Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
MMSP2 Bab 16


POV. Hans.


Pertemuanku dengan Nigam sungguh tidak aku sangka. Mengapa di saat aku sudah mulai menata kembali masa depan dengan wanita yang aku cintai, masa lalu datang. Seakan tidak memberiku kesempatan untuk bisa terbebas dari rasa bersalah.


Tujuh belas tahun yang lalu ....


Aku mengenal sosok wanita yang anggun, namun semua itu hanya sebatas perkenalan biasa. Tidak ada yang spesial dari kami. Waktu itu aku masih kuliah sembari melanjutkan bisnis ayah. Tidak ada waktuku untuk dekat dengan wanita dan aku pun tidak punya keinginan untuk menjalin hubungan dengan siapapun.


Nama wanita itu adalah Anggun. Anggun adalah adik Nigam -- sahabatku. Kami menjalin persahabatan semenjak awal masuk kuliah, jurusan kami sama dan kami pun juga satu kelas. Tidak jarang aku bermain ke rumah Nigam, dan begitu pula Nigam juga sering bermain ke rumahku untuk mengerjakan tugas dari kampus.


Suatu hari, aku memenuhi undangan keluarga Nigam untuk makan malam. Kata Nigam, keluarganya mengadakan tasyakuran menyambut kedatangan adik Nigam yang datang dari luar negeri.


Aku pun datang karena keluarga Nigam sudah aku anggap sebagai keluargaku sendiri. Rumor yang aku dengar, keluarga Nigam adalah keluarga yang percaya dengan hal mistis. Jadi ketika anak mereka datang maka akan diadakan tasyakuran untuk buang sial.


Keluarga Nigam menurutku baik dan ramah, walau sesekali aku dengar selentingan dari tetangga saat aku beli air mineral di warung tetangga bahwa keluarga Nigam adalah keluarga yang tertutup. Kurang ramah dengan tetangga dan masih kejawen (mengikuti ritual adat Jawa). Namun, aku tidak menggubris apa yang dikatakan oleh para tetangga. Toh aku hanya berteman sebatas wajarnya saja.


Dengan membawa sekeranjang buah, akhirnya aku datang dan disambut dengan hangat oleh keluarga Nigam. Terutama ibu Nigam, dia sangat menyukaimu dan sudah menganggap diri ini sama seperti anaknya.


"Selamat malam, Tante?" sapaku pada seorang wanita separuh baya yang melahirkan Nigam di dunia ini. Ya, dia adalah ibu Nigam. Wajahnya masih cantik dan awet muda. Dia masih sering memakai bahasa Jawa halus jika berbicara dengan sang suami. Aku tidak paham jika mereka sedang berbicara dengan bahasa Jawa halus.


"Malam, Nak Hans. Ayo silakan masuk. Tante kenalkan dengan putri Tante," ucap Ibu Nigam mengajakku masuk. Dia ingin mengenalkan ku pada putrinya.


"Anggun, kenalkan ini adalah nak Hans, teman kuliah kakakmu Nigam. Nak Hans ini hebat lho, masih kuliah tapi sudah menjadi bos!" Ibu Nigam memujiku di depan Anggun.


"Hallo, mas Hans. Kenalkan aku Anggun," ucap Anggun sembari menyodorkan tangannya mengajakku berkenalan. Mungkin kehidupan di luar negeri membuat Anggun begitu berani penampilannya. Dan aneh sekali dia tidak mendapat teguran dari kedua orang tuanya.


"Hallo, Anggun," jawabku menyambut uluran tangannya. Ada hawa dingin yang masuk ke dalam tanganku saat tanganku bersentuhan dengan tangan Anggun. Seketika aku memandang Anggun laksana bidadari. Kecantikannya menurutku begitu sempurna.


"Mas kok melamun?" tanya Anggun dengan tersipu malu.


"Mmm ... Maaf, aku terlalu kagum dengan kecantikanmu. Kau sangat cantik seperti bidadari," ucapku lugu. Aku memang bukan orang yang pandai berkata-kata.


Semenjak itu aku dan Anggun dekat, kemanapun ada Anggun maka di situ ada aku. Kami selalu berdua. Hari-hari ku terasa hampa jika aku tidak bertemu dengan Anggun. Keluarga Anggun pun sepertinya merestui kami. Hingga suatu saat ketika aku hendak ke rumah Anggun, aku dihadang oleh seorang wanita muda.


"Maaf, Mas. Apa mas pacar dari Anggun?" tanyanya tanpa basa-basi menghadang laju mobilku.


"Benar, kamu mengapa menghentikan aku!! Apa maumu?!" tanyaku dengan nada penuh penekanan.


"Mas! Mas harus sadar, Anggun itu bukan wanita baik-baik dia hanya mengincar harta mas! Mas pasti akan dijadikan korban berikutnya, sama dengan kakak saya! Saya datang ke sini untuk minta mbak Anggun bertanggung jawab!"


Entah dari mana wanita mendapatkan air, tiba-tiba wanita itu mengguyur mukaku dengan air mineral dalam botol.


Aku sangat terkejut, dan seketika aku merasakan pusing. Tidak berapa lam kemudian, pusing itu hilang dan wanita yang mengguyur ku dengan air tadi sudah duduk di sampingku! Ya, dia masuk tanpa permisi, dan sekarang duduk di sampingku. Dasar gadis aneh!!


"Mas sudah sadar?!" tanya gadis itu menatap ku dengan tatapan menyelidik.


"Memang aku kenapa? Dan mengapa aku ada di depan rumah Nigam?" tanyaku terheran mengapa aku bisa di depan rumah Nigam.


Gadis itu tersenyum seakan menghinaku. "Mas tidak sadar jika mas datang kemari? Bukannya mas hendak bertemu dengan Anggun?" tanyanya dengan diiringi tawa renyah.


Aku memang tidak sadar karena semua ini di luar kendaliku, aku tidak tahu mengapa diri ini tiba-tiba sangat tertarik pada Anggun.


"Sudahlah, Mas. Sekarang ikut saya. Saya akan mengantar mas menuju ke suatu tempat di mana mas akan tahu apa yang sebenarnya terjadi," ucap gadis itu ingin menunjukkan sesuatu kepadaku.


"Baiklah," ucapku mengikuti kemauan gadis yang tiba-tiba menghentikan jalanku.


Tidak berapa lama kemudian, mobil yang aku bawa masuk ke sebuah masjid. Mungkin gadis itu sudah memberitahu kakak ya untuk bertemu dengan ku.


"Assalamualaikum, Kak," sapa lelaki yang kemungkinan adalah kakak gadis itu. Aku melihat keadaannya sedang tidak baik-baik saja. Badannya kurus dan matanya cekung.


"Wa'alaikum salam," jawabku.


"Maaf, Mas. Ini adalah kakakku. Dia adalah korban dari Anggun. Harta kami sudah terkuras habis, kakak saya depresi ditinggal Anggun."


Aku semakin tidak paham. Aku menyimak dengan baik apa yang dikatakan oleh gadis itu. Aku terkejut mendengar kalau Anggun ternyata gadis yang berbahaya. Dia menggunakan susuk semacam ilmu hitam agar terlihat cantik dan menuruti semua perkataan Anggun. Dan korbannya adalah kakak gadis itu. Semua harta kalanya dikuras habis oleh Anggun dan setelah itu ditinggal begitu saja.


Semenjak kejadian itu, aku pergi menjauhi Anggun. Nigam pun selalu mengejarmu karena Anggun terus mencariku hingga jatuh sakit. Aku mengira Anggun sakit hanya akal-akalannya saja. Kabar yang aku dengar Anggun depresi karena aku tinggalkan.


Nigam terus mencariku karena tidak terima dengan sikapku pada adiknya, walau sudah aku jelaskan berulang kali akan tetapi Nigam tidak mau tahu. Terakhir Nigam pergi bersama keluarganya karena malu. Semua tetangga sudah tahu kalau keluarga mereka adalah penganut ilmu sesat.


Kini setelah lama berlalu Nigam mencariku dan sepertinya akan membalaskan dendam padaku. Sekarang aku sadar bahwa yang di alami Tia tidak lain tidak bukan adalah ulah Nigam.


Aku bergegas menemui Aris dan memberitahunya. Aris pun memberi tahu sang ustadz siapa yang berniat buruk pada istriku. Aku sangat bersyukur semua masalah ini akhirnya terpecahkan juga. Masa laluku ternyata berimbas pada kehidupan istriku.


***