Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
MMSP2. Bab. 57


Bab. 56.


Sinta terus menggedor pintu itu dan berteriak seperti orang tidak waras. Sherly yang melihat sang ibu seperti itu menjadi takut dan menangis dengan keras.


"Huuaaa ... Mama ... Sherly takut!" teriak Sherly sembari menangis. Dua kali anak kecil itu berada dalam kondisi yang tidak bagus untuk tumbuh kembangnya.



Mendengar tangisan sang anak, Sinta pun tersadar bahwa ada anak yang harus ia jaga, apalagi ini sudah malam. Sinta menghentikan aksinya, dia beralih ke arah sang anak. Bukannya mendiamkan terlebih dahulu, Sinta malah menarik tangan anaknya begitu saja. Saat ini pikiran Sinta kalut, tidak bisa berpikir dengan jernih.



"Diam kau, Sherly! Jangan menambah beban pikiran mama dengan rengekan mu itu! Pusing kepala mama!" bentak Sinta. Dia tidak peduli jika bentakannya itu akan berefek negatif pada tumbuh kembang mental sang anak.



Suasana dingin karena malam semakin larut memaksa Sinta untuk pergi dari situ. Dia menarik kopernya diikuti oleh Sherly yang tertatih berjalan. Sungguh anak kecil itu telah menjadi korban keegoisan dari sang ibu. Di saat anak seusianya saat ini sedang tidur di dekapan sang ibu, Sherly harus berjalan mengikuti langkah lebar ibunya. Tidak hentinya Sinta mengomel dan memarahi Sherly. Seakan semua itu adalah kesalahan anaknya.



Sementara itu Gunawan hanya menatap dari balik tirai kamarnya. Hati Gunawan sebenarnya tidak tega pada Sherly akan tetapi demi bisa mendidik ibu Sherly agar menjadi manusia yang lebih baik lagi, maka Gunawan harus tega.



"Maafkan opa, Sherly. Opa tidak bermaksud untuk membuatmu menderita, akan tetapi mama mu harus bisa belajar untuk bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi. Tidak seperti itu terus, selalu memanfaatkan orang lain. Sudah waktunya dia belajar untuk bertanggung jawab pada hidupnya sendiri dan juga hidup anaknya!" gumam Gunawan di dalam hati saat melihat Sinta membawa pergi semua koper dan di belakangnya ada Sherly yang mengikuti Sinta dengan langkah terseok karena mengantuk.



Sinta berjalan hingga sampai ke gerbang luar pagar Gunawan. Di situ dia menunggu taksi online yang ia pesan.



"Mama ... Sherly mengantuk! Gendong, Mama!" rengek Sherly yang sudah mengantuk sekali. Namun bukan sambutan yang manis, melainkan penolakan dari Sinta.


"Sherly!! Sudah mama katakan kalau mama sedang repot begini! Kau tidak lihat mama bawa apa, hah!!" hardik Sinta menolak rengekan Sherly.


Sinta bukanlah ibu yang baik, anak sulungnya saja ikut dengan sang ayah. Sepertinya Sinta belum kapok juga dan belum memahami makna memiliki anak. Baginya anak itu adalah beban dan sama seperti benda yang harus bisa dimanfaatkan. Sungguh Sinta adalah sosok ibu yang buruk.




Mobil taksi online yang Sinta pesan sudah datang. Gegas Sinta membuka pintu mobil dan memasukkan semua barangnya ke dalam mobil itu. Sherly duduk di belakang kemudi bersama tas koper Sinta yang berjumlah tiga buah itu. Semua barang yang dimiliki Sinta adalah barang pemberian orang.



"Selamat malam. Sesuai aplikasi, Nyonya?" tanya sang supir membuka percakapan.



"Iya, Pak. Kami ingin ke hotel terdekat. Walau uang kami sebenarnya tidak cukup. Kami baru diusir oleh kakek anak itu! Padahal kami tidak melakukan kesalahan, hanya karena fitnahan dari saudara perempuan saya, papa mengusir kami. Apakah bapak punya pandangan tempat tinggal lain yang lebih murah?" tanya Sinta yang ingin memanfaatkan sopir taksi itu.



Lelaki yang menjadi sopir taksi dengan taksiran usia sekitar empat puluh tahun itu merasa iba dengan Sinta, tapi lebih tepatnya pada Sherly yang terlihat tertidur di kursi belakang.



"Saya ada kost-kostan yang murah di dekat rumah saya. Apa anda berminat? Tapi kos-kosan itu kecil, tidak sebesar kamar di hotel yang biasa Anda sewa, Nyonya. Saya kasihan melihat putri Anda, jadi bagaimana, apa Anda berminat untuk melihatnya?" tanya sopir taksi tersebut sembari menoleh ke belakang melihat Sherly yang usianya sama dengan anaknya yang kedua.



Sinta tersenyum menyeringai, dia tidak mungkin melewatkan kesempatan baik tersebut.



"Baik, Pak. Saya berminat. Yang terpenting putri saya secepatnya bisa mendapatkan tempat istirahat yang layak dan terjangkau, agar kami bisa menghemat uang. Hidup zaman ini semuanya serba mahal, bukan begitu, Pak?" tanya Sinta dengan wajah minta belas kasihan.



"Baiklah, Nyonya. Saya akan mengantar ke kost dekat rumah saya, sekalian saya pulang sudah malam juga," ucap sang sopir dengan ramah.



"Terimakasih, Pak. Saya merasa senang sekali, di tengah badai yang menghantam, masih ada sosok yang mau mengulurkan tangannya untuk membantu saya," ucap Sinta sok bijak hanya untuk menarik simpati dari sopir taksi itu. Sinta tidak tahu jika dirinya akan menuai masalah yang lebih besar lagi di tempat kost nya yang akan dia sewa nanti.