Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
bab 74


Emosi Wulan memuncak tidak terbendung lagi.


"Mas ...!!"



Triing ... Triing ....



Belum selesai Wulan meluapkan emosinya, telepon Ridho berbunyi.



"Hallo, dengan siapa ini?"



Ridho menjawab panggilan teleponnya tanpa memerdulikan Wulan yang sedang naik darah namun tertahan dengan bunyi panggilan yang berasal ponsel milik Ridho.



"Benar dengan tuan Ridho pemilik PT.



"Benar, Nyonya. Saya sendiri. Ada yang bisa saya bantu?"



"Perusahaan kami ingin bekerja sama dengan perusahaan Anda, Tuan. Kami berencana untuk membeli saham yang Anda jual. Bisa kita bertemu besok?"



"Tentu ... Tentu saja, silakan share lokasi dan waktunya. Kami akan datang," jawab Ridho dengan wajah yang berbinar cerah. Seketika ekspresi Ridho berubah, dari yang frustasi dan memelas di depan Wulan, kini menjadi sombong.



"Wulan ... kabar gembira, perusahaan ku akhirnya ada investor. Dan kau tahu siapa investor itu? Dia adalah pemilik perusahaan besar yang mengundang kami para pengusaha muda, untuk datang di acara pesta pernikahannya. Kau harus dandan cantik, di sana kita akan bertemu dengan semua pengusaha sukses lainnya. Apakah kau mau?" rayu Ridho.



Ridho ingin memanfaatkan Wulan sebagai alat untuk memancing para pengusaha lain agar mau membeli sahamnya. membeli sahamnya.



Wulan yang tadinya marah pun mendadak berubah. Wajahnya kini menunjukkan sinar kebahagiaan. Apa yang dikatakan oleh Ridho membawa angin segar untuknya. Wulan memang memiliki niat untuk menggaet pengusaha lain yang lebih sukses dan kaya daripada Ridho.



"Tentu, Mas. Aku mau. Aku akan dandan cantik dan menggoda. Baiklah, mumpung hari masih belum larut, mas antar aku ke butik ya," pinta Wulan pada Ridho.



Ridho terdiam sejenak di dalam hati sebenarnya Ridho tidak mau mengantar Wulan ke butik. Namun, demi melancarkan usahanya maka Ridho pun menyanggupinya.




"Biarin saja mereka, Mas. Toh sudah ada Aris yang mengurus mereka. Masih beruntung kita kasih tumpangan tempat tinggal," jawab Wulan sembari memoleskan lipstik di bibirnya.



"Ya sudah terserah kamu, toh itu orang tuamu sendiri. Suka-suka bagaimana kau mengurusnya," ucap Ridho datar. Di dalam alam pikiran Ridho, anaknya saja tidak mau mengurusnya. Untuk apa ia ikut bingung mengurus, toh dirinya hanya sekadar menantu.



"Ayo, Mas. Aku sudah siap," ucap Wulan yang sudah siap berangkat lengkap dengan tas selempangnya. Wulan terlihat cantik dan menarik walau usianya sudah hampir kepala tiga.



Ridho menatap istrinya, kecantikan Wulan memang sangat menggoda.



"Kau sangat cantik sekali, Wulan?" puji Ridho dengan ekspresi wajah yang sulit untuk di jelaskan.



"Tentu dong, Mas. Istri seorang pengusaha terkenal haruslah berpenampilan menarik dan tidak malu-maluin suaminya," ucap Wulan.



Ridho menghela napas dalam-dalam, mengingat penampilan istri pertamanya yaitu Tia. Tia lebih suka berpenampilan sederhana dan apa adanya dibanding dengan Wulan.



"Ayo kita berangkat," ajak Ridho, ada sedikit penyesalan dalam hati Ridho mengingat Tia yang begitu sederhana.



Wulan dan Ridho pun akhirnya berangkat menuju butik langganan para istri pengusaha. Mobil Ridho pun meluncur dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai di butik yang dimaksud Wulan. Tidak butuh waktu lama akhirnya mereka sampai juga.



Para lelaki menunggu di tempat tunggu sembari ngopi di cafe yang memang disediakan oleh pihak pengelola butik.



Ridho duduk di seberang tempat duduk sosok yang dikenalnya. Lelaki itu sedang asyik memeriksa laporan keuangan yang dikirim sang sekretaris ke email-nya.



"Kak Hans?" Ridho menyapa Hans yang tengah serius memeriksa satu persatu laporan keuangan.



Hans menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya sosok yang ingin sekali dia musnahkan. Andai saat ini tidak sedang berada di tempat umum, pastilah sudah bonyok muka si Ridho.