Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab. 177.


Pagi itu Tia nampak sibuk mempersiapkan keperluan bayinya. Dibantu Bik Inah, sang pembantu. Sementara si kembar masih terlelap dalam tidurnya. Hari itu jadwal Tia untuk memeriksakan si kembar ke rumah sakit, dan berjumpa dengan dokter untuk melakukan imunisasi.


"Non, jangan mampir-mampir, ya," pinta bi Inah sembari menyiapkan keperluan si kembar. Wanita paruh baya itu begitu luas membantu Tia selama ini. Dia telah menggantikan figur seorang ibu bagi Tia, dan bayi kembarnya.


"Eh?! Tumben Bibi berkata seperti ini. Apa lagi-lagi ini ada hubungannya dengan mitos?" tanya Tia sembari duduk di tepi ranjang. Wanita dewasa ini sejenak merehatkan tubuh yang terasa cukup kelelahan. Maklum, mengurus seorang bayi saja cukup merepotkan, apalagi dua bayi kembar sekaligus.


"Bukan. Bibi cuma gak kuat kalau terpisah dari si kembar terlalu lama. Hehehe," sahut sang bibi dengan senyum merekah di bibirnya yang sudah mulai keriput. Ucapan pembantunya ini sukses membuat Tia tertawa kecil. Mereka pun larut dalam canda saat sedang mengobrol ringan begini.


"Untuk apa Bibi menahan rindu hingga merana seperti ini? Bibi kan bisa ikut dengan kami. Aku yakin mas Hans tidak akan keberatan. Justru aku akan sangat tertolong dengan kehadiran bibi," ucap Tia sembari tersenyum kecil pada wanita yang telah bertahun-tahun membuktikan diri kepada keluarganya.


"WAH!!! beneran, non?! Bibi akan diajak jalan-jalan, nih?!" Ucap si bibi dengan senyum merekah di wajahnya yang sudah mulai keriput.


"Iya, dong! Mulai sekarang bibi harus ikut saat kemanapun kami akan pergi. Karena bibi harus membantuku mengurus si kembar!" Ujar Tia sembari menambahkan beberapa perlengkapan bayi yang akan dibawa ke dalam tas bayi berwarna hitam. Semua perkataan wanita cantik ini pun selalu membawa kesejukan pada sang pembantu yang notabene lebih tua.


"Asiikk!! Kalau gitu, bibi bakal sering jalan-jalan, nih!!" katanya dengan nada ceria yang khas.


Singkat cerita, mereka sudah sampai di rumah sakit. Hans sendiri yang membawa mobil hingga sampai dengan aman.


Saat Hans memarkir mobil, Tia membawa seorang bayi kembarnya masuk ke area rumah sakit, ditemani bi Inah yang membawa bayi lainnya. Mereka sedikit terburu-buru saat menyusuri lorong menuju ruangan dokter hingga nyaris saja Tia menabrak seorang dokter yang sedang melintas. Tia limbung, dan nyaris jatuh karena berhenti mendadak. Untung saja si dokter dengan sigap menangkap pundak Tia agar dia dan bayinya tidak jatuh.


"Duh! Hati-hati, dong buk! Ini 'kan di rumah sakit! kenapa berlari? Ini bisa membahayakan bagi ibu, dan orang lain," ujar si dokter muda dengan penuh kesabaran. Dia membantu Tia berdiri dengan benar lagi.


Mendengar suara yang khas dari pria ini, tidak mungkin Tia tidak mengenalnya. Suara dari sosok yang dahulu pernah menjadi pengisi hari-harinya yang suram di kala masih remaja. Tia menatap sosoknya yang tidak mengalami banyak perubahan.


Diam-diam hati wanita dewasa ini berdesir kembali kala berhadapan dengan sosok cinta pertamanya. Hingga tanpa sadar dia berkata, "Arfa..,"


Mendengar nada suara yang familiar, dokter muda itu seketika membeku. Dia menurunkan tangan dari bahu Tia, dan menatap wanita itu lekat-lekat. Kemudian, sorot matanya beralih pada bayi yang digendong Tia. Senyum tipis pun mengembang di wajahnya yang murung.


"Tia...," lirih sang dokter dengan suara lembut. Dia melanjutkan, "Akhirnya kita berjumpa lagi, dan ternyata..., kamu sudah memiliki buah hati yang lucu."


Dengan lembut dokter muda itu mengusap pipi gembul si kembar. Dia terlihat sangat berhati-hati, sekaligus sedih saat melakukannya. Tia pun ikut sendu melihat ekspresi sedih pria itu. Beberapa hal tidak bisa luput dari kenangan tentang pria ini. Sebab dia telah mendapatkan tempat cukup istimewa di hati Tia.


"Yahh, Begitulah. Apa..., Apa yang kamu lakukan di sini, Arfa? melihat dari pakaianmu, apa kamu bekerja di rumah sakit ini?" tanya Tia mencoba mengalihkan pembicaraan sembari menarik diri dari pria tampan yang kini sudah menjadi masa lalu baginya.


"Iya. Baru beberapa bulan ini aku bekerja di sini. Aku dokter bedah operasi plastik di sini," jawab Arga sembari menunjukkan deretan gigi yang rapi saat menjawab dengan mengulas senyum ramah.


"Oohh, begitu? Akhirnya impianmu tercapai, ya? Untuk menjadi seorang dokter bedah operasi plastik," tutur Tia sembari mengulas senyum kecil yang nampak sedikit dipaksakan.


Arfa tersenyum. Dokter yang memiliki lesung pipi di sebelah kanan itu pun mengangguk pelan sebagai tanggapan. Diam-diam hatinya bergetar melihat Tia masih mengingat impiannya yang pernah diceritakan dulu sekali saat mereka masih menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih.


"Iya. Impianku mendapatkan gelar dokter tercapai. Tapi..., Impianku yang lain sudah menjadi milik orang lain," tutur Arfa sembari menatap lekat mata Tia. membuat wanita cantik itu larut dalam kesedihan, dan kepedihan yang dipancarkan mata Arfa.


Tidak berapa lama, Hans yang sudah selesai memarkir mobil pun menghampiri mereka. Dia heran mengapa Tia dan Bi inah belum juga masuk ke ruangan dokter. Jadi dia bertanya pada Tia seperti ini, "loh, sayang?! Kenapa belum masuk ke ruangan dokter? Apa ada masalah di sini?!"


Hans langsung merangkul pinggang Tia posesif. Sorot mata pria dewasa itu pun terlihat sangat tajam, dan penuh selidik pada sosok Arfa. Menyadari sikap suaminya, Tia pun segera mengambil tindakan.


"Oh, iya mas. Kebetulan aku bertemu dengan teman lamaku di zaman sekolah dulu. Jadi kami ngobrol sebentar. Aku gak nyangka dia sekarang sudah sukses meraih impiannya menjadi seorang dokter bedah plastik. Jadi Arfa, semoga sukses, ya! Kami harus segera menemui dokter anak! Duuhh, sampai lupa begini, ayo, mas!" Tia langsung buru-buru mengajak Hans pergi meninggalkan Arfa.


Tia tidak mau Hans bertanya yang tidak-tidak pada pria itu. Dia khawatir mereka terlibat pembicaraan yang menegangkan. Apalagi masalah mereka dengan Ridho baru saja selesai. Dia tidak ingin mereka mendapatkan masalah baru lagi. Dia ingin menikmati masa tenang ini lebih lama lagi, jika bisa.


"Sayang, ada apa? Kenapa kamu terburu-buru?! Dia tidak membuat masalah denganmu 'kan?!" Hans bertanya dengan nada suara penuh kekhawatiran. Saat ini mereka sudah cukup jauh dari tempat pertemuan dengan Arfa tadi. Belum pernah sebelumnya dia melihat Tia demikian terburu-buru. Seakan istrinya ini sedang menghindari suatu masalah. Jadi Hans memutuskan untuk segera bertanya, dan menuntaskan rasa khawatirnya.


"Hey, sayang?! kamu kenapa, sih? Kenapa terburu-buru sekali?" Lagi, Hans bertanya sembari mengimbangi langkah cepat istrinya.


"Tidak ada apa-apa, Mas. Karena tadi kami berhenti cukup lama, aku khawatir kita mendapatkan antrian yang panjang," ujar Tia sembari masih melangkah cepat menyusuri lorong.


"Hey, hey, tidak perlu terburu-buru seperti ini," Hans menarik lengan Tia untuk mencegahnya berjalan terlalu cepat. Mereka pun akhirnya berhenti di sudut lorong. Hans melanjutkan, "Aku curiga. Kenapa kamu sepanik ini?! apa jangan-jangan..., Pria itu tadi..., lebih dari sekedar teman sekelas bagimu, Tia?" Hans mulai menatap Tia dengan penuh selidik. Sorot matanya sarat akan rasa curiga, dan cemburu.


Tia terdiam. Lagi-lagi dia harus menghadapi sikap Hans yang begitu posesif seperti ini. Tia pun menimbang akan mengatakan yang sejujurnya atau tidak pada sang suami. Jika dia tidak jujur, Hans akan lebih murka jika mendengar hal ini dari orang lain. Jadi akhirnya..., Tia berkata, "Sejujurnya, dia memang bukan sekedar teman masa laluku. Dia..., dia adalah mantan kekasihku."


Suara Tia bergetar saat mengatakan hal ini. Dia menatap suaminya dengan ekspresi takut. Dia khawatir Hans akan langsung murka padanya. Namun, pria dewasa itu hanya menghela nafas berat. Kemudian dia bertanya lagi seperti ini, "kamu sudah membuat janji bertemu dengan dia di sini?" Suara Hans berat, dan sarat akan rasa sakit.


"TIDAK!! aku benar-benar tidak sengaja bertemu dengan dia tadi!! tanya saja pada Bik Inah!! Dia melihat sendiri aku tidak sengaja bertemu dengan dia!" kata Tia mulai menaikkan nada bicaranya. Dia kelihatan benar-benar tidak terima dituduh seperti itu oleh suaminya sendiri.


Hans menoleh pada Bi Inah untuk mendengar penjelasan dari wanita paruh baya itu. Sorot matanya yang tajam membuat si pembantu dengan cepat menganggukan kepala, membenarkan ucapan Tia. Dia jelas juga ketakutan melihat kemarahan di mata Hans.


Lalu dengan tergagap Bik Inah berkata, "Ya- yang dikatakan non Tia benar, den!! Bibi bersumpah mereka tidak sengaja bertemu, kok! Aden harus percaya non Tia! Jadi jangan bertengkar lagi di sini, den. Tidak enak dilihat penghuni rumah sakit lain," pesan Bik Inah dengan wajah takut saat menasehati sang majikan.


Hans terdiam. Dia merenungkan ucapan Bik Inah baik-baik. Dia sadar apa yang diucapkan pembantunya ini memang benar. Akhirnya dia meredakan ego, dan mengubur kemarahan demi bayi kembarnya.


Lalu, pria dewasa itu berkata, "Baiklah. Kita bicarakan ini lebih lanjut saat sampai di rumah. Sekarang...," Ucapan Hans terputus. Dia menggandeng tangan Tia sembari berkata, "lebih baik begini. Agar kamu tidak dilirik pria lain, dan kamu melangkah perlahan saja! Dapat antrian panjang tidak masalah. Jika nanti kamu kelelahan menggendong si kembar, aku akan menggantikanmu menggendongnya. Asalkan kamu pelan-pelan saja jalannya. Aku khawatir kamu terpeleset atau semacamnya. Kamu tidak lihat? Lantai rumah sakit ini selicin pipimu."


Meski Hans mengucapkan hal ini dengan wajah cemberut, itu cukup untuk membuat senyum Tia kembali merekah. Apalagi saat Hans mencubit hidung mungil Tia setelah mengatakan hal ini. Sikapnya yang kembali demikian perhatian, dan manis membuat hati Tia lega. Akhirnya dia bisa tersenyum lepas seperti biasanya. Tidak lupa, wanita cantik itu pun mencubit pelan pinggang sang suami sebagai balasan atas rayuannya yang tidak berkelas.


"Iya, mas. Aku senang kamu bisa mengerti posisiku," sahut Tia sembari melangkah perlahan.


"Mau bagaimana lagi? Resiko punya istri cantik memang berat rupanya," gumam Hans sembari terus melanjutkan langkah. Ucapan sang suami mendapatkan tanggapan senyum kecil dari Tia. Dia mengusap lembut tubuh si kembar dalam dekapannya. Dia senang, sejak ada si kembar, Hans semakin hebat dalam mengendalikan rasa cemburunya.


Tia sadar Hans hanya akan menahan rasa cemburu, dan amarahnya untuk sementara. Namun, Tia lega setidaknya mereka tidak perlu bertengkar di rumah sakit. Syukur-syukur nanti di rumah Hans bisa melupakan hal ini dengan kesibukan kerja seperti biasanya. Begitu harapan kecil yang tumbuh di hati Tia. Sebab dia lelah harus terus bertengkar dengan Hans hanya karena orang ketiga.


Kedua sejoli ini menyusuri lorong rumah sakit dengan senyum merekah penuh kebahagiaan, dan kedamaian. Bi Inah yang melihat mereka dari belakang diam-diam membisikkan do'a agar keduanya selalu dilimpahi kebahagiaan, dan kesehatan yang berkelanjutan. Sebab sebagai seorang pembantu hanya itu yang bisa dia berikan sebagai balasan atas kebaikan pasangan suami-istri ini.


"Waahh, si kembar semakin sehat ya, sekarang!" ujar sang dokter anak begitu melihat si kembar dibawa masuk oleh kedua orang tuanya.


Hans, dan Tia tersenyum mendengar ucapan dokter. Mereka mengikuti instruksi sang dokter saat meminta mereka membawa si kembar ke atas timbangan bayi. Dokter berkata, "kita timbang dulu, ya. Soalnya kemarin si kembar mengalami sedikit masalah dengan kenaikan berat badan yang cukup sulit. Jika kali ini Si kembar masih belum naik berat badannya, kita juga belum bisa memberikan suntikan imunisasi, pak, buk," begitu tuturnya dengan suara lembut.


Setelah ditimbang satu-persatu, akhirnya mereka mengetahui bahwa si kembar sudah mendapatkan berat badan ideal. Jadi kali ini kunjungan mereka tidak sia-sia. Si kembar sudah bisa disuntik imunisasi.


Tia begitu tegang melihat jarum suntik yang dipersiapkan untuk kedua bayi kembarnya. Dia menatap sang suami, mengharap dukungan dari pria yang dia cintai. Hans yang memahami kegelisahan istrinya pun mendekat, dan mengusap punggung sang istri sebagai bentuk dukungan untuk memenangkannya. Meski dia masih kesal pada Tia, pria dewasa ini tidak mungkin menepis tangan Tia yang sedang membutuhkan pertolongannya.


Hingga akhirnya bayi pertama berhasil disuntik tanpa kendala. Bahkan, bayi itu tidak menangis sama sekali saat disuntik. Dia hanya sedikit menggeliat kala jarum suntik mendadak menyentuh kulitnya yang lembut.


Setelah itu, dia terlelap kembali dengan nyaman.


Namun berbeda halnya dengan bayi kedua. Begitu jarum suntik mengenai kulitnya, bayi kedua Tia itu langsung mengeluarkan tangisnya yang cukup kencang. Membuat semua orang yang ada di ruangan itu tertawa.


Akhirnya, Tia harus memberinya ASI agar dia kembali tenang. Setelah si kecil tenang, Dokter memberikan Paracetamol untuk berjaga-jaga jika nanti si kembar mengalami demam pasca imunisasi. Dokter wanita itu pun juga memberikan beberapa pesan untuk menjaga nutrisi bagi si kembar. Dokter itu menganjurkan agar Tia mengkonsumsi vitamin penambah ASI. Sebab memberikan ASI dua bayi sekaligus pastilah sangat menguras energi.


Setelah imunisasi, dan sesi konsultasi selesai, Mereka pun segera kembali ke rumah. Di sepanjang perjalanan dia masih terbayang-bayang akan pertemuannya dengan Arfa. Sosok yang hingga kini Sebenarnya masih menyimpan tempat istimewa di hati Tia.


Wanita ini sadar bahwa Hans suami yang sangat baik. Karena itulah dia berharap bisa terbiasa dengan perasaannya kepada Arfa. Mengingat mereka akan sering bertemu setiap kali Tia membawa Si kembar melakukan pemeriksaan di rumah sakit.