Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
MMSP2. Bab. 68


Selesai menghabiskan makanan dan minuman, Hans mengajak Tia untuk pulang. Di tengah menuju lobi, Hans terheran dengan pegawainya yang membuat kerumunan sambil tertawa.


"Maaf, Apa yang terjadi?" tanya Hans penasaran apa yang membuat para pegawainya berkumpul dan tertawa.


Melihat yang bertanya adalah pimpinan mereka maka mereka pun segera menghentikan tawa mereka.


"Kenapa kalian berhenti tertawa cepat katakan apa yang terjadi hingga kalian tertawa seperti ini?!" Hans menaikkan nada bicaranya karena kepada pegawainya malah terdiam saat ia bertanya.


"Maafkan kami, Tuan. Kami hanya geli melihat Miss Merlin yang berjalan sambil menutup bagian belakang roknya."salah satu pegawai Hans menjawab sambil menunjuk ke arah Merlin yang berjalan menutupi bagian belakangnya.


Hans mengikuti arah jari telunjuk sang pegawai, seketika Hans pun menutup wajahnya karena merasa malu.


"Astaghfirullah, mengapa kalian tidak membantunya malah menertawakannya?!" hardik Hans kepada para pegawainya.


Para pegawai itu terdiam semua mereka sama sekali tidak menjawab pertanyaan Hans.


"Sudahlah mas mungkin mereka takut kepada Merlin sehingga membiarkan begitu saja Merlin pergi! Toh Merlin juga sudah pergi meninggalkan kantor ini biarkan mereka kembali ke mejanya masing-masing," ucap Tia yang tidak ingin masalah ini menjadi peregang hubungan antara Hans dan para pegawainya.


Semua pegawai Hans akhirnya membubarkan diri, mereka kembali ke meja masing-masing.


"Mengapa bisa Merlin seperti itu jelas sekali apa yang dipakai Merlin tentunya dari bahan yang berkualitas tidak mungkin bisa sobek dengan sendirinya,” ucap Hans sambil berjalan di samping Tia. Mereka berdua kembali ke ruangan Hans terlebih dahulu untuk mengambil tas kerja dan kunci mobil Hans.


"Entahlah, Mas. Mungkin itu karena alias balasan setimpal mencintai suami orang. Aku sumpahin itu oranga sial melulu!" sahut Tia sambil menahan tawa.


"Sayang, tidak boleh begitu, berkata lah yang baik karena kebaikan itu akan kembali pada kita juga," ucap Hans melarang Tia berkata yang tidak baik, apalagi diri Tia saat ini sedang hamil.


"Ups! Maaf, Mas. Baiklah, aku doakan semoga Merlin mendapat pencerahan dan tersadar dari perbuatannya yang melanggar agama!" ucap Tia sambil menengadahkan tangannya ke atas.


Hans merangkul sang istri dengan gemas. Ada-ada saja kelakuan istrinya itu.


"Itu lebih baik, Sayang. Doa yang baik akan kembali juga pada kita. Nah, ayo silakan masuk. Kalau mau lihat CCTV kamu bisa tekan tombol kamera itu," ucap Hans mengajak sang istri masuk ke dalam ruangannya.


"Aku percaya padamu, Mas. Tidak perlu CCTV lagi. Aku yakin kau tidak akan pernah membohongiku," ucap Tia me galungkan tangannya di leher Hans secara tiba-tiba.


"Tentu, Sayang. Aku akan menjaga kepercayaan mu itu sampai aku menutup mata untuk selamanya," ucap Hans melingkarkan tangannya di pinggang Tia.


"Ssst ... Mas, jangan berkata seperti itu. Aku bahagia memiliki suami sepertimu, semoga Allah selalu menjaga cinta kita hingga nanti sampai ke surga-Nya," ucap Tia dengan telunjuk tangan menempel di bibir Hans.


"Boleh?"


"Boleh apa?"


"Tengok dedek bayi?"


"Sekarang?"


"Tentu, saja. Masih ada waktu dua jam menuju magrib."


"Mas ini ... Selalu aja, memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan."


"Ck! Emangnya aku mesin cetak!"


"Hehehe ... Tentu saja, mesin cetak kesayanganku!"


"Maunya!"


"Asyiiik ...."


"Hush! Awaaas ... Pelan -pelan, ada dedek bayi di perutku, Mas!"


"Maaf, Sayang. Terlalu bersemangat!"


"Tahan dulu, pelan -pelan aja!"


"Siap, bidadari ku!"


***


Sementara itu di mobil, Merlin mengeluarkan semua umpatan dari A sampai Z. Dia merasa malu sekali.


"Kurang ajar! Siapa yang berani merobek rokku! Awas saja jika sampai ketahuan pelakunya akan aku jebloskan ke dalam penjara!!" teriak Merlyn kesal. Semua pengawal yang ikut dalam mobil itu terpaksa menutup kedua telinganya


Sepanjang jalan, Merlyn terus saja mengoceh tidak jelas, dia merasa telah dipermalukan di depan publik.


"Sabar, Nona. Nanti nda bisa sakit jika terus marah-marah. Lebih baik simpan tenaga untuk mengalahkan musuh-musuh, Nona," ucap sang sekretaris.


"Benar yang kau katakan, Cloe. Aku harus fokus pada cita-cita dan impianku!" sahut Merlyn.


"Kita harus menyusun rencana yang lebih bagus lagi, saya lihat lelaki itu sangat mencintai istri dan keluarganya," ucap Cloe, tangan kanan Merlyn yang cerdas.


Merlyn mengepalkan kedua tangannya. Demi apa yang ia impikan dia harus berjuang.


"Baiklah, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Merlyn yang mempercayakan semua urusan bisnis dan segala urusan pada Cloe.


"Hm ... Langkah kita untuk menjadikan wanita si sekretaris lelaki itu sudah bagus. Selanjutnya kita harus bisa menyelidiki keluarga lelaki itu. Tidak hanya istri tapi juga anak dan orang tuanya!" ucap Cloe dengan seringai di sudut bibirnya.


Merlyn tidak sadar jika dirinya hanyalah dijadikan boneka oleh Cloe. Sosok Cloe yang misterius dan jenius itu sangat rapi dalam menyembunyikan semua.


"Baiklah, semua aku percayakan padamu. Aku hanya ingin terima beres, Hans harus menjadi milikku!" ucap Merlyn pasrah. Merlyn bukanlah wanita yang cerdas, dia hanyalah sosok yang kuat karena memiliki ayah yang berpengaruh juga.


Mobil Merlyn memasuki sebuah apartemen mewah yang menjadi tempat tinggal Merlyn.


"Silakan masuk, Nona," ucap Cloe membukakan pintu apartemen untuk Merlyn.


"Terimakasih, Cloe. Kau boleh beristirahat. aku juga ingin beristirahat, lelah tubuhku karena insiden tadi." Merlyn masuk ke dalam kamarnya.


Cloe tersenyum dan meninggalkan Merlyn dengan pengawal yang menjaga keamanan apartemen Merlyn.