
Malam pun tiba, jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam.
Blazer biru tua kini sudah melekat di tubuh kekar dan terawat milik Hans. Walaupun sudah memiliki anak dan istri, Hans tak pernah meninggalkan rutinitasnya yang selalu ia lakukan, yaitu mempertahankan bentuk tubuhnya yang bagus. Begitu pula dengan Tia. Ibu hamil itu sudah siap dengan pakaian dan warna senada dengan suaminya. Tia membantu Hans menyemprotkan parfum ke bagian-bagian tertentu agar tubuh suaminya akan terasa harum sepanjang perjalanan, karena akhir-akhir ini Tia sangat menyukai wangi parfum Hans.
"Hasan, Hasna. Mama dan Papa berangkat dulu, ya? Kami tidak akan lama, kok. Hanya ada perjamuan saja. Setelah itu, kami akan pulang," ujar Tia, berpamitan kepada kedua anaknya yang akan ia tinggal bersama dengan pembantunya.
"Iya, Ma. Hati-hati, ya." Hasna melambaikannya tangannya membuat Tia tersenyum lebar.
"Assalamualaikum," ujar Hans setelah kedua anaknya sudah mengecup tangan Hans dan Tia secara bergantian. Ritual yang selalu keluarga mereka lakukan jika salah satu ada yang ingin berpergian ataupun baru pulang dari suatu tempat.
***
"Selamat datang, Nyonya Tia," sapa seorang pria yang memiliki umur berkisar tidak jauh dari suami Tia. Dengan senyum mengembang di wajahnya, pria itu menghampiri Tia begitu melihat kedatangannya dan meninggalkan beberapa orang pria yang sedang mengobrol bersamanya.
"Terima kasih atas sambutannya, Tuan Sharma," ujar Hans mewakili Tia.
"Karena Nyonya Tia sudah datang, mari kita bahas kerjasama antara kita," ajak Sharma mengabaikan ucapan Hans.
"Perusahaan istri saya, kini saya yang handle, Tuan. Jadi, apapun yang ingin Anda katakan, Anda bisa menyampaikannya kepada saya," ucap Hans mengundang ekspresi kecewa di wajah Sharma.
"Oh, begitu. Baiklah. Silakan duduk dan nikmati jamuannya," ujar Sharma.
Hans menatap tajam Sharma saat tatapan pria di depannya tak lepas dari istrinya.
"Tidak perlu berbasa-basi, kita langsung saja mulai membahas kerjasama bisnis kita." Hans langsung mengambil perhatian semua orang hingga semua mata tertuju padanya.
Karisma dan ketegasan yang dimiliki oleh Hans dalam memimpin suatu percakapan dan diskusi selalu berhasil membuat semua orang terpana kepadanya. Beruntung sekali Tia bisa memiliki Hans dan sikap Hans yang sangat peduli kepadanya sampai-sampai suaminya itu sangat bersedia sekali membantunya dalam kerjasama malam ini.
"Pertama-tama, perkenalkan, saya Hans, suami dari Tia, pemilik perusahaan yang akan bekerja sama dengan perusahaan tuan Sharma. Karena kondisi istri saya yang tidak boleh terlalu kelelahan karena kehamilan anak ketiga kami, maka saya sendiri yang akan mengurus kerjasama ini. Jadi, saya mohon untuk bekerja sama," ucap Hans kepada seluruh para tamu.
Hans dengan sengaja memberitahukan kehamilan Tia, bahkan memberitahukan jika Tia saat ini sedang mengandung anak mereka yang ke-tiga agar membuat Sharma sadar diri akan posisinya yang sudah memiliki istri, dan Tia adalah istrinya.
Tidak sampai di situ saja, Hans juga menampilkan senyum devil melihat bagaimana berubahnya raut wajah Sharma yang memandang dirinya dengan tatapan tidak suka.
"Jadi ... Sekarang perusahaan dihandle oleh Anda, Tuan Hans? Lantas apa yang dilakukan Bu Tia? Bukankah waktu akan terbuang percuma jika hanya duduk saja di rumah?" sindir Sharma lagi. Ada gurat tidak suka dalam diri Sharma mendengar jika perusahaan sekarang di handle oleh Hans.
Tia yang mendengar apa yang dikatakan Sharma merasa kesal, seakan wanita yang sudah beralih profesi menjadi ibu rumah tangga biasa dan menjaga kehamilan yang ketiga ini, tidak berharga dan hanya dipandang sebelah mata.
"Tuan Sharma, bagi seorang wanita menjadi ibu rumah tangga itu adalah pekerjaan yang mulia. Bisa anda bayangkan jika tidak ada wanita yang mengurus rumah dan mengurus anak-anaknya dengan baik. Bagaimana seorang pria akan bisa pergi ke kantor, jika tidak ada wanita yang mengurusi keperluannya ketika akan berangkat ke kantor." Geram Tia membalas ucapan Sharma.
"Mengapa harus hebat-repot mengurus semua, Bu Tia. Kita sudah ada pembantu yang akan mengurus diri kita dan diri anak-anak juga, selain itu pembantu yang membereskan rumah. Seperti istri saya, dia juga seorang pengusaha dan pekerjaan rumah semuanya sudah beres oleh pembantu, dan anak-anak kami juga sudah ada yang mengurus masing-masing memiliki baby sister yang bertanggung jawab akan semua kebutuhan dan keperluan anak-anak." Sharma seolah membanggakan istrinya.
"Anak akan merasa senang jika ibunya sendiri yang mengurus kebutuhan mereka. Ada ikatan yang akan terjalin di antara keduanya, dan nanti jika kelak anak mereka dewasa dan ketika orang tua membutuhkan mereka untuk mengurus diri mereka maka anak-anak akan dengan senang hati mengurus orang tuanya, hingga sang orang tua tidak akan merasa kesepian dan sendiri. Anak-anaknya lah yang mengurus mereka karena anak-anak juga merasa kalau lah dirinya dulu diurus oleh kedua orang tuanya," ucap Tia panjang lebar membantah apa yang dikatakan oleh Sharma.
Sharma merasa kesal dengan apa yang dikatakan oleh Tia. Sharma pun kembali menjawab," Zaman sudah semakin maju, kita tidak butuh anak-anak untuk merawat kita jika sudah tua. Kita cukup membayar seseorang untuk merawat kita nanti setelah kita sudah tua."
Tia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar jawaban dari Sharma. Sungguh dia heran dengan orang semacam Sharma itu. Wanita yang menjadi istri Lelaki ini pasti sangat menderita. Tidak merasakan menjadi fitrah wanita sebagai ibu dan istri. Hanya bekerja dan bekerja saja.
"Sudah, Sayang. Tidak usah dihiraukan. Yang ada nanti kamu akan bertambah pusing. Lebih baik kita pulang karena hari juga sudah malam, udara malam tidak baik untuk ibu hamil," ajak Hans sambil memeluk pinggang Tia secara posesif.
Apa yang dilakukan oleh Hans, tidak luput dari perhatian Sharma. Ternyata wanita yang berhasil memikat hatinya itu sudah bersuami dan sekarang sedang hamil anak ketiga.
"Baiklah, Mas. Tia juga sudah capek dan mengantuk. Jangan lupa nanti jatah pijit ya," ucap Tia mesra seakan memanasi Sharma.
"Maaf, Tuan Sharma. Saya dan istri saya pamit pulang. Maaf, dia sedang hamil jadi tidak baik terlalu malam. Takutnya baby kenapa -kenapa," ucap Hans pamitan.
"Silakan, Tuan. Maaf tidak bisa mengantar sampai depan," ucap Sharma dengan nada angkuh.
Hans dan Tia tidak peduli dengan apa yang dirasa oleh Sharma yang terpenting baginya adalah mereka sudah memenuhi undangan perjamuan bisnis itu.
Mereka berdua tertawa di dalam mobil mengingat raut wajah Sharma yang kesal saat tadi di perjamuan.
"Mas, lucu sekali ya tadi wajah pak Sharma itu, dia kelihatan kesal sekali saat mas memperkenalkan aku dan kandunganku di perjamuan tadi," ucap Tia sambil tersenyum geli.
"Iya, benar sekali. Lelaki seperti itu tidak boleh didiamkan saja. Bisa- bisa melunjak hanya karena kontrak kerjasama," timpal Hans.
"Iya, Mas. Dia menganggap wanita hanyalah sosok mesin pencetak uang, tidak ada kasih sayang yang terjalin di dalam rumah tangganya. Kasihan sekali istri Sharma itu. Hidupnya tiap hari hanya kerja dan kerja aja. Tapi, Mas. Kalau si Sharma itu membatalkan kontrak kerjasama nya bagaimana?" tanya Tia dengan wajah serius.
"Itu tandanya dia tidak profesional dalam bekerja. Mau dia batalkan atau tidak, bagi mas gak masalah. Toh tanpa perusahaannya, perusahaan kita masih terus berjalan. Kita harus percaya diri. Tetap semangat, masih ada rizki yang lain," sahut Hans memberi ketenangan pada sang istri.
Memang benar apa yang dikatakan oleh oleh Hans. Rizki tidak ada yang tahu, jika belum menjadi haknya maka usaha sekeras apapun tidak akan membuahkan hasil.
Mobil Hans terus melaju, tiba melewati alun-alun kota, Tia yang melihat penjual jagung bakar minta berhenti.
"Mas, aku mau jagung bakar itu. Sudah lama aku tidak makan jagung bakar. Bolehkan Tia beli satu aja?" pinta Tia dengan tatapan puppy eyesnya. Kini Tia lebih sering manja pada sang suami.
"Kamu mau rasa apa, Sayang?" tanya Hans sembari melepas savety beltnya.
"Mau yang pedas manis aja, Mas. Pengen yang pedes-pedes nih," jawab Tia sambil membayangkan enaknya makan jagung bakar dengan saus pedas dan saus manis.
"Okey, Sayang. Kamu duduk di situ jangan kemana-mana. Mas tidak mau kamu aneh-aneh, diam dan tunggu mas sampai selesai," ucap Hans sebelum keluar dari mobil.
"Iya, Mas. Lagian aku bukan anak kecil yang hilang gak bisa kembali lagi," sahut Tia sambil mengerucutkan bibirnya.
Hans tertawa, dia sangat senang menggoda istrinya. Entah mengapa semenjak kehamilan Tia yang kedua ini, Hans merasa sangat sayang pada Tia.
Dengan langkah tegap, Hans menghampiri penjual jagung bakar itu.
"Jagung bakar 2, Mas."
"Iya, Pak. Mau rasa apa?"
"Pedas manis semua aja."
"Siap, Pak.
Hans berniat membeli dua jagung bakar. Niatnya satu untuk Tia dan satu untuknya. Hans ingin makan berdua jagung bakar itu dengan sang istri.
Setelah sekian menit menunggu, akhirnya jagung bakar itu sudah jadi. Hans membayar dan membawanya ke mobil.
"Mas, lama banget sih?"
"Maaf, Kan harus antri terlebih dahulu. Tidak bisa kan main serobot antrian? Nih, satu untukmu dan satu untukku," jawab Hans sembari memberikan jagung bakar untuk Tia.
"Terima kasih, Mas," ucap Tia yang sangat senang mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Sama-sama, Sayang. Ternyata malam-malam enak juga makan jagung bakar ya, lain kali kita agendakan lagi. Mungkin besok-besok kita ajak anak-anak untuk makan jagung bersama di dekat taman itu," ujar Hans menunjuk sebuah bangku. Di sana ada sosok wanita yang duduk terpekur seorang diri.
Tia melihat ke arah bangku yang ditunjuk oleh Hans tadi. Tia manggut-manggut, Tia merasa kenal dengan sosok wanita itu.
"Mas, bukankah itu Alya? Sedang apa dia duduk sendiri di taman itu sambil mengusap perutnya? Apa Alya sedang sakit ya, Mas?" tanya Tia sambil terus menatap ke sosok wanita yang sedang duduk di kursi taman sendiri.
"Iya, Sepertinya itu Alya. Mungkin dia sedang menunggu seseorang. Kita tidak usah ikut campur urusannya. Toh yang penting Aris sudah tidak bersamanya," timpal Hans mencegah Tia untuk tidak lagi mencampuri urusan Alya.
"Iya, Mas. Tia hanya heran aja kok. Oh ya, besok jangan lupa antar Tia ke rumah Aris lho, Mas!"
"Iya, Sayang. Mas ingat kok, nanti kalau lupa kamu telpon mas untuk ingatkan lagi. Besok mas usahakan untuk pulang cepat agar bisa mengantarmu ke rumah Aris sekaligus menjenguk mama dan papa."
"Mas Hans memang suami terbaik deh! Tia makin cinta ...!"
Cup!
Hans tersenyum bahagia, sudah lama pipinya tidak mendapatkan sentuhan dari bibir Tia. Sungguh malam ini benar-benar malam yang indah.
"Sudah habis? Ayo kita pulang," ajak Hans masih tersipu malu.
"Iih ... mas kenapa pipinya merah sih? kayak anak ABG yang sedang jatuh cinta!" ledek Tia pada sang suami.
"Hmm ... emang, mas selalu jatuh cinta padamu, Sayang! Jangan pernah kau tinggalkan mas sendirian. Kita harus menua bersama hingga maut memisahkan kita," ucap Hans dengan lembut sambil mencubit hidung Bangir Tia.
"Ciee ... yang sedang jatuh cinta nih ... Mas pasti sudah masuk puber kedua kan? Kata orang puber kedua itu membuat orang jadi seperti ABG lagi. Jadi sekarang mas Hans kayak ABG! hahaha ...."
Tia tertawa lepas, Hans yang melihat semakin bahagia karena bersamanya Tia bisa tertawa lepas. Hari -hari yang sulit dulu kini terganti dengan senyum dan tawa Tia. Ternyata semua ujian pasti akan ada masa yang indah. Ujian adalah jalan untuk mendewasakan diri dan semakin bijak dalam menghadapi masa yang akan datang.
Hans pun menghidupkan mesin mobilnya dan bergegas meninggalkan alun-alun kota untuk kembali ke rumah.
Sesampai di rumah, anak-anak ternyata sudah tidur. Tia bergegas ganti baju dan mencuci mukanya lalu masuk ke dalam kamar sang anak untuk sekadar mengucapkan selamat malam dan melihat apakah anaknya sudah tidur pulas atau belum.
Kamar yang pertama kali dilihat Tia adalah kamar Hasan. Tia menyelimuti sang anak lelakinya. Hasan memang suka tidur tanpa selimut, gerakannya banyak hingga berulang kali dibenarkan selimutnya maka akan terhempas lagi.
"Selamat tidur, Kakak. Mimpi yang indah ya," ucap Tia sambil mengecup kening sang putra. Hasan hanya tersenyum. Dia paling tahu jika sang ibu tiap malam akan memberinya kecupan dan ucapan selamat malam. Barulah Hasan akan tidur terlelap.
Setelah dari kamar Hasan, Tia ke kamar Hasna. Memang Tia dan Hans membiasakan tidur terpisah karena untuk menjaga anak-anak sesuai prinsip dasar agama yang memisahkan tidur antara anak laki-laki dan anak perempuan.
"Selamat malam, Kak. Semoga tidur nyenyak," ucap Tia setelah merapikan selimut Hasna sebelumnya.
Ketika Tia hendak pergi, tangannya ditarik oleh Hasna.
"Mama ... aku mau tidur sama mama ... Hasna kangen," ucap Hasna di bawah alam sadarnya. Tia tersenyum lalu menempatkan dirinya di samping sang anak. Malam ini Tia tidur di samping Hasna, tentu saja yang cemberut adalah Hans. Akhirnya Hans pun memilih tidur dengan anak laki-lakinya. Hal yang cukup adil bukan?