Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab. 162


Waktu perebutan tender pun dimulai. Semua perwakilan perusahaan saling berebut satu sama lain dengan menawarkan harga paling rendah. Bukan sembarang menawarkan harga rendah saja, tetapi mereka semua juga menawarkan spesifikasi yang baik. Persaingan terus meningkat sampai membuat beberapa perusahaan akhirnya menyerah dan tidak lagi melanjutkan.


Atmosfer persaingan pun terasa sangat kuat. Semua saling berambisi untuk mendapatkan tender itu. Begitu juga dengan Clara dan Gunawan yang kali ini bersaing secara terang-terangan. Clara dan Rai yang sudah merasa yakin karena mendapatkan koleksi dari penyelenggara, tampak percaya diri tanpa merasa takut sedikit pun.


Hari sudah semakin terik dan memasuki jam istirahat. Semua perwakilan dari perusahaan pun makan siang bersama, berbaur satu sama lain, melupakan sejenak persaingan diantara mereka layaknya sebagai teman bisnis. Namun, tidak dengan Clara dan Gunawan yang tampak berjauhan dan tidak ingin saling dekat.


Waktu istirahat pun selesai, semua pesaing kembali ke tempat masing-masing dan acara tender pun kembali dilanjutkan. Layaknya semakin tarik matahari yang berada tepat di atas kepala mereka, atmosfer persaingan pun kembali terasa semakin panas. Hingga salah satu pihak penyelenggara yang merupakan teman Rai pun menghampiri dan membisikkan sesuatu di telinga Rai.


Rai membelalakkan mata dengan sempurna. "Apa? Kau bilang akan membantuku untuk memenangkan tender ini, tapi sekarang kenapa di saat terakhir kau mengatakan tidak bisa membantu?"


Pria paruh baya yang setengah rambut di kepalanya sudah berubah menjadi putih itu pun hanya mengangkat kedua tangan di atas dada. "Maafkan aku. Perusahaan mu terlalu beresiko untuk memenangkan tender ini. Setelah aku pikir-pikir, perusahaan luar negeri itu pasti akan bertanya tanya kenapa perusahaan mu bisa memenangkan tender ini sedangkan kalian sedang berada di ambang kebangkrutan. Tentu saja mereka tidak ingin mengambil resiko. Maaf, aku harus kembali."


"Sial!" umpat Rai. Dia memberitahukan juga kepada Clara. Sontak membuat wanita paruh baya itu memaki Rai.


"Apa?! Mereka tidak mau membantu? Kamu gimana sih, Rai? Aku sudah percaya penuh padamu. Hartaku sudah habis kau pakai untuk mempersiapkan semua ini. Kau bilang dengan mengirim sejumlah uang pelicin, orang itu akan membantu kita? Lalu apa ini Rai!!" suara Clara tertahan, dia tidak bisa sepenuhnya melampiaskan amarahnya karena masih berada di dalam ruangan yang pastinya para pengusaha berkumpul.


Clara dan Raiyanza sekarang merasa khawatir dengan hasil keputusan tender di akhir acara tepat pada sore hari. Clara menggigit ujung kuku jari telunjuk kanannya, merasa gelisah menanti detik-detik pengumuman siapa yang akan memenangkan tender. Hingga hasil pengumuman pun menyatakan bahwa perusahaan Gunawan yang memenangkannya.


Kedua tangan Clara mengepal dengan kuat di samping tubuh. "Sial! Kita kalah dari pria itu!" umpat Clara dengan raut wajah kesal. Gunawan hanya tersenyum sinis saat melihat sang mantan istri bersama selingkuhannya kalah telak dengan dirinya.


Penyerahan tender dari sang vendor pun berjalan dengan meriah, semua memberikan tepuk tangan pada perusahaan Gunawan yang telah memenangkan tender tersebut. Satu persatu para pemilik perusahaan yang ikut bersaing pun memberikan ucapan selamat pada Gunawan. Terkecuali Clara dan Rai yang duduk terlemas di kursinya.


Wajah keduanya sudah seperti benang yang kusut tatapan kebencian semakin terlihat di mata Clara. Rai berdiri mengajak Clara untuk segera kembali ke hotel. Dita sang sekretaris hanya diam mengikuti dan cukup melaksanakan tugasnya dengan baik.


"Rai, bagaimana ini? Perusahaan kita semakin bangkrut, bagaimana kita akan mencukupi gaji pegawai dan dana operasional perusahaan?" Clara mendesak Rai untuk berpikir mengatasi masalah perusahaan yang semakin terpuruk.


"Tenang, Clara. Aku juga sedang berpikir bagaimana cara kita untuk mendapatkan dana suntikan!" Rai yang mengemudikan mobil rental dari hotel terlihat sedang berpikir.


Bagaimana akan mendapatkan dana jika semua para investor sudah tidak mau menjalin kerjasama sama dengan perusahaan Clara. Semua para pemilik saham itu sudah mengambil saham mereka, setelah tahu kalau Gunawan sudah tidak menjadi pimpinan perusahaan tersebut.


"Dari mana kita akan mendapatkan dana, Rai?" tanya Clara lagi. Dia benar-benar merasa sudah tidak ada jalan lain.


"Apa?! Kau sudah tidak waras, Rai? Aku akan tinggal di mana jika rumah itu aku jual?" tanya Clara dengan raut wajah tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Rai.


Rai terdiam, sedangkan Dita sedari tadi hanya diam menyimak saja. Dia tidak berani berkata apa-apa. Dita merasa jika dirinya tidak akan menerima gaji, untuk itu Dita berpikir untuk mengundurkan diri dan mencari pekerjaan di perusahaan lain.


"Sepertinya keadaan sedang tidak kondusif, aku harus mencari baru loncatan agar bisa mendapatkan pekerjaan baru secepatnya," gumam Dita di dalam hati.


Dita berusaha bersikap setenang mungkin, tidak ingin menimbulkan kecurigaan dari sang majikan.


Mobil pun sampai di hotel tempat mereka menginap, mumpung hari baru menjelang sore, mereka segera bertolak kembali ke Lampung. Beruntunglah masih ada penerbangan menuju ke Lampung.


Sepanjang jalan dua orang yang hidup serumah tanpa ikatan pernikahan itu saling terdiam. Mereka kalut dalam pikirannya masing-masing. Semenjak perdebatan mereka di mobil, Rai dan Clara saling diam. Tidak ada yang mengeluarkan sepatah kata pun selain urusan kepulangan mereka.


Sesampainya di rumah Clara, Rai masih terdiam. Namun pandangan Rai tiba-tiba menjadi terang saat melihat sosok tubuh yang masih muda memakai pakaian yang begitu menggoda.


"Sinta? Kapan kau pulang, Nak?" Clara berjalan mendekat ke arah Sinta yang asyik makan di meja makan.


"Mama?! Mama datang sama siapa??" Sinta menoleh ke arah yang terlihat asing baginya.


"Kau ditanya mama malah balik tanya ke mama!! Cepat jawab dulu pertanyaan mana!!" Clara berkacak pinggang di depan Sinta.


"Sinta baru tadi, Ma. Sinta hanya tinggal di sini beberapa hari saja. Ada yang harus Sinta urus di sini," jawab Sinta membuat Clara mencebik kesal.


"Mengapa kau tidak mau tinggal ddi sini bersama mama, Sinta? Oh ya mama lupa ... Kenalkan ini calon suami mama, Om Rai," ucap Clara memperkenalkan lelaki yang masih segar dan tampan pada sang anak perempuan.


"Hallo, Sinta. Kenalkan saya Raiyanza," ucap Rai dengan tatapan lapar pada wanita muda yang menarik perhatiannya. Rai mengulurkan tangan kanannya untuk mengajak Sinta berjabat tangan.


"Hai, Om ... Sinta," balas Sinta menyambut uluran tangan Rai.


Keduanya untuk beberapa detik lamanya saling menatap. Entah apa yang ada dipikiran keduanya, hanyalah Sinta dan Rai yang tahu.