
Wulan menatap malas pada wanita yang sok peduli dengannya. Semenjak dihukum selama seumur hidup, Wulan lebih banyak diam. Menjaga diri dari bullying para tahanan yang lain.
Kebebasan Wulan sudah tertahan, dan kini dia tidak ingin bermasalah dengan tahanan lain. Wulan memilih pergi dari teman yang lain. Di sudut ruang tunggu, Wulan duduk termenung.
"Wulan ... Kamu ada yang datang menjenguk!" teriak sipir penjaga memanggil Wulan.
Wulan menoleh ke arah sipir itu, dia pun beranjak berdiri dan menghampiri sang supir penjaga.
"Anda memanggil saya?" tanya Wulan untuk meyakinkan dirinya bahwa dia yang dipanggil.
"Benar, kamu dijenguk oleh seseorang. Cepat kau temui sekarang juga sebelum jam bezuk habis!" seru sang sipir seorang wanita dengan badan tinggi tegap.
"Baiklah, Bu. Saya akan segera ke sana," jawab Wulan menunduk patuh. Dia pun bergegas menuju ke ruang khusus untuk menjenguk tahanan.
Wulan memasuki ruangan yang khusus untuk menjenguk tahanan, dia duduk di kursi dengan meja yang dibatasi oleh sekat dari kaca. Jika hendak berbicara pun harus menggunakan telepon.
Mata Wulan membulat sempurna saat tahu siapa yang menjenguk dirinya. Dia adalah Ridho, lelaki yang masih menjadi suaminya karena Wulan belum sempat mengurus proses perceraian mereka.
Wulan mengangkat telepon yang ada di atas meja dengan malas.
Ridho: "Wulan, apa kabar?"
Wulan: "Hmm ... Seperti yang kau lihat!"
Ridho: "Hahaha ... Jangan sombong Wulan! Lihat wajahmu itu!"
Wulan: "Masa bodoh, dengan penilaian orang!"
Ridho: "Hmm ... Sudah wajahmu seperti itu kau ternyata masih sombong!"
Wulan: "Cepat katakan apa tujuanmu menjengukku, Mas!"
Ridho: "Sabar kenapa?"
Wulan: "Jam besuk dibatasi!"
Ridho: "Baiklah, aku akan katakan apa tujuanku datang kemari, asal kau tahu aku datang kemari hanya untuk memberimu kabar berita bahwa aku sudah mengurus perceraian kita. Aku harap kamu mau menandatangani surat gugatan cerai ini agar segera bisa diproses secara hukum dan secara agama. Hanya itu saja tujuanku datang kemari, Aku harap kamu mau bekerja sama dengan baik."
Wulan: "Baiklah aku akan menandatangani surat gugatan cerai ini agar kamu secepatnya renyah dari pandanganku!"
Wulan pun menandatangani berkas surat gugatan cerai yang dibawa oleh Ridho. Baik ridho dan Wulan akhirnya bercerai sah secara hukum dan agama.
Ridho: "Terima kasih bulan kau sudah bekerjasama dengan baik. Asal kamu tahu karena kecerobohanmu yang tidak membaca surat gugatan cerai itu, kamu tidak mendapatkan sepeser pun dari harta gono gini. Aku nasehati berhati-hatilah sebelum engkau menandatangani sesuatu atau engkau akan menyesal!"
Wulan: "Dasar Ridho kurang ajar!! kau benar-benar suami yang sangat kejam! Aku menyesal dulu merebutmu dari tangan Tia, seharusnya aku berjuang untuk kembali kepada suami pertamaku, bukannya menikah dengan dirimu!!"
Wulan berteriak mengamuk di ruangan khusus untuk menjenguk tahanan, sedangkan Ridho tertawa kegirangan melihat Wulan yang tidak berdaya lagi.
"Hahaha ... dasar wanita b0d0h! hahaha ...."
Ridho meninggalkan ruangan khusus untuk menjenguk tahanan, dengan langkah yang sangat kegirangan dia berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan, yakni bercerai dengan Wulan secara sah dan membuat Wulan tidak menuntut untuk pembagian harta gono gini.
Wulan meradang mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari Ridho. Sungguh Wulan menyesal mengapa dulu ia menikah dengan Ridho.
"Wulan, kau terlihat pucat sekali? Kau tidak apa-apa, kan?" tanya Lili teman satu sel dengan Wulan.
Wulan terdiam tidak menjawab pertanyaan Lili. Hari ini benar-benar hari yang buruk untuknya. Tidak berapa lama kemudian, Wulan pun menangis sesenggukan. Ternyata dia sudah tidak kuat menahan segala sesak di dada. Sungguh kehidupan ini sangat memuakkan dirinya. Kewarasan sudah tinggal sedikit.
"Wulaaan ... Wulan, kamu kenapa?!" Lili berteriak panik saat Wulan menangis dan melaung berteriak seperti orang kerasukan. Kini Wulan benar-benar depresi.
Para penjaga yang mendengar teriakan Wulan pun bergegas menuju ke kamar tahanan yang ditempati oleh Wulan. Melihat Wulan yang berteriak dan menangis membuat mereka mendekat ke arah Wulan.
"Wulan!! Kamu kenapa?! Semuanya jangan ada yang mendekat, secepatnya kalian panggilkan dokter ke sini!" teriak salah satu penjaga yang merupakan senior di tahanan itu.
"Pergi ...! Kalian semuanya pergi!! Jangan ada yang mendekat, kalian tidak usah menghiraukan aku!! Pergiiii ... Kalian semua pergiii ...!" Wulan kembali berteriak mengusir semua yang ada di ruangan itu.
Rasa kecewa, kesal, benci, marah, dendam menjadi satu. Wulan sudah dalam tingkat stres yang tinggi. Dia tidak sanggup lagi menahan semua yang ia rasa. Ujian yang datang silih berganti membuat Wulan tidak tahan lagi. Akal dan jiwanya sudah tidak bisa diajak untuk berpikir jernih.
Semua yang ada di ruang tahanan Wulan pun menyingkir. Wulan menatap senjata yang ada di ikat pinggang sang penjaga. Wulan berlari ke arah penjaga itu dan merebut senjata milik penjaga. Sebilah belati yang tajam, sebagai alat perlindungan diri.
"Wulan ... Jangan nekat !!" teriak penjaga yang diambil senjatanya oleh Wulan. Namun, teriakan sang penjaga tidak digubris oleh Wulan. Mata hati Wulan sudah tertutup oleh rasa sakit di dalam hatinya. Dua orang penjaga bersiap untuk merebut senjata dari tanah Wulan.
Wulan mengacungkan senjatanya ke arah orang yang berniat mendekat padanya.
"Pergi ...! Kalian pergi ...! Aku sudah muak untuk hidup!!" teriak Wulan lagi. Rasa kecewa pada sikap sang mantan suami sudah menorehkan luka begitu dalam diri Wulan.
Masih kondisi yang belum terkendali. Wulan masih berteriak dan menangis. Sesekali dia akan menangis dan sesekalj akan tertawa.
"Wulan ... Sabar, Wulan kami di sini adalah keluarga mu. Tidak ada yang tidak peduli dengan mu lagi," ucap Lili dengan lembut.
"Kalian semua bohong, tidak ada di dunia ini yang baik kepada ku. Semua yang baik kepadaku berdasar rasa kemanusiaan saja!" sahut Wulan dengan cepat. Wulan bisa memastikan bahwa dirinya tidak gila.
"Wulan yakinlah bahwa semua masalah pasti ada solusinya, percaya itu," ucap Lili memberi semangat hidup.
Semua yang ada di sini pun merasa lega, pasalnya Wulan bisa dikendalikan. Wulan sudah tidak mengamuk lagi seperti tadi pagi itu.
Harapan hanyalah tinggal harapan. Apa yang dikatakan oleh sahabatnya tentang hidup susah tidak lah mudah itu sudah terpatri dalam ingatan Wulan.
"Terima kasih, Lili," ucap Wulan tetap menggenggam pisau yang dia gunakan tadi.
"Aaa ..." Suara terdengar dari mulut Wulan yang sudah terkapar pingsan.
"Wulaaan ..!!" teriak lili yang tidak kuat melihat tubuh Wulan yang bersimbah da rah di bagian dadanya.