Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab. 106


Steve menatap penuh harap pada Hans, namun Hans hanya terdiam. Dia bingung harus bagaimana.


"Tuan Steve apa yang bisa saya bantu? Tapi tunggu ya, saya harus mengurus dulu administrasi pendaftaran istri saya," jawab Hans tidak langsung menyetujui permintaan Steve. Dia harus mengurus istrinya terlebih dahulu.



"Baik, Tuan Hans. Maaf jika saya merepotkan Anda. Kabari saya jika Anda sudah longgar, Tuan. Masih menyimpan nomer HP saya 'kan, Tuan?" tanya Steve agak malu.



"Tentu saja, Tuan Steve. Saya masih menyimpan nomer Anda. Baiklah saya ke loket pendaftaran dulu," ujar Hans berpamitan pada Steve. Dia ingin segera mengurus pendaftaran sang istri.



"Baik, Tuan. Maaf sudah mengganggu waktunya," ucap Steve sambil menunduk,dia menyadari bahwa waktunya tidak pas untuk meminta pertolongan. Namun, untuk bisa mewujudkan keinginannya, Steve terpaksa memberanikan dirinya meminta bantuan pada Hans.



Hans pun bergegas menuju ke loket pendaftaran. Setelah selesai, Hans kembali ke UGD tempat Tia masih dirawat.



"Mas, aku dimana?" tanya Tia pada sang suami yang baru saja datang dari loket pendaftaran.



"Kamu dirawat di rumah sakit, Tia. Kamu tadi pingsan, dan mas sangat khawatir lalu membawa mu ke sini. Alhamdulillah, jika kamu sudah sadar. Apa masih pusing?" Hans mengusap kepala sang istri.



"Aku di rumah sakit, aduh ... Kepalaku agak pusing mas!"



"Tidurlah, Tia. Kamu masih lemah, mungkin karena kecapekan tadi pagi. Maafkan mas, membuatmu kecapekan begini." Hans meminta maaf pada Tia.



"Aku tidak apa-apa, Mas. Mungkin hanya syok saat tahu jika tuan Gunawan adalah ayahku. Mas, apa yang akan kita lakukan selanjutnya? Aku takut jika tuan Gunawan tidak mengakui aku sebagai anaknya. Dia seorang pemilik perusahaan yang terkenal mana mungkin mau mengakui aku, anak hasil perbuatan terlarang," ucap Tia lirih.



Hans menghela napas dalam-dalam, memang benar apa yang dikatakan oleh Tia. Seorang pengusaha sukses dengan nama yang cukup terpandang mana mungkin mau mengakui Tia sebagai anaknya. Jelas jika hal itu terjadi maka nama baik Gunawan akan tercemar.



"Sayang, kita tidak boleh cemas dan khawatir atas sesuatu yang belum terjadi. Kita harus yakin atas usaha kita, niat baik pasti akan mendapatkan hal yang baik pula." Hans menghibur hati Tia, dia tidak ingin istrinya terlalu banyak beban pikiran, sehingga akan mempengaruhi kesehatan mental dan fisik sang istri.



"Baiklah Mas aku percaya dengan kata-katamu segala niat yang baik pasti akan menghasilkan hal yang baik pula. Terima kasih, Mas. Kau sudah mendukung dan menemaniku mencari ayah kandungku, semoga apa yang kita usahakan hari ini akan menuai hasil yang baik dan tidak ada yang sia-sia belaka."



Dia tersenyum menatap sang suami di dalam hatinya dia akan menerima apapun konsekuensi yang ia dapat nanti jika bertemu dengan Gunawan. Entah Gunawan akan mengakui dirinya sebagai anak kandung atau tidak, Tia sudah pasrah pada takdir yang harus ia jalani.



"Bagus, Sayang. Mas harap kau juga berpikiran seperti itu karena hanya pada Sang Pencipta lah kita berserah diri, tidak ada yang bisa kita paksakan tanpa izin dari Nya," ucap Hans dengan tenang, dia tidak ingin terlihat gelisah di hadapan sang istri.



Keduanya saling menatap menguatkan satu sama lain. Mereka tidak ingin mendahului takdir. Tidak berapa lama kemudian, seorang suster menghampiri mereka.



"Maaf, Nyonya. Kita akan pindah kamar di kamar VIP." Suster itu meminta Tia untuk bersiap saat akan di dorong ke kamar VIP.



"Baik, Sus," jawab Tia tersenyum. Cairan infus sudah masuk ke tubuh Tia hingga Tia kini sudah tidak terlihat pucat lagi seperti waktu pingsan tadi.



Hans mengikuti dari belakang saat para suster itu mendorong brankar Tia menuju ke kamar VlP. Kamar dengan fasilitas lengkap dan mewah untuk para pemilik duit tebal.



Saat memasuki lorong serta. Kamar VIP sosok lelaki berjalan keluar dari sebuah kamar VIP yang sama. Lelaki itu terlihat sangat berwibawa di usianya yang sudah tidak muda lagi.




"Siapa gadis itu? Mengapa wajahnya mirip denganku?" gumam Gunawan di dalam hati saat melihat wajah Tia. Namun, dia tetap melanjutkan jalannya saat Tia sudah berbelok masuk ke dalam kamar yang sudah Hans pesan.



"Siapa laki-laki tadi? Mengapa wajahnya begitu teduh dilihat," ucap Tia di dalam hati. Dia tidak ingin bercerita pada Hans tentang lelaki yang baru saja ia lihat tadi. Hans sendiri tidak mengenali sosok lelaki tersebut karena sudah lama tidak bertemu dengan Gunawan.



Para suster membantu Tia untuk pindah dari brankar ke bed nya yang lebih luas. Fasilitas di kamar VIP memang tidak mengecewakan.



"Semua sudah selesai, Nyonya. Nanti kami akan datang lagi untuk mengantar makanan dan obat yang harus Anda minum, Nyonya. Untuk dokter akan visit nanti sore," ucap sang suster dengan ramah.



"Terima kasih, Suster," ucap Hans mewakili Tia.



"Sama-sama, baiklah kami permisi dulu, Tuan dan Nyonya. Jika ada membutuhkan kami silakan tekan tombol ini," ucap sang suster dengan tersenyum.



"Siap, Sus. Kami paham," ucap Hans lagi.



"Permisi, Tuan dan Nyonya." Para suster itu pun pergi meninggalkan kamar Tia. Mereka kembali ke ruangan mereka masing-masing.



"Bagaimana, sudah nyaman belum, Sayang?" tanya Hans memastikan posisi Tia tidur sudah nyaman atau belum.



"Sudah nyaman kok, Mas. Oh ya, Mas. Apa sudah menghubungi ibu?" tanya Tia pada Hans. Di saat sakit pun Tia masih ingat dengan sang ibu.



"Sudahlah, Tia. Ibu sudah dengan pembantu baru. Kata ibu, orangnya baik dan juga rajin sesuai dengan harapan ibu. Kita fokus dengan kesehatan mu saja ya, ibu tidak perlu dikabari. Takut nanti malah mengkhawatirkan mu," jawab Hans. Dia kagum dengan sang istri yang masih memikirkan ibu yang bukan ibu kandungnya.



"Baiklah, Mas."



Tia pun akhirnya tertidur.


***


Di rumah Wulan.



Ridho yang lama tidur nyenyak pun terbangun. "Wulan, kau mau kemana?" tanya Ridho pada sang istri yang sudah rapi.



"Aku ada perlu, Mas. Sudahlah, kau lanjutkan saja tidurmu! Semalam kau mabuk berat dan membuat keributan di pesta itu!"



Wulan melanjutkan merias wajahnya, kali ini dia ingin pergi menemui istri Steve. Dia sudah mendapatkan alamat rumah sakit dari ponsel Steve.



Ridho yang masih merasakan pusing kepalanya, memilih kembali tidur.



"Mas, aku akan pergi selama beberapa hari. Ada yang harus aku urus, terserah kau ijinkan atau tidak, pokoknya aku akan pergi!" seru Wulan menutup koper berisi baju yang sudah ia siapkan.



Ridho yang hendak kembali tidur pun akhirnya mengurungkan niatnya. Matanya tidak jadi mengantuk mendengar Wulan pamitan untuk beberapa hari.