Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab. 68


Hans terkejut, saat dia bangun melihat bercak dar*h di sprei. Dahi Hans berkerut mencerna apa yang terjadi. Jika Tia seorang janda tidak mungkin jika itu adalah dar*h perawan. Pasti selaput dara Tia sudah robek waktu pertama berhubungan badan dengan Ridho.


"Tia, apakah kamu sedang datang bulan?" tanya Hans pada Tia. Tia yang kelelahan terpaksa memaksa tubuhnya untuk bisa duduk bersandar. Namun saat Tia menggerakkan tubuhnya, diapun merasakan nyeri di daerah pangkal paha dan inti kewanitaannya.



"Aww, mas mengapa sakit sekali. Tubuh bagian bawahku terasa nyeri semua," ucap Tia sambil meringis kesakitan. Saat bersama Ridho dulu, Tia sana sekali tidak merasakan sakit.



"Tia, kamu tidak apa-apa?" tanya Hans yang panik melihat sang mendengar rintihan sang istri.



"Pangkal pahaku sakit, Mas.Dan di daerah itu sangat nyeri," keluh Tia sambil meringis.



"Tia, maaf jika mas lancang bertanya. Mas mau tanya, apakah saat kau berhubungan badan dengan Ridho untuk pertama kalinya kau mengeluarkan dar\*h perawan?" tanya Hans menyelidik.



Tia terkejut mendengar pertanyaan yang menurutnya tabu jika dibicarakan dengan orang lain.



"Mas, apa-apa an sih bahas masa lalu," ucap Tia tidak nyaman dengan pertanyaan Hans.



"Tidak masalah, Tia. Jujur saja, toh kita ini adalah suami istri. Jadi tidak apa-apa, kau beri tahu mas tentang keadaanmu saat menjadi istri Ridho. Masalahnya lihat ada bercak darah di sprei. Dan aku merasakan milikmu masih sempit sekali, seperti belum terjamah.



"Maksud mas Hans, Tia ini masih perawan?" tanya Tia menatap tajam ke arah Hans.




"Baiklah, Mas. Kami setelah menikah dulu, kami tidak melakukan hubungan badan," jawab Tia jujur. Benar, memang saat malam pertama dengan Ridho, Tia tidak merasakan sakit yang teramat sangat sama seperti yang dilakukan Hans pada dirinya.



"Tia, Sprei ini ada darah yang mengering, itu pasti tanda kalau kau masih perawan. Beruntung jika memang seperti itu, akulah orang yang mendapatkan kegadisanmu," ucap Hans lagi. Dia merasa sangat bahagia, ternyata istrinya itu bukan barang bekas dari orang lain.



"Apa, Mas? Jadi aku selama ini masih perawan? Makanya aku tidak hamil juga saat menjadi istri dari Ridho. Selain itu mas Ridho sering keluar kalau malam. Entah pergi kemana, aku tidak mempermasalahkannya," ucap Tia yang menahan sakit di daerah inti kewa-nitaannya.



Hans tersenyum, ternyata dirinya mendapatkan berlian di tengah padang pasir. Sungguh bodoh sekali Ridho, melepaskan batu berlian demi batu kerikil.



"Kau sungguh kuat, Tia. Di saat rumah tanggamu terhempas oleh saudara sendiri, kau masih kuat berdiri dan terus maju ke depan," imbuh Hans.



"Apa mungkin mas Ridho tidak ingin menyentuh tubuh Tia ya, Mas? Kalau dia minat pastilah Tia Sudah hamil sekarang. Namun ternyata semua salah, dan aku sangat bahagia bisa mempersembahkan mahkotaku demi suamiku yang sesungguhnya." Tia menatap ke arah Hans yang sedari tadi memperlihatkan wajah bahagia.



"Tia, aku berharap sekali jika benih yang aku tanam akan bersemi indah di dalam rahimmu," ucap Hans mengecup kening Tia. Sungguh luar biasa sekali kekuasaan Sang Pencipta.



"Mass ... " ucap Tia terkejut.