Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab. 165


Udara dingin menusuk tulang, gelapnya malam menambah suasana di sekitar rumah besar yang berada di pinggiran kota. Mobil yang membawa Sinta merapat ke halaman rumah itu. Di sana banyak sekali penjaga yang bersiap menjaga keamanan rumah tersebut.


Sinta yang sudah tidak sadarkan diri digotong beberapa penjaga masuk ke dalam rumah besar itu. Satu-satunya rumah paling mewah yang ada di daerah itu.



"Letakkan gadis itu di kamarku! Jangan sampai ada yang menyentuhnya!" titah sang pemimpin yang datang bersama Sinta tadi.



"Leo ... Kau bawa siapa?" tanya lelaki dengan usia yang hampir sama dengan lelaki bertato di leher itu.


"Mangsa baru, dia sendiri yang menyerahkan diri padaku," ucap Leo sembari melepas jaket kulitnya. Kini dia hanya memakai kaos ketat yang melekat di tubuhnya, terlihat jelas roti sobek yang menggemaskan kaum hawa.


"Benarkah? Bukan dari hasil jerat rayuan mu?" tanya lelaki dengan anting di telinga kanannya itu.



"Sumpah! Aku tidak menjeratnya, dia sendiri yang datang kepadaku dalam keadaan mabuk. Mungkin dia sedang dalam masalah sehingga mabuk-mabukan tidak jela begitu. Korban dari broken home seperti kita ini. Al, kenapa kamu di sini? Sudah dapat mangsa?" tanya Leo pada sahabatnya.



"Ck! Aldo pasti selalu dapat, dengan ketampanan yang hampir sempurna ini pasti akan mudah mendapatkan mangsa. Para wanita itu tidak akan bisa menahan diri dari godaan bentuk tubuh seorang Aldo," sahut Aldo dengan gaya selanjutnya. Mereka memang bertugas mencari wanita yang mau diajak berkencan lalu dengan mudahnya mereka akan mengirim hasil buruannya ke luar negeri.



"Wow ... Kau memang benar-benar rival sejatiku. Tiap hari aku harus bisa mengalahkan mu mendapatkan wanita-wanita untuk kita jual," ucap Leo.



"Tentu saja, kita dibayar untuk ini. Jadi kita harus bekerja dengan giat, toh pekerjaan ini sangat menyenangkan, sudah dapat duit dan tentunya madu dari para wanita itu. Oh ya, barang dari mana mangsamu itu? Sudah kamu sikat?" Aldo melirik ke arah kamar tempat Sinta ditidurkan.



"Ck! Aku tidak mau buru-buru, semalaman nanti aku akan membuatnya terbang melayang setelah itu aku lempar ke majikan kita biar dapat uang. Hahaha ....!" Leo tertawa senang pekerjaan yang ia tekuni itu sangat menyenangkan dan tidak butuh waktu lama untuk mendapatkan uang.



Aldo menatap jengah teman satu pekerjaannya itu. Entah berapa gadis yang berhasil ia dapatkan dan jual ke majikannya. Sosok majikan yang baru saja merintis bisnis ilegal tapi menjanjikan itu.



Triing ....



"Leo, ponselmu berbunyi. Siapa yang telepon malam-malam begini? Apa kau punya janji kencan dengan wanita?" celoteh Aldo yang melihat ponsel Leo berdering.



Leo mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelepon dirinya.



"Ck! Ini si bos letoy!" ucap Leo malas melihat siapa yang menelepon dirinya.



"Hahaha ... Pasti dia sedang menanti mangsa yang kau kirimkan. Punyaku sudah dari tadi," ucap Aldo bersandar di sofa sembari menyalakan rokoknya.



"Biarkan saja! Mumpung dia tidak ada di sini, aku mau bersenang -senang. Sebenarnya aku heran bagaimana bos kita itu bisa banyak uangnya. Secara fisik dia biasa saja, tidak ada yang menarik, dan anehnya kita bisa begitu patuh kepadanya," ucap Leo sambil memainkan ponselnya. Dia tidak menjawab panggilan sang majikan.



"Kau b0d0h atau bagaimana sih, Leo? Kita patuh karena dia yang membayar gaji kita. Kalau bukan dia yang menjadi pemilik usaha ini terus siapa lagi? Kamu? Ck ... Modal badan dan tampang aja apa bisa sampai ke luar negeri?" sindir Aldo.



Leo diam, dia malas berdebat dengan Aldo yang menjadi pegawai kesayangan sang bos.



Aldo mendengkus kesal, malam ini bisa dipastikan dia lagi-lagi mendengar suara yang membuat telinga gatal.


Leo berjalan menuju ke kamar tempat Sinta berada. Dia menatap Sinta dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan penuh arti.



"Kasihan kau, Sinta. Sebentar lagi kau akan pindah ke dunia baru. Dunia penuh dengan tangan-tangan orang yang memburu kepuasan. Tapi bukankah itu kemauan mu? Ingin pergi jauh dari kota ini?" gumam Leo sembari membuka satu persatu sepatu dan pakaian Sinta.



Malam yang indah dilalui seorang Leo bersama Sinta yang menjadi korban Leo. Di malam yang sama tiba-tiba Gunawan terbangun dari tidurnya. Dia bermimpi buruk mengenai Sinta anak yang sedari kecil sudah menyita perhatiannya. Walau rasa kecewa saat tahu jika Sinta bukan darah dagingnya, tapi kasih sayang tulus yang sudah terbungkus rapi dari Gunawan untuk Sinta, membuat Gunawan merasakan kekhawatiran.



Gunawan mengambil ponselnya untuk melihat jam dan melihat apakah Sinta menghubunginya. Ternyata ada misscall dari Sinta dan beberapa pesan yang mengatakan jika Sinta kecewa saat tahu Gunawan bukan ayah kandungnya.



"Ternyata Sinta baru saja tahu jika aku bukan ayah kandungnya. Sungguh terlalu Clara, dia telah mempermainkan perasaan seorang anak. Aku akan mencoba menghubungi Sinta, semoga dia terjaga dari tidurnya."



Gunawan menghubungi balik Sinta karena mendapat firasat yang buruk.



Tuut ....



Tuuut ....


Nada masuk panggilan untuk Sinta pun terdengar, namun Sinta tidak juga mengangkat. Sinta tengah berlayar di lautan asmara.


Tuuut ....



Tuuut ....



Gunawan kembali mencoba menghubungi Sinta, perasaannya semakin tidak karuan. Posisi Gunawan saat ini ada di Lampung bersama sang sekertaris-Rustam. Malam itu Mery datang sehingga Gunawan harus pulang agar tidak membuat Mery tertekan.



Mery sudah pamit akan datang malam karena harus menunggu Aris pulang kerja. Aris diminta Hans untuk menangani perusahaan yang dia beli dari Ridho dulu. Mery sengaja menginap agar bisa lebih banyak waktu untuk sang cucu.



Gunawan beranjak dari tempat tidurnya. Dia memakai jaket dan mengambil kunci mobilnya. Perasaan Gunawan yang tidak tenang membawa Gunawan untuk pergi berjalan-jalan dengan mobilnya mencari udara segar.



Mobil Gunawan dan rasa rindu pada sang putri , membawanya pergi ke rumah Clara. Rumah yang terlihat sepi karena jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari.



Tidak ada yang tahu jika Gunawan berhenti di depan rumah Clara. Lama Gunawan terdiam di situ, perasaannya masih sama yaitu khawatir dengan putri asuhnya.



"Astaga ... Apa yang aku lakukan! Dini hari begini di depan rumah orang. Hahaha ... Seperti orang gila saja! Lebih baik aku pulang," gumam Gunawan di dalam hati.



Tidak berapa lama kemudian Gunawan melajukan mobilnya meninggalkan rumah Clara. Gunawan terus melakukan mobilnya, seakan ada yang menggerakkan tangannya untuk menuju ke suatu tempat.



Arloji di tangan Gunawan menunjukkan pukul tiga dini hari. Sudah dua jam lamanya Gunawan menempuh perjalanan hingga sampai di suatu tempat.