
"Semua berjalan dengan lancar, Pa. Steve sudah tidak bisa berkelit lagi, semua tuduhan yang memberatkan padanya sudah terbukti. Sekarang tinggal menunggu akta cerai turun dari pengadilan," jawab Sinta sambil mengaduk nasinya.
"Baguslah jika semua lancar. Semoga kau bisa mendapatkan pengganti Steve yang lebih baik lagi." Gunawan memberi semangat pada sang anak.
"Iya, Pa. Sinta bersyukur semua berjalan lancar. Tapi kalau untuk menikah lagi sepertinya Sinta akan berpikir dua kali. Sinta belum bisa menghilangkan trauma, takut diselingkuhi lagi."
Gunawan melirik ke arah Clara yang pura-pura tidak memerhatikan jika Gunawan menatap ke arahnya. Suasana di meja makan itu menjadi sepi, mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Ma, papa istirahat dulu. Masih banyak yang harus papa kerjakan untuk bahan meeting nanti di Jakarta." Gunawan beranjak dari kursinya setelah selesai melahap semua nasi yang ada di piringnya.
"Ya, Pa. Mama juga mau berkemas lagi. Siapa tahu ada yang tertinggal belum dimasukkan ke dalam koper."
Clara mengikuti sang suami masuk ke kamarnya. Tidak ada pembicaraan di antara mereka. Gunawan memilih langsung tidur karena merasa lelah hati dan tubuhnya. Dia masih berusaha bagaimana bisa jujur pada Clara, walau itu pasti sangat sulit.
***
Malam meninggalkan peraduannya dan sang ayam jago berkokok menyambut fajar yang mulai menyinari bumi. Suasana sibuk menyelimuti rumah-rumah di berbagai ujung dunia.
Di lobi rumah sakit.
Seorang wanita yang masih terlihat cantik di usianya menginjak 45 tahun berdiri mematung. Tangan kanannya memegang sepucuk kertas hasil tes DNA milik Tia dan Gunawan.
Clara memasukkan hasil DNA itu ke dalam tas nya. Dia mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Hallo, Nyonya!"
"Ya, Hallo. Bagaimana tugasmu. Sudah kau temukan alamatnya?!"
"Sudah, Nyonya. Setelah transfer akan saya share alamatnya. Mumpung saya berada di depan rumahnya."
"Baik. Aku transfer sekarang!"
"Siap, Nyonya Clara terhormat. Anda adalah partner bisnis terbaik!"
"Ck! Diam kau!"
Clara tersenyum setelah membaca alamat seseorang yang sangat ingin ditemuinya. Clara pun meninggalkan rumah sakit itu untuk kembali pulang. Sore nanti dia dan Gunawan akan bertolak ke Jakarta.
***
Keesokan harinya.
Tok! Tok!
Klek!
"Bu Clara?!" sapa Meri terkejut bukan kepalang siapa yang kini berdiri di depannya. Meri memalsukan senyuman dengan hati bimbang. Benaknya menerka-nerka pasal maksud kedatangan Clara kembali. Meri khawatir Clara sudah mengetahui sesuatu dan menuduhnya yang bukan-bukan.
"Apa kabar, Meri?" Clara menjabat tangan Meri lalu kembali duduk.
"Baik, Bu Clara." Meri terus memaksakan senyuman meski otot-otot bibirnya terasa kaku. Jujur, dia gugup sekali saat ini, disatroni Clara seperti ini. Akan tetapi Meri berhasil menyamarkan kecemasannya hingga terlihat begitu kalem di mata Clara. "Ada apa ya, Bu, tiba-tiba menemui saya begini? Apa ada hal mendesak?" Dia mengamati garis wajah Clara dengan seksama.
Clara tersenyum ramah. "Saya sudah menganggapmu sebagai sahabat, Meri. Saya datang ke sini untuk bersilaturahmi, menyambung komunikasi denganmu." Clara sangat pandai bersandiwara.
Meri menyunggingkan senyuman simpul. "Terima kasih, Bu Clara. Saya merasa sangat tersanjung."
Obrolan mereka pun berhenti saat Aris menyuguhkan teh manis untuk Clara. "Silakan diminum, Bu," ucapnya sopan.
Clara pula meraih gagang cangkir. "Terima kasih, Nak." Kemudian menyesap sedikit isi gelasnya.
Setelahnya Aris pun kembali masuk, meninggalkan Meri dan Clara berdua di ruang tamu.
Clara meletakan kembali cangkir teh manisnya. "Oh iya, Meri. Tadi Mas Gunawan menitip salam untukmu. Saya sempat memberitahunya akan mengunjung ke mari." Padahal pada kenyataannya, Gunawan belum mengetahui apa-apa. Clara sengaja membuat drama agar Meri jujur kepadanya.
Deg! Deg!
Meri menjadi tegang saat mendengar nama lelaki yang dahulu telah mengoyak kehormatannya. Dia merasa kurang nyaman. Disebutnya nama itu membuat benak Meri melanglang buana ke malam menyedihkan masa silam. Malam yang selalu membuatnya merasa bersalah kepada Cahyo. "A–ah, iya, Bu Clara. Wa–wa'alaikumussalam." Meri yang kini digerayangi gamang pun tergagap dengan gelisah.
Bibir Clara melekukkan senyuman, tetapi sorot matanya intens melihat Meri. "Sepertinya kamu dan Mas Gunawan sudah saling mengenal cukup lama. Sejak kapan kalian mulai berteman?"
"Ti–tidak juga, Bu. Saya mengenal beliau sebagai atasan suami saya dulu. Hanya itu, Bu. Kami tidak pernah dekat," jelas Meri dengan kecemasan yang mulai menyelimuti diri.
"Meri, insting saya ini tidak pernah keliru. Entah kenapa saya merasa kalau di antara kamu dan Mas Gunawan ada sebuah kedekatan yang sulit dijelaskan. Kalian terlihat jauh, tetapi di saat yang sama juga saya merasa kalian tak terpisahkan. Entah kenapa saya bisa berpikir demikian." Clara terkekeh sumbang. "Hanya kamu Meri, yang bisa menjelaskan semuanya. Menjawab semua pertanyaan yang selama ini mengganggu pikiranku. Hanya kamu satu-satunya."
Clara tertawa renyah, suasana hatinya tiba-tiba menjadi buruk. Ingin sekali dia berteriak lantang memaki Meri dan Gunawan yang sudah menyembunyikan sebuah rahasia darinya.
Mendapat sorot mata serius dari Clara membuat Meri meneguk salivanya dengan susah payah. "Pe-pertanyaan apa, Bu?" Meri tergagap karena merasa takut pada Clara.
"Katakan yang sejujurnya, Meri. Apakah Tia benar anak kandung Mas Gunawan? Hasil dari perselingkuhan kalian?" tanya Clara langsung ke intinya. Dia menatap tajam ke arah Meri yang sudah dingin tangannya.
Meri terbelalak mendengar pertanyaan langsung Clara. Dia sangat terkejut dan juga syok. Seketika kenangan malam pahit itu melintas di benak Meri. Peristiwa nahas yang sangat ingin dia hilangkan dalam ingatan. Meri gemetaran dengan perasaan tak keruan. Dia tak tahu harus menjawab bagaimana atau bercerita mulai dari apa. Seketika saja otaknya macet, seperti tidak bisa bekerja. Meri tergemap. "Mak–maksud Bu Clara apa ya? Saya tidak paham," tanyanya dengan wajah yang sudah membiaskan pucat.
"Saya yakin kamu mengerti pertanyaan ini, Meri. Kamu lebih tahu jawabannya dari siapapun." Clara dapat menangkap gelagat aneh dari wajah dan gerakan tubuh Meri. Tampak dia mulai merasa terusik dan tertekan dengan pertanyaan Clara. Meri tidak mungkin menjawab jujur. Dia takut Clara akan membeberkan aibnya. Meri takkan mempunyai muka di depan khalayak umum bila itu sampai terjadi. Dia akan merasa sangat malu dan hina. "Maaf, Bu Clara. Tapi saya …."
"Sudahlah, Meri. Jawab pertanyaan saya dengan sejujur-jujurnya. Saya tidak mempunyai waktu untuk berbasa basi. Jangan mengelak lagi. Tinggal jawab iya atau bukan." Clara mendengkus kesal. Dia mulai jengkel dengan sikap bertele-tele Meri. Padahal jawabannya singkat dan tidak rumit.