Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab 38


"Nama yang keluar untuk bulan ini adalah ... Wulan!" ucap Sarita dengan senyum yang mengembang.


"Yey ...!" Wulan berteriak kegirangan seperti anak kecil. Semua mata memandang ke arahnya dia pun menghentikan tingkahnya seketika.



"Mm ... Maaf, ini hanya bentuk kebahagiaan saja," ucap Wulan sambil merapikan riasannya.



"Wah ... Wah ... Apa jeng Wulan sebegitu butuhnya uang hingga dapat arisan saja heboh begitu, bulan kemarin aja dapat malah suruh masukin lagi, katanya sedang tidak butuh uang. Jadi kali ini jeng Wulan butuh uang ya?"



Retno si ratu julid pun mulai melakukan aksinya. Dia berhasil membuat Wulan tergagap.



"Ah, bukan begitu. Saat ini saya ingin membeli perhiasan saja. Kemarin ada promo bagus-bagus, sayang jika dilewatkan begitu saja," elak Wulan. Berusaha menutupi keadaan dirinya.



"Wah, iyakah, Jeng? Kalau begitu mau juga dong info promo set perhiasannya," pinta ratu julid. Dia memang tidak akan berhenti sampai targetnya malu atau pergi begitu saja.



Deg!



"Aduh, bagaimana ini? Mana semua hanya karanganku saja, lebih baik aku segera pulang Semua ini gara-gara mas Ridho! Dasar suami tak berguna!" kecam Wulan dalam hati. Baru kali ini Wulan merasa terhina. Sebelumnya dia selalu yang menjadi sosok yang disegani di antara istri pengusaha lain.



Wulan bergeser dari tempat duduknya, dia bergerak mendekati Sarita.



"Maaf, Jeng. Aku ambil uangnya, soalnya mau ada perlu. Suami sudah nyuruh pulang barusan," ucap Wulan pada Sarita.



"Oh, iya. Jeng. Silakan, dan tanda tangan penerimaan dulu," jawab Sarita dengan senyum yang dipaksakan. Sebenarnya dia sendiri juga berharap agar namanya yang keluar.



"Baik." Wulan segera menandatangani bukti penerimaan dan kemudian dia menghitung uang ratusan ribu yang berjumlah sepuluh gepok. Setelah dikira pas, Wulan pun berpamitan. Dia ingin segera melancarkan aksinya, berbekal dengan uang yang didapatnya dari arisan itu.



"Terimakasih semua, saya pamit dahulu," ucap Wulan terburu-buru dia tidak ingin mendapat banyak pertanyaan dari ratu julid. Wulan mengambil langkah seribu untuk bisa bebas dari teman-teman sosialitanya yang dulu begitu dibanggakannya.




"Haloo ..! Baiklah, Aku sediakan dananya kau bergegaslah untuk mulai mengerjakan apa yang sudah aku perintahkan. Pokoknya kita harus bisa mendapatkan tanda tangan Ridho, apapun caranya!" ucap Wulan berbicara dengan sosok yang dia perintahkan untuk mendapatkan tanda tangan Ridho.



"Siap, Nyonya! Aku akan segera melaksanakan perintah nyonya," jawab seorang wanita yang akan menjadi pesuruh Wulan.



Wulan mematikan ponselnya, setelah selesai memberi perintah pada anak buahnya. Seringai licik tercetak indah di sudut bibir Wulan.



"Mas Ridho, kini kau akan merasakan bagaimana enaknya hidup kere! Aku bersyukur kau menceraikan aku di saat aku sudah banyak tabungan" gumam Wulan dengan bibir cerah menyala.



Wulan berjalan keluar dari bank, saat baru dapat beberapa langkah, mata Wulan menatap tajam ke arah wanita yang berjalan ke arahnya.



"Tia! Ternyata kau ada di sini!" Wulan berkata dengan raut wajah yang tidak bersahabat. Baru pertama kali melihat Tia masuk ke bank.



"Iya, Mbak. Kenapa? Ini kan bank umum, siapa saja bebas donk untuk masuk ke dalam," ucap Tia sinis. Entah mengapa jika di dekat Wulan, dia selalu sensitif. Pengkhianatan yang dilakukan oleh Wulan dulu masih bertahta dihatinya dan tidak akan pernah bisa dilupakan.



Mata Wulan membulat sempurna saat mendengar jawaban Tia yang berani. Sungguh di luar dugaan Wulan, kini Tia membalas semua yang dikatakan oleh Wulan. Tidak seperti Tia yang dulu, yang begitu patuh dan hormat kepadanya.



"Tia, mengapa kau berubah seperti ini, Tia?!" ucap Wulan heran dengan perubahan Tia.



Tia mencebik kesal, waktunya tersita banyak jika harus meladeni Wulan. Kasihan Hans yang menunggu di dalam mobil.



"Maaf, Mbak. Waktu tidak banyak, aku hanya ingin membuka tabungan dan ATM di bank ini. Jadi, maaf, permisi!" Tia berlalu begitu saja meninggalkan Wulan yang masih kesal.



Wulan pun melanjutkan langkahnya, namun sebelum sampai di mobilnya. Wulan tiba-tiba merasakan sakit di bagian perutnya.



"Aaa ... Sakit ...!"