihat Tia lebih dekat dengan Cahyo daripada dengan dirinya. Ada perasaan cemburu di hati Gunawan melihat Tia begitu menyayangi Cahyo.



Gunawan hanya bisa menghela napas, dia tahu diri selama ini yang berjuang membesarkan dan merawat Tia sejak kecil adalah Cahyo. Cahyo dengan segala kemampuan dan kesabaran buang ia miliki. Satu sisi dia harus mengurus sang istri dan anak yang lain, di sisi lain dia harus merawat anak yang bukan darah dagingnya.



"Mas Hans sedang parkir mobil, paling bentar lagi, di halaman ada Aris, kali aja dia sedang ngobrol dengan Aris. Mereka berdua kan sangat cocok," jawab Tia manja pada sosok lelaki yang merawatnya sejak kecil.



Gunawan terdiam melihat keakraban Tia dan Cahyo.



"Begini rasanya saat melihat orang yang kita sayangi lebih perhatian dan sayang pada orang lain. Ternyata ikatan darah kalah dengan kasih sayang orang yang ada menemani tumbuh kembang sedari kecil hingga dewasa," batin Gunawan.



"Sebentar, Tia. Papa mau menyerahkan ini dulu pada tuan Gunawan," ucap Cahyo meminta Tia untuk melepaskan pelukannya.



"Apa itu, Pa?"



"Ini tuan Gunawan meminta salinan akta kelahiran mu."



Dahi Tia mengernyit tanda ingin tahu untuk apa ayah kandungnya meminta salinan akta kelahiran Tia.



"Ayah, untuk apa salinan akta kelahiran Tia itu?" tanya Tia pada Gunawan.



"Untuk ayah simpan, ayah ingin memilikinya sebagai tanda bahwa ayah sangat menyayangi mu," jawab Gunawan beralasan. Dia tidak mungkin mengatakan tentang tujuannya meminta salinan akta kelahiran Tia.



Tia tersenyum mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Gunawan. Tia merasa bahagia telah memiliki dua orang ayah yang sangat menyayangi nya. Walau dulu dia harus sembunyi-sembunyi jika ingin mendekat pada sang papa. Takut jika sang mama memarahinya.



"Baiklah, ayah pulang dulu. Masih ada yang harus papa selesaikan. Tia, ayah pamit ya ... Nanti kalau sudah waktunya kau melahirkan kabari ayah. Ayah akan datang untuk menemani putri ayah, kamu mau kan mengabari ayah? Ayah ingin sekali menjadi ayah yang ada di kala sang putri merasa kesakitan."



Mata Gunawan berkaca-kaca, ia ingin menebus masa-masa yang telah hilang dari kehidupan Tia. Tia menghampiri Gunawan lalu memeluknya. Dia sangat bahagia mendapatkan sosok ayah kandung yang perhatian padanya.




Gunawan pun juga sama, dia menyeka air matanya. Entah mengapa tiba-tiba hatinya merasa sesak, antara sedih dan bahagia menjadi satu.



"Terima kasih, Tia. Kau masih ingat ayah. Bagi ayah apa yang diberikan oleh putri kesayangannya pasti lah sangat berharga. Baiklah, ayah pergi dahulu," ucap Gunawan mengecup pucuk kepala Tia.



"Hati-hati, Ayah. Sampaikan salamku pada Bu Clara," sahut Tia.



"Cahyo, Meri. Terimakasih, saya pamit dahulu."



Gunawan menyalami Cahyo dan mengangguk pada Meri.



"Sama-sama, Tuan," jawab Cahyo mengiringi langkah Gunawan keluar dari rumahnya.



"Ayah, di sini?" Hans yang sedang mengobrol dengan Aris pun menghampiri ayah mertuanya.



"Iya, ada urusan sebentar. Ini ayah mau pulang karena sudah sejak tadi di sini," jawab Gunawan tersenyum ke arah sang menantu yang kini menjadi rekan bisnisnya.



"Maafkan Hans, Yah. Tidak tahu jika ayah yang datang. Hans kira tamu papa," ucap Hans beralasan. Dia sengaja menghindari Tia yang sedang merajuk.



"Tidak apa-apa, titip Tia ya ... Maklumi jika ibu hamil itu suka berubah-ubah moodnya. Ayah pulang dulu."



"Mm ... Benar, Pa. Insyaallah Hans selalu sabar kok. Hati-hati, Yah," jawab Hans mengantar Gunawan hingga sampai masuk ke mobil.



"Huft! Anak mu bikin Hans pusing ayah, apa semua ibu hamil memang suka aneh-aneh keinginannya? Habis makan gudeg Jogja, minta makan durian!" gumam Hans di dalam hati.



Gunawan melajukan mobilnya meninggalkan rumah Meri. Dia bergegas kembali ke Hotel untuk membujuk Clara. Gunawan belum lega jika belum berbicara dengan Clara.



Mobil Hans sampai di lobi hotel. Gegas dirinya masuk ke dalam hotel. Langkah Gunawan terhenti saat melihat sang istri sedang berbicara serius dengan sosok lelaki yang usianya tidak terpaut jauh dengan diri Gunawan.



Gunawan mencari tempat untuk mendengarkan apa yang dibicarakan sang istri dengan lelaki tersebut.



"Hentikan, Ray!! Kau jangan mengganggu hidupku lagi, aku sudah bahagia dengan hidupku yang sekarang! Aku harap kau tidak mengganggu ku maupun keluargaku?!" ucap Clara dengan amarah yang ditekan. Dia tidak ingin semua orang melihat ke arahnya.



Clara pergi meninggalkan Raiyanza yang berdiri mematung, melihat Clara pergi begitu saja. Ray pun mengikutinya dari belakang. Clara masuk ke dalam lif yang diikuti oleh Ray. Gunawan keluar dari persembunyiannya. Sayang, dia tidak bisa mengejar Clara dan Ray.



"Siapa lelaki itu? Mengapa dia mengejar Clara dan Clara tampak marah dengan lelaki itu? Ada hubungan apa antara Clara dan lelaki itu?" gumam Gunawan di dalam hati dia pun segera naik ke lantai tiga di mana kamarnya berada. Dengan menaiki tangga, Gunawan bergerak cepat agar bisa mengikuti kedua orang tersebut.