
Tia memejamkan mata untuk menenangkan hatinya. Berusaha untuk tidak memasukkan ke dalam hati dan pikirannya semua yang dikatakan oleh sang suami.
"Tia ... Sabar, Tiaa ... Lebih baik dia marah daripada dingin padamu. Kamu harus bisa merayunya, Tia. Redamkan amarahnya!" monolog Tia di dalam hati, menguatkan dirinya sendiri agar rumah tangga yang baru saja dia bangun tetap kokoh dan bersemi indah.
"Hem ... Hem ... Mas Hans yang ganteng dan tidak sombong, begini ya tadi tuh kenapa Tia tidak angkat teleponnya? Semua itu karena Tia sedang membantu salah satu penghuni hotel ini yang mendadak terkena serangan jantung. Tadi Tia hendak melihat persiapan dekorasi pernikahan kita, jadi Tia keluar dari kamar. Nah, di kamar ujung lorong kita itu ada lelaki setengah baya tiba-tiba jatuh pingsan."
"Siapa laki-laki itu? Orang mana dan dengan siapa dia menginap di sini?" Belum selesai Tia bercerita, Hans sudah memberondongnya dengan berbagai pertanyaan yang seakan tidak ingin Tia perhatian pada orang lain. Sungguh kecemburuan yang teramat berlebihan.
Tia menjadi gemas sendiri dengan Hans, lelaki yang ada di depannya itu bukannya membuat marah, malah membuat Tia menjadi gemas. Sepertinya Hans akan mendapat pawang yang tepat. Tia pun bergerak maju mendekati Hans. Sejurus kemudian kakinya berjinjit dan mengecup pipi Hans dengan tiba-tiba.
Cup!
Hans yang tiba-tiba mendapat kecupan manis dari sang istri tiba-tiba darahnya berdesir. Jantung Hans bertalu-talu ingin meledak. Seumur hidup baru pertama kali dirinya di kecup oleh seorang wanita saat marah.
Dulu waktu bersama Wulan, saat Hans bertanya keberadaan Wulan an bersama siapa maka lagi-lagi pertengkaran pun terjadi. Wulan sosok istri penganut paham kebebasan, bukan istri yang patuh pada seorang suami. Menurut Wulan kedudukan istri itu sama dengan suami.
"Mas diam dulu! Dengarkan Tia cerita sampai selesai, baru bicara. Mas, Paham?!" Tia berkata layaknya seorang guru kepada muridnya. Anehnya, Hans pun langsung diam dan mengangguk. Menyimak dengan baik apa yang dikatakan oleh sang istri.
"Mas, tadi itu ada bapak-bapak yang tiba-tiba pingsan di depan kamarnya. Sepertinya dia belum sampai masuk sudah pingsan duluan. Tia melihatnya terus membantu bapak itu dengan mengetuk pintu kamarnya dan memberitahu istrinya. Dah gitu aja, terus Tia kembali ke kamar karena ponsel Tia ketinggalan. Mas Paham tidak?!" tanya Tia dengan tatapan menyelidik.
Lagi-lagi, Hans mengangguk, entah dia memahami atau tidak, matanya terus menatap ke arah bibir Tia. Semakin lama ternyata bibir Tia terlihat makin menggoda. Hans pun tidak tahan lagi hingga akhirnya berakhir di ranjang.
"Manis juga, gurih dan crunchy ...." puji Hans yang sudah membabat habis bibir Tia.
"Apaan sih, Mas. Dower nih!! Ck ... menyebalkan sekali! Tadi marah sekarang ...."
***
Matahari merangkak menuju paraduannya. Kedua orang yang sedang dimabuk asmara tengah selesai menjalankan kewajibannya sebagai hamba yang beriman. Tia meminta Hans untuk segera mengantarnya ke butik untuk membelikan baju bagi sang ibu mertua.
"Tia, kamu tidak membelikan baju untuk ibumu?" tanya Hans.
"Tidak, Mas. Mama belum bisa menerimaku. Walaupun tubuhnya sudah sakit begitu ternyata dia belum bisa menerima diri Tia. Buat apa Tia harus memaksakan diri?"
Hans menatap kasihan pada Tia. Ternyata setelah kebaikan Tia membiayai pengobatan sang ibu, sama sekali belum diterima.
"Sudahlah, Tia. Kita harus sabar dan terus berdoa agar mama bisa menerima mu sebagai anaknya. Sudah banyak pengorbanan yang kau lakukan. Demi kebahagiaan mereka kau rela melepas masa muda mu menikahi orang yang tidak kau cintai," balas Hans sembari merengkuh tubuh Tia.
Mereka berdua pun melanjutkan memilih baju yang pas untuk Ningsih. Sembari sesekali bercanda, Hans dan Tia menikmati waktu kebersihan mereka.
***
Di rumah Wulan.
"Apa, Mas?! Rumah kita akan di sita? Kau sudah menggadaikan rumah ini? Astaga ... Itu artinya sekarang kita sudah jadi gembel, Mas!! Dan semua itu karena kebodohanmu, kau berselingkuh di belakangku, Mas!" teriak Wulan histeris karena tidak terima Ridho berselingkuh dan sekarang jadi gembel.
"Wulan ... Aku akui saat itu aku sedang khilaf. Aku terlalu marah karena kau meminta uang untuk beli baju pesta. Aku bingung, juga kesal. Surat tanah yang aku beli sewaktu menikah dengan Tia pun sudah tidak ada. Mau aku minta pada Tia, tapi mas tidak tahu dimana tempat tinggalnya sekarang dan asal kau tahu, aku dan Tia sudah resmi bercerai!!"
Ridho mencari pembelaan untuk dirinya. Padahal semua itu hanyalah alasan untuk bisa lari dari kenyataan.
"Apa?! Surat tanah itu tidak ada!!"