
Keesokan harinya, di meja makan.
"Sinta, hari ini papa akan pergi ke Jakarta untuk meresmikan perusahaan baru papa. Jadi kamu tinggal di sini sendirian tidak apa-apa kan?" tanya Gunawan sembari mengaduk sarapannya.
Sinta yang sedang melahap sarapannya, tiba-tiba berhenti sejenak. Dia terkejut mendengar sang ayah akan meresmikan perusahaan baru. Padahal perusahaan sang mama sedang dalam kebangkrutan. Sungguh sangat kontras sekali keadaan mereka. Bagai bumi dan langit.
"Baik, Pa. Nanti kalau Sinta sudah merasa baikan, bolehkan ikut papa ke Jakarta? Sinta ingin mengenal kak Tia," ucap Sinta beralasan.
Gunawan menatap ke arah sang putri asuhnya itu lalu berkata, "Tentu saja, tapi tidak hari ini. Papa harus bergegas sebelum pesawat papa terbang. Kamu sendirian tidak apa -apa kan? Kamu harus berhati-hati dengan mama dan lelaki itu. Jangan kau memberontak, takutnya terjadi sesuatu dengan mu," ucap Gunawan.
"Tenang, Pa. Sinta akan di sini menunggu papa selesai meresmikan perusahaan" jawab Sinta sembari mengunyah sarapannya.
***
Di Jakarta
Hari ini adalah hari peresmian
perusahaan baru Gunawan. Sebuah garment cukup besar, sesuai dengan bidang yang dikuasainya. Semua orang yang hadir pun bertepuk tangan dengan gembira ketika Gunawan menggunting pita yang membentang panjang di depan gerbang perusahaan. Senyum haru pun memenuhi wajah Gunawan. Satu persatu dari kerabat bisnis yang datang pun menjabat tangan Gunawan dan mengucapkan selamat.
"Terima kasih untuk semua yang hadir, semoga ini menjadi awal yang baik untuk kita semua," ucap Gunawan di akhir pidato sambutannya.
Semua orang turut berbahagia dengan pencapaian yang diraih oleh Gunawan, apalagi mereka turut melihat dan menyaksikan sendiri bagaimana Gunawan membangun perusahaan dari nol setelah keluar dari perusahaan Clara.
Setelah peresmian perusahaan, mereka melakukan tour perusahaan. Beberapa alat besar, baru didatangkan satu hari sebelum peresmian. Masih terbungkus rapi dengan plastik yang nantinya akan digunakan oleh karyawan di bagian produksi. Beberapa mesin jahit pun baru datang setelah peresmian berlangsung.
Karyawan yang belum banyak, membuat Gunawan terkadang turun tangan sendiri dalam mengawasi juga membantu proses produksi. Hasilnya nanti, akan dikirim ke luar kota dan luar negeri. Beruntung, Gunawan memiliki relasi yang luas sehingga tidak perlu bersusah payah untuk memasarkan produk dari perusahaan barunya itu karena banyak kerabat juga yang membantu mempromosikannya.
Gunawan turun dari mobil dan membawa beberapa kantung paper bag di dalamnya, lalu berjalan dengan gagah ke dalam pekarangan rumah Tia dan Hans. Kebetulan Tia tengah menjaga Hasna dan Hasan di depan rumah. Bayi-bayi mungil itu sudah berusia tiga bulan. Mereka sudah pandai mengoceh bahasa bayi.
"Lihat, Kakek bawa mainan dan baju baru untuk dua cucu kembar Kakek," ucap Gunawan setelah jaraknya dekat dengan mereka.
"Ayah, selalu saja datang membawa banyak barang. Mereka masih kecil, belum bisa menerima hadiah sebanyak itu," keluh Tia, tetapi dia juga merasa senang karena ayahnya begitu perhatian pada dua anak kembarnya.
Gunawan hanya terkekeh saja sembari menaruh kantung-kantung itu ke atas kursi depan rumah, lalu berjongkok di hadapan roda troli dua cucu kembarnya. "Mereka menggemaskannya sekali. Ayah tidak tahan kalau tidak memberikan hadiah pada mereka."
Tia mengajak Gunawan untuk masuk ke dalam rumah karena mereka sudah terlalu lama berada di luar. Tia segera membuatkan teh manis hangat untuk sang ayah, lalu duduk bersama di sofa ruang tengah bercanda santai.
"Apakah kau sudah berencana ingin kembali bekerja?" tanya Gunawan di sela canda tawa mereka.
Tia menganggukkan kepala sembari menyesap teh hangatnya. "Ya, tentu saja. Aku sudah terlalu lama tidak bekerja, rasanya tubuhku menjadi lebih terasa berat."
"Tentu saja, aku akan menyewa baby sitter untuk mereka berdua. Aku dan Hans juga sudah membahas ini beberapa waktu lalu," jawab Tia sembari menaruh cangkir tehnya ke atas meja.
Gunawan terdiam, lalu merubah posisi duduknya. "Kalau begitu, Ayah akan memberikan perusahaan baru kepadamu. Kau bisa mengurusnya dengan santai dan bisa menyempatkan diri mu untuk pulang ke rumah melihat kedua cucu Ayah. Apa kau tertarik?"
Senyum lebar pun menghiasi wajah Tia. Dia tidak menyangka jika perusahaan barusan ayah akan diberikan kepadanya. "Perusahaan itu sedang dalam keadaan yang bagus dan penjualannya meningkat pesat, kan? Apakah Ayah benar akan memberikannya kepadaku? Aku bahkan tidak yakin bisa mengelolanya dengan baik."
Gunawan terkekeh. "Tidak masalah. Perusahaan baru itu memang sudah Ayah rencanakan untuk diberikan kepadamu sejak hari peresmian. Lagipula, Ayah tidak memiliki banyak waktu dan tenaga untuk mengelola banyak perusahaan sekaligus."
Tia mengangguk setuju. Dia merasa senang. Dia akan membicarakan ini terlebih dahulu dengan Hans. Jika Hans menyetujui, maka Tia akan segera mencari baby sitter. Gunawan juga tampaknya menyimpan keyakinan penuh bahwa Tia bisa mengelola perusahaan dengan baik.
Setelah asik bermain dengan dua cucu kembar, Gunawan pamit pulang karena hari juga sudah malam. Bertepatan dengan Hans yang baru pulang dari kantor. Mereka sempat makan malam bersama karena Tia sudah memasak makanan kesukaan Gunawan.
"Hati-hati di jalan," ucap Tia sembari melambaikan tangan kanannya di ambang pintu pada sang ayah.
Gunawan membalas lambaian tangan Tia, lalu melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumah Tia dan Hans. Mereka sudah membicarakan tentang pemberian perusahaan pada Tia dan Hans menyetujui apapun keputusan yang diambil oleh Tia.
"Kapan kita akan mencari baby sitter?" tanya Hans setelah mereka di kamar.
"Mungkin besok atau lusa. Aku akan mencari tahu terlebih dahulu ke beberapa teman di mana mereka mendapatkan baby sitter. Kita tidak bisa sembarang memilih baby sitter untuk kedua anak kita, kan? Maka dari itu, harus yang terpercaya dan sudah profesional merawat bayi," jelas Tia. Hans kembali mengangguk setuju.
Keesokan harinya, Tia menghubungi salah satu yayasan baby sitter. Dari info yang sudah dia dapatkan melalui rekomendasi beberapa teman, yayasan itu merupakan jebolan dari baby sitter terbaik yang sudah berpengalaman dan banyak merawat bayi beberapa artis terkenal. Tia akhirnya segera memutuskan untuk memakai jasa itu.
Tia dan pengurus yayasan sudah membuat janji bahwa besok, wanita yang akan menjadi baby sitter dua bayi kembarnya itu akan datang ke rumah. Tia sudah mengisi pendaftaran secara online untuk kontrak kerja sama dengan yayasan.
"Syukurlah," ucap Tia sembari mengelus dadanya. Dia kembali bermain dengan Hasna dan Hasan, menikmati waktu kebersamaan sebelum dirawat oleh baby sitter.
Hari yang dinanti pun tiba. Tia melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah sebelas, waktu kedatangan baby sitter yang dipesan oleh Tia dari yayasan. Hans bersedia untuk menjemput dan membawa baby sitter itu ke rumah. Namun, Tia belum kembali mendapatkan kabar dari Hans.
Tia menggulir ponselnya dan membuka kembali aplikasi berkirim pesan secara online. Masih sama, Hans belum mengabarinya. "Kok, lama, ya?"
Bertepatan dengan itu, terdengar suara dari mesin mobil yang berhenti tepat di pekarangan rumah. Tia bangkit dari sofa dan segera membuka pintu. Tampak berdiri di hadapannya seorang wanita paruh baya yang turun bersama Hans dari mobil.
Kening Tia mengernyit. Dia mengangkat jari telunjuknya ke atas sembari menatap Hans. "Apakah dia baby sitter untuk kita?"
Hans menganggukkan kepala. "Perkenalkan, ini istriku. Tia."
"Salam kenal, Nyonya," sapa wanita paruh baya itu sembari berjabat tangan hangat dengan Tia.
"Mari masuk!" ajak Hans. "Tia, Ibu ini sudah memiliki banyak pengalaman dalam mengurus bayi. Dia juga memiliki sertifikat khusus dari yayasan karena sudah pernah dua kali menjadi TKW sebagai baby sitter. Beberapa artis juga pernah memakai jasanya. Bukan hanya kembar dua, tetapi dia juga sudah pernah merawat bayi dengan kembar tiga dan berkebutuhan khusus. Bagaimana, apakah kau suka?"