Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab. 119.


Clara ingin agar Gunawan sibuk mengurusi perusahaan sang ayah daripada harus mengurusi kehamilannya. Gunawan pun akhirnya menyetujui permintaan Burhan dan Clara. Dia mulai fokus dengan perusahaan milik Burhan.


"Baiklah, Pi. Aku akan berusaha untuk lebih giat bekerja lagi, agar Papi bangga padaku," ucap Gunawan mengantar kepergian Burhan.


Clara meras lega, sekiranya rahasia Clara akan tetap terjamin. Sisi egonya pun tertawa. Sungguh ini adalah awal yang bagus untuk masa depannya. Tidak akan ada yang tahu jika dia sudah hamil duluan sebelum menikah dengan Gunawan.


Flash Back Off


Suasana di lorong kamar VIP pun mulai ramai karena jam jenguk sudah dibuka.


Gunawan tersenyum kecut melihat Hans yang menatapnya dengan perasaan yang sulit untuk dijelaskan. Dia tidak menyangka jika Gunawan sebenarnya sedang dimanfaatkan oleh sang istri, namun Gunawan tidak mengetahui hal itu.


"Paman, sekarang paman sudah tahu jika Tia adalah putri paman. Apa yang akan paman lakukan dan bagaimana jika Tante Clara mengetahui hal ini?" cecar Hans. Dia sangat penasaran bagaimana jika Clara tahu suaminya memiliki anak dari hasil perbuatannya yang terlarang.


Gunawan mengambil napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan.


"Hal pertama yang akan paman lakukan adalah mendonorkan darah paman untuk Tia. Setelah itu paman akan memberitahu Tia, bahwa paman adalah ayah kandungnya. Paman akan menebus semua kesalahan yang sudah paman lakukan," jawab Gunawan sembari bertopang dagu.


Hans menangkap kegelisahan dari nada bicara Gunawan. Jelas pasti akan gelisah karena Gunawan menyembunyikan sesuatu hal yang besar pada istrinya.


"Paman, apakah paman akan memberitahu Tante Clara?" tanya Hans lagi, karena pertanyaan ini sedari tadi belum dijawab oleh Gunawan.


Gunawan mengusap kasar wajahnya lalu mendongak ke atas menatap langit-langit di sekitar kamar sang putri.


"Jika aku mengatakan kebenaran pada Clara, jelas pasti dia akan marah dan tidak terima. Namun bagaimana lagi, apa aku sanggup untuk menyembunyikan semua hingga ruh ini lepas dari raganya?" Gunawan menatap mata Hans lekat-lekat seolah ingin mengatakan bahwa dirinya tidak tahu kapan akan meninggal.


Hans terkejut dengan perkataan Gunawan. Memang benar sebuah kebenaran tidak baik jika terlalu lama disembunyikan.


"Benar, Paman. Lebih baik kita meninggal dunia dalam keadaan semua sudah terungkap. Untuk memperlancar perjalanan kita menuju ke surga-Nya," imbuh Hans mendukung apa yang dikatakan oleh Gunawan.


"Sudahlah, lebih baik kau antar paman untuk mendonorkan darah paman. Berharap Tia akan segera mendapatkan transfusi darah. Sungguh ini sudah takdir jika kami dipertemukan di rumah sakit ini," ucap Gunawan dengan senyum getirnya.


"Baiklah, Paman. Mumpung Tia masih Tidur, Saya akan mengantar paman pada sang suster. Mari, Paman," ucap Hans memenuhi keinginan Gunawan.


"Mari, perbuatan baik harus kita segerakan," sahut Gunawan.


Mereka berdua beranjak dari tempat duduk mereka menuju ke suster jaga terlebih dahulu. Hans dan Gunawan berjalan beriringan menuju ke tempat suster jaga. Mereka terlebih dahulu akan meminta tolong pada para Suster untuk mendaftarkan Gunawan sebagai pendonor darah untuk Tia.


"Permisi, Sus, bisa kami minta tolong?"ucap Hans tatkala sudah sampai di depan meja para suster yang berjaga.


"Begini, Sus. Saya sudah mendapatkan orang yang akan mendonorkan darahnya untuk istri saya, sepertinya bapak ini memiliki golongan darah yang sama dengannya. Bisakah bapak ini dicek dahulu, Sus?" Hans memberitahukan apa yang ia inginkan sembari menoleh ke arah Gunawan.


"Oh, bisa Tuan. Saya akan mengantar tuan ke tempat di mana untuk mendonorkan darah," jawab sang suster beranjak dari duduknya.


"Mari silakan ikut saya, Tuan," ajak sang suster meminta Hans dan Gunawan untuk mengikuti dirinya.


Hans dan Gunawan berjalan berdampingan mengikuti suster itu dari belakang. Sang suster menyusuri lorong untuk membawa Hans dan Gunawan ke tempat yang khusus digunakan para relawan untuk donor darah.


Setelah mengurus administrasi, kini saatnya Gunawan berbaring di bed untuk diambil darahnya. Proses yang lumayan lama. Bersyukur sekali kondisi kesehatan Gunawan bagus, hingga 2 kantung darah berhasil di dapatkan. Itu artinya kebutuhan darah Tia pun terpenuhi.


"Semua proses pengambilan darah sudah selesai, silakan tuan istirahat sambil memakan makanan dan minuman yang sudah tersedia, berharap kondisi tubuh anda segera pulih kembali," ucap sang suster setelah mengantar makanan dan minuman untuk Gunawan.


"Terima kasih, Suster. Apakah darah itu langsung diberikan oleh Tia?" tanya Hans dengan keingin- tahuannya yang paripurna.


Suster itu tersenyum melihat kepolosan Hans, jelas sudah pasti jika darah sudah didapat maka akan segera diberikan pada pasien.


"Tentu saja, Tuan, setelah ini akan kami berikan langsung pada Nyonya Tia, agar janinnya yang baru berbentuk gumpalan segera bisa membentuk dan lebih kuat lagi," jawab sang suster dengan senyum manisnya. Namun sayang, senyum sang suster lemparkan pada Hans, tidak memberi pengaruh apapun pada Hans.


Hans bernapas dengan lega. Saat ini Hans menemani Gunawan yang sedang istirahat. Dia tidak mungkin meninggalkan Gunawan sendirian, sebagai rasa terima kasihnya, Hans akan menunggui Gunawan sampai dia bisa diajak berjalan kembali ke kamar VIP.


Gunawan tertidur Setelah dia makan dan minuman yang diberikan oleh suster tadi berharap setelah bangun tidur nanti Gunawan akan merasa lebih segar lagi.


Harus mengambil ponselnya untuk memberitahu Tia jika nanti dia bangun. Rasa syukur dan terima kasih menyelimuti hati, Hans merasa lega karena istrinya sudah mendapatkan donor darah.


Setelah mengirim pesan ke Tia, Hans mengirim kabar pada sang sekretaris, sekaligus menanyakan keadaan sang ibu.


"Hooam ...." Gunawan menguap setelah satu jam dia tidur. Badannya sudah pulih kembali.


"Nak Hans? Sedari tadi di sini menunggui, Paman?" Tanya Gunawan pada Hans yang sedang asyik berselancar di papan keyboard ponselnya.


"Oh Paman sudah bangun? sudah dari tadi Hans di sini untuk menjaga Paman takutnya Paman membutuhkan sesuatu tapi tidak ada yang menjaganya anggap saja sama ini sebagai ucapan terima kasih Hans pada paman," ucap Hans bangkit dari duduknya dan menghampiri Gunawan.


Paman sudah tidak apa-apa badan Paman juga sudah lebih bugar dari sebelumnya Baiklah Ayo kita kembali saja ke kamar pasien ajak Gunawan pada hasil mengangguk senang kelegaan di dalam hatinya telah membuat Hans menjadi lebih ceria dari sebelumnya.


Gunawan dan Hans berjalan berdampingan menuju ke kamar keluarga masing-masing tidak berapa lama mereka pun sampai juga di kamar mereka Hans pun berpamitan untuk masuk menunggui Tia kembali.


Sementara hal yang sama, Gunawan lakukan. Dia pun masuk ke dalam kamar Sinta. Namun mata Gunawan membulat sempurna melihat siapa yang duduk di dekat Sinta.