Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
MMSP2. Bab. 37


"Ayo. Sekarang kita coba cicipi sedikit sajian masakan yang sudah disiapkan di acara ini," ajak Hans dan menarik sedikit tangan Tia agar istrinya itu segera berdiri dan mengikuti langkahnya.


"Tia mau makan yang manis-manis saja, Mas," ucap Tia mencegah Hans yang ingin mengambilkan makanan yang memiliki citarasa yang sedikit asin.



"Oh? Baiklah." Hans menuruti keinginan istrinya.



"Kita duduk di sana." Hans mengajak Tia.



"Nyonya Tia. Bisa kita bicara sebentar?"



Tia dan Hans sama-sama mendongakkan kepala mereka begitu Sharma tiba-tiba berdiri di depan mereka yang sedang menikmati puding.



"Mau bicara apa, Tuan Sharma?" Hans merespon lebih dulu.



"Sesuatu yang teramat sangat penting dan harus segera disampaikan ke nyonya Tia, Tuan Hans," ujar Sharma sedikit sengit.



"Masalah bisnis ini? Baiklah. Sayang, aku tinggal sebentar dulu, ya? Nggak papa, kan?" tanya Hans kepada Tia.



"Apa maksudnya, Tuan Hans? Saya hanya ingin bicara kepada nyonya Tia, bukan kepada Anda!" sentak Sharma sedikit keras karena begitu kesal melihat keromantisan yang ditunjukkan oleh Hans.



"Apa bedanya, Tuan Sharma? Sudah saya katakan kalau saya yang bertanggung jawab atas perusahaan istri saya, karena kedepannya, saya yang akan menghandle perusahaan istri saya sampai kelahiran anak saya yang ke-tiga," uajr Hans penuh penekan. Hans menegaskan pada akhiran kalimat yang ia ucapkan agar bisa menyadarkan Sharma, jikalau Tia adalah istrinya, dan sudah akan memiliki tiga orang anak.



"Ingatlah juga. Semuanya ada batasannya, Tuan Sharma. Kau sudah memiliki istri dan anak. Jangan hancurkan pernikahanmu hanya karena ketertarikannya terhadap istriku!" tegas Hans. Dengan posesif Hans langsung merangkul pinggang Tia agar mendekat kepadanya. Semua itu seharusnya sudah bisa menunjukkan kepada Sharma jika Tia adalah miliknya. Miliknya seorang!



"Kau!" Sharma mengangkat sebelah tangannya dengan jari telunjuk yang mengacung ke muka Hans. Giginya menggeletuk dengan geram mendengar semua perkataan Hans yang begitu sangat menyudutkan Sharma.



"Jika Anda sadar, kita hanya menjalin kerja sama bisnis, dan tidak lebih! Kedepannya, tolong jaga sikap Anda, dan jangan bersikap seolah-olah Anda bisa mendapatkan hati istri saya, Tuan Sharma!"



Sharma yang mendengar ucapan itu mengepalkan tangannya dengan sorot mata yang sudah menggelap. Saat ini, semua pasang mata kini tengah menatap mereka menyadari terjadi keributan yang tercipta walaupun tidak terlalu mencolok, namun terasa sangat menegangkan.



"Sialan," desis Sharma begitu kesal dengan perkataan Hans.



"Jaga sikap Anda jika tidak ingin reputasi Anda yang sudah sangat dikenal oleh banyak orang akan segera rusak hanya karena masalah sepele seperti ini, Tuan Sharma," ujar Hans setengah berbisik namun suaranya masih bisa di dengar oleh Sharma.



Hans merapikan jas kemejanya. Ia tersenyum simpul menatap Sharma yang sudah terbakar emosi.



"Baiklah." Sharma menatap nyalang Hans tanpa berkedip. Kedua tangan sudah terkepal di sisi kanan-kiri tubuhnya.



Tia yang melihat tatapan sengit itu meneguk ludahnya sendiri. Apalagi, melihat wajah suaminya yang sudah terlihat sangat menyeramkan, membuatnya hanya bisa diam di bawah perlindungan Hans.



"Saya akan membatalkan kerja sama ini dan menarik saham yang telah saya berikan," ujar Sharma dengan tegas membuat semua orang yang sedang menyaksikan perdebatan mereka membulatkan mata.



"Saya pikir, itu adalah jalan terbaik, Tuan." Hans langsung berbalik badan ke arah Tia. Ia mengulurkan tangannya dan disambut baik oleh Tia. Segera, Tia bangun dari duduknya dan berdiri sejajar dengan Hans.



"Kalau begitu, saya dan istri saya pamit untuk pulang ya, Tuan Sharma. Terima kasih atas sambutan dan jamuannya." Hans menundukkan tubuhnya sedikit. Ia dan Tia meninggalkan acara tanpa meninggalkan rasa hormat sedikit pun. Hans langsung membawa Tia masuk ke dalam mobil tanpa peduli dengan tatapan kecewa orang-orang yang telah datang di acara malam itu.



"Mas," panggil Tia dengan lirih.



"Iya?"



"Apakah Mas marah kepada Tia?" tanya Tia. Tia memberanikan diri menolehkan kepalanya untuk menatap Hans dari samping untuk memastikan jika suaminya ini kini baik-baik saja.



"Untuk apa Mas marah, Sayang?" tanya Hans. Hans menyempatkan diri untuk melirik ke arah Tia agar Tia yakin jika Hans saat ini baik-baik saja, dan sang istri tidak perlu berlebihan menanggapi kejadian tadi.



"Maaf, Mas. Tia sudah membuat waktu Mas terbuang sia-sia," lirih Tia. Kepalanya menunduk dengan rasa bersalah yang semakin membesar.



"Untuk apa minta maaf? Ini bukan salah kamu. Masalah kerja sama ini, kamu bisa mencari partner lain, Sayang. Dan untuk waktu Mas yang telah Mas luangkan untuk menggantikan kamu, itu bukanlah suatu masalah besar. Justru sebagai suami kamu, Mas harus siap siaga pasang badan untuk melindungi kamu. Apalagi dari pria seperti Sharma," tutur Hans dengan lembut membuat hati Tia merasa lega.



"Terima kasih banyak, Mas. Mas selalu bisa mengerti Tia, dan selalu bisa melindungi Tia." Tia menatap penuh cinta ke arah Hans yang masih fokus menyetir mobil.



"Kamu belum makan. Apakah kamu ingin singgah dulu sebentar ke restoran? Jika kamu tidak ingin makan makanan berat siang ini, setidaknya makanlah sedikit saja, Sayang. Adik bayi membutuhkan banyak nutrisi di dalam sini," ujar Hans sambil menjulurkan tangannya untuk mengusap perut buncit Tia dengan mata yang terus menatap lurus jalanan.



"Tia tidak berselera, Mas," ujar Tia.



"Mas yang suapi? Bagaimana?" tawar Hans membuat kedua pipi chubby Tia memerah. Tia seringkali heran, kenapa Hans selalu saja bisa membuat kedua pipinya merah, padahal usia pernikahan mereka sudah cukup lama, dan sedikit lagi mereka di karuniai dengan tiga orang anak yang akan melengkapi hidup mereka.



"Baiklah, Mas. Tia siang ini ingin makan opor ayam saja. Em, apakah restoran yang menyediakan opor ayam masih ada yang buka, Mas?" tanya Tia. Pasalnya, sekarang sudah untuk berkunjung ke restoran. Apalagi, dengan menu makanan yang Tia inginkan adalah menu yang sudah jarang di hidangkan di restoran-restoran terdekat di tempat mereka mengadakan acara.



"Sepertinya ada. Semoga saja ada ya, Sayang. Kita cari dulu," ujar Hans.



Hans memelankan laju mobilnya dengan manik mata yang tak henti menatap sekeliling agar restoran yang menyediakan makanan yang sedang istrinya inginkan tidak terlewatkan.



"Mas, disana saja," unjuk Tia.




"Es teh-nya jangan terlalu manis ya, Nona," ujar Hans setelah memberikan list menu kepada pelayan restoran yang ia pesankan.



Tia memakan dengan sangat lahap opor ayam yang begitu Tia inginkan. Sebenarnya sejak dua hari kemarin, namun ia tak kunjung mengatakan keinginannya kepada Hans karena berpikir jika itu hanya akan merepotkan suaminya yang sudah menjadi pemimpin di dua perusahaan yang berbeda.



"Mas, apakah kita cari makanan lain juga? Tia ingin membelikan Hasan dan Hasna makanan, Mas," ujar Tia setelah opor ayam di piringnya sudah berhasil Tia habiskan dengan sangat cepat.



"Mau belikan mereka apa?" tanya Hans. Sebenarnya, Hans keberatan dengan permintaan Tia kali ini. Sebab, mereka sudah terlalu lama di luar dan semua itu tentu saja tidak baik untuk kandungan Tia.



"Martabak. Hasna sangat suka yang manis-manis, maka kita akan membelikan satu martabak manis dengan taburan keju dan cokelat di atasnya. Sedangkan Hasan yang cenderung suka dengan rasa gurih, kita akan belikan dia martabak telur. Jadi, kita hanya perlu pergi ke satu tempat saja, Mas," ujar Tia.



"Kamu yakin? Kita pulang saja dulu, ya? Biar Mas saja yang membelinya setelah Mas mengantarkan kamu pulang ke rumah."



"Tidak, Mas. Kalau seperti itu, keburu anak-anak sudah pergi tidur siang. Kalau sudah seperti itu, maka siapa yang akan makan martabak manis dan telur yang telah Mas beli?" ujar Tia membuat Hans menghela napas kasar.



Kehamilan Tia kali ini berbeda dari sebelumnya. Tia lebih terkesan menjadi ibu yang cerewet dan sangat sensitif terhadap hal-hal yang sedikit menyakitkan. Bahkan, perasaannya pun sangat mudah berubah, tergantung mood dari ibu hamil tersebut.



"Baiklah. Di sekitar sini ada yang menjualnya. Apakah kamu sudah selesai makannya, Sayang?" Hans menatap Tia. Untung ada penjual martabak manis yang buka di siang hari.



"Sudah, Mas."



Hans segera mengurus biaya tagihan semua total pesanan mereka.



Dua kotak martabak kini sudah berada di dalam pangkuan Tia. Ibu hamil itu tersenyum dengan lebar membayangkan betapa bahagianya anak-anak mereka begitu melihat kepulangan orang tuanya dengan membawakan makanan kesukaan mereka.


***


Sementara itu di kantor Hans,


Aris berusaha berdamai dengan keadaan dan hatinya. Aris bersiap untuk menjemput para keponakannya di sekolah, karena hari ini Aris diminta Hans untuk menjemput Hasna di sekolah. Selain itu Aris sudah tahu jika beberapa hari ini Hasna sedang butuh perhatian.


Dengan Aris menjemput Hasna , ia berharap bisa menjadi tempat cerita untuk keponakan kecilnya itu. Sesampainya di gerbang sekolah Hasna dan Hasan, ia melihat mereka bersama dengan seorang guru. Siswa-siswi yang lain sudah pada pulang, mungkin ia sedikit telat dalam menjemput mereka.


Dengan segera Aris turun dari mobilnya. Ia mendekati kedua keponakannya itu.


"Hasna, Hasan, maaf ya. Om datangnya telat," ujar Aris dan dibalas anggukan oleh Hasna dan Hasan.


"Anda pamannya, Hasna, dan Hasan kemarin itu kan?" tanya Bu Devi yang memang sedari tadi menunggu jemputan yang menjemput Hasna dan Hasan.


"Iya, Bu Devi. Terimakasih sudah menemani dua keponakan saya sampai saya datang," ujar Aris.


"Baik, sama-sama, Mas. Hasna, Hasan, kalau begitu ibu kembali ke ruangan ibu ya karena kalian udah dijemput. Baik-baik ya di rumah, besok kita ketemu lagi di sekolah," ujar Bu Devi.


"Iya, Bu Devi," sahut Hasna dan Hasan secara bersamaan.


Bu Devi melangkahkan kakinya pergi dari sini, Aris menatap guru itu dengan tatapan tak berkedip. Bahkan sampai dia menghilang dari pandangannya ia tetap menatap Bu Devi. Hingga akhirnya kedua ponakannya itu menarik ujung bajunya.


Hal itu membuat Aris langsung tersadar dari lamunannya. Astaga, jika melihat cewek matanya memang sulit di kondisikan. Setelah itu ia membuka pintu mobil dan menyuruh mereka untuk masuk.


"Om kenapa lihatin, Bu Devi?" tanya Hasna.


"Dia guru kalian kan, cantik!" jawab Aris.


Hasna menganggukan kepalanya. "Iya om, Bu Devi guru aku yang baru."


"Okey, deh," jawab Aris sembari tersenyum, sebenarnya dia sudah berinteraksi dengan Devi beberapa hari yang lalu.


Aris tersenyum tipis, ia sudah mulai melupakan Alya dan rupanya ia tertarik dengan guru baru keponakannya Hasna. Dia guru anak-anak sudah seharusnya dia sayang dengan anak-anak, terbukti dari dia menemani Hasan dan Hasna ketika belum dijemput.


Rasanya senyuman itu begitu terbayang-bayang di ingatannya saat ia bertegur sapa langsung dengan Devi. Bisa dikatakan ini adalah momen tidak terduga, rupanya ia sudah mulai mendapatkan pengganti Alya. Bu Devi, itulah sebutan dari Hasna. Dia benar-benar mencuri perhatiannya.


"Besok biar om saja ya yang jemput kalian. Kasihan mama karena mama pasti capek setelah masak untuk kalian. Kita bisa beli es krim dulu sebelum tiba di rumah. Bagaimana?" tanya Aris pada kedua ponakannya.



"Yeeei ... Hasna suka di jemput om Aris. Asyiiik ... bisa makan es krim setiap hari!" jawab Hasna yang memang sangat senang jika Aris yang datang menjemput. Memang anak perempuan akan lebih dekat dengan ayah atau keluarga laki-laki yang lain.



"Kalau kamu, Hasan. Bagaimana, kak?" Aris melempar pertanyaan pada Hasan karena Hasan masih terdiam belum menjawab.



"Hasan sih ikut aja, asal om jangan bohongin kita lagi seperti dulu," ketus Hasan yang masih teringat sewaktu Aris beli rujak es krim untuk ibunya.



"Okey deh. Om janji akan membelikan es krim untuk kalian. Bagaimana kalau sekarang juga kita beli es krim sebagai permintaan maaf dari om," rayu Aris pada kedua keponakannya.



"Yeess ... Asyiiik ...let's go, Om!!" teriak Hasan dan Hasna serempak.



Ketiga orang itu pun bersama menuju ke warung es krim yang sedang viral.


***


Mobil yang membawa Aris dan dua keponakannya itu datang selang sebentar dari mobil Tia dan Hans.


"Mama ... Papa ...." teriak Hasna dan Hasan yang melihat mobil ayahnya merapat di halaman rumah mereka.



"Haiii ... Kalian juga baru pulang?" ucap Tia yang duluan keluar dari mobilnya.



"Iya, Ma. Kami beli es krim terlebih dahulu gratis dari om Aris," ucap Hasan sambil memamerkan satu cup es krim pada sang ibu.



"Waaw ... Asyik nih. Mama juga beli martabak untuk kalian, lihatlah ...." Tia memamerkan dua bungkus plastik dengan tulisan martabak manis dan martabak telur.



"Yeeei ... Hari ini Hasna senang sekali semua makanan kesukaan Hasna ada," teriak Hasna kegirangan. Tia tersenyum lega karena sang putri kesayangan kembali ceria.



"Baiklah anak-anak, waktunya kita masuk dan menikmati makanan ini," titah Hans meminta semua segera masuk.



"Aris, ayo masuk dulu," seru Hans meminta Aris untuk ikut masuk.



"Maaf, Mas. Aris langsung balik ke kantor aja, karena masih banyak yang harus Aris kerjakan. Oh ya, mulai besok biar Aris aja yang menjemput mereka ya mas. Kasian mbak Tia, biar dia bisa istirahat," pinta Aris dengan tatapan menyimpan sesuatu.