Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab. 156


Clara dengan wajah berbinar setelah menangis berangkat untuk menjemput Rai. Clara memiliki harapan besar pada lelaki yang mengaku duda itu.


Dengan mobil mewahnya Clara menjemput Rai. Mobil mewah yang biasa dipakai Gunawan itu kini sudah kembali menjadi miliknya. Gunawan tidak membawa sedikitpun harta yang diberikan oleh Clara.



Mobil Clara memasuki halaman parkir bandara internasional Radin Inten II Lampung. Dengan kaca mata hitam yang bertengger di hidung, Clara melangkah menuju lobby bandara.



"Hai, Clara!" teriak Rai dengan senyum yang menghias di sudut bibir Rai.



"Hai, Rai! Maaf sudah membuatmu lama menunggu," ucap Clara meminta maaf pada Rai.



"Tidak masalah, Clara. Tidak ada satu jam aku menunggumu, salahku juga yang tiba-tiba datang ke Lampung tanpa memberi mu kabar. Maklum banyak urusan yang harus aku selesaikan terlebih dahulu," ucap Rai berbohong. Dia sengaja membuat Clara merasa bersalah.



"Terima kasih atas perhatian mu, Rai. Ayo ku ajak kau ke rumahku, biar dirimu bisa istirahat dulu di rumahku," ucap Clara sambil tersenyum menggamit lengan Rai.



"Apa suami atau anakmu tidak marah?"



"Hai, aku sudah bercerai dengan Gunawan --suamiku. Putriku juga entah di man dia kini berada, ia pergi tanpa pamit mau kemana."



"Baiklah jika kau memaksa. Ke manapun kau mengajakku aku dengan senang hati mengikuti mu."



"Ya, sudah. Ayo kita ke rumah ku," ajak Clara tanpa memikirkan statusnya sebagai seorang janda yang membawa lelaki asing ke rumahnya.



Mobil melaju di tengah terik matahari. Clara sangat senang karena sebentar lagi bisnis perusahaan peninggalan sang ayah bisa bangkit lagi. Rai satu-satunya harapan Clara untuk bisa mengelola perusahaan sang ayah.



"Rai, kamu bersedia kan membantuku mengelola perusahaan yang papa tinggalkan untukku?" tanya Clara sembari merebahkan kepalanya di bahu Rai yang sedang mengemudikan mobil.




"Benarkah? Kau datang ke sini untuk membantuku?" Ulang Clara lagi. Dia merasa tidak percaya jika permintaannya dipenuhi oleh Rai. Kini Clara bisa bernapas dengan lega karena tidak pusing lagi melihat laporan saham yang terus menurun.



Clara tidak curiga mengapa saat dulu dia mencari Rai tidak ketemu dan tiba-tiba Rai datang begitu saja. Dia tiba di bandara dan minta jemput seenaknya.



Mobil mewah Clara memasuki halaman rumahnya yang mewah. Rai tersenyum melihat kemewahan rumah Clara. Sampai di garasi mobil, keduanya turun.



"Ayo masuk, Rai. Tidak perlu sungkan, anggap saja ini rumahmu sendiri," ucap Clara membuka pintu rumahnya.



Rai menarik kopernya masuk ke dalam rumah mewah Clara. Di dalam hati dia berdecak kagum melihat betapa semua barang di dalam rumah Clara bagus dan mahal.



"Wow ... Ini rumahmu, Clara? Mewah sekali?" ucap Rai kagum.



Bukannya curiga, Clara malah merasa senang dengan pujian yang diberikan oleh Rai.



"Di mana kamar untuk ku, Clara," ucap Rai dengan percaya diri, seakan rumah itu adalah miliknya.



"Kamar mu ada di sebelah kamarku, ayo aku tunjukkan," ucap Clara menarik tangan Rai untuk masuk ke kamar yang sudah ia persiapkan.



"Terimakasih, Clara. Kau sungguh baik dan membuatku merasakan rumah ini adalah rumahku sendiri," sahut Rai dengan seringai diujung bibirnya.



Clara dan Rai pun berdua masuk ke dalam kamar, di sana mereka saling melepas rindu. Clara baru saja menggali kehancurannya sendiri.