
Pagi buta Hans pergi meninggalkan Tia yang masih tertidur. Hari ini dia ada janji temu dengan ustadz Imran. Hari itu juga mereka akan mencari buhul sihir yang ditanam oleh Nigam. Tuanya Nigam sudah lama mengawasi rumah Hans.
"Assalamu 'alaikum, Aris, Ustadz Imran," ucap Hans yang baru tiba. Dia menyalami Aris dan ustadz Imran yang sudah datang lebih dulu darinya.
"Wa'alaikum salam," jawab Aris dan ustadz Imran serempak.
"Alhamdulillah, kita bisa berkumpul lagi. Sekarang kita harus bersiap untuk shalat hajat dan setelah itu kita bergegas menuju rumah Anda, tuan Hans," ujar ustadz Imran memberi tahu apa yang harus mereka lakukan saat ini.
"Baik, Ustadz. Kami akan mengambil air wudhu," jawab Hans diikuti anggukan oleh ustadz Imran yang sudah wudhu lebih dahulu sebelum menemui Aris dan Hans.
Hans dan Aris menuju ke tempat wudhu pria yang tidak jauh dari tempat Hans dan Aris berdiri.
Aris dan Hans berwudhu dengan sungguh-sungguh, hingga tidak ada anggota tubuh yang wajib terkena air wudhu masih kering. Setelah selesai, Hans dan Aris kembali ke tempat ustadz Imran menunggu.
"Sudah wudhu semua? Mari kita shalat hajat bersama, setelah itu kita bertiga gegas ke rumah Hans untuk mengambil buhul yang membuat keadaan rumah tidak ada aura positifnya," ajak sang ustadz untuk segera memulai semua ritual.
"Mari, Ustadz," Aris dan Hans mematuhi semua yang diperintahkan oleh sang ustadz.
Ketiga orang itu pun memulai shalat hajat agar Allah memudahkan semua yang mereka upayakan hari ini. Tanpa ijin dari Allah tentu semua tidak akan berhasil.
Setelah selesai shalat dan berdoa, mereka bertiga bergegas menuju ke rumah Hans. Mobil Hans melaju dengan kecepatan yang tinggi berharap bisa segera sampai dan sebelum Tia bangun mereka sudah menyelesaikan semua. Mendapatkan apa yang sudah Nigam tanam di sekeliling rumah Hans.
Mobil Hans pun akhirnya sampai di depan halaman rumah. Gegas mereka turun dan segera berkumpul menunggu perintah selanjutnya.
"Kalian bantu saya dengan membaca ayat rukyah dan dzikir. Aura negatif sudah mulai kentara. Sepertinya mereka terkejut dengan kedatangan kita. Tetap waspada dan jangan lengah. Kita cari bersama di mana aura negatif paling kuat maka di situlah buhul itu tertanam," ucap sang ustadz dengan kalung tasbih di tangannya.
"Siap, Ustadz!" jawab Aris dan Hans serempak. Mereka akan menjadi tim penguat yang selalu mengikuti kemana langkah sang ustadz.
Ustadz Imran berjalan memasuki rumah dengan lafaz dzikir yang tidak pernah terputus. Ustadz Imran menyusuri dari ruangan satu ke ruang yang lain. Semua kamar ia masuki tidak terkecuali kamar Hans dan Tia yang berada di lantai bawah.
Dengan air yang ada di tangan, ustadz Imran menyemprotkan air itu di dinding tembok rumah sembari membaca Al Qur'an. Setelah selesai memagari rumah Hans dengan bacaan Al Qur'an. Ustadz Imran kembali menuju halaman depan. Tepat di bawah pohon Cemara, ustadz Imran menyuruh Aris untuk menggali tanah.
"Aris, cepatlah gali tanah yang ada di bawah pohon Cemara ini," pinta ustadz Imran pada Aris. Aris pun mengangguk.
"Baik, Ustaz. Saya akan mengambil alat untuk menggali terlebih dahulu," ucap Aris mengangguk. Dia pun segera pergi ke gudang untuk mengambil cangkul kecil dan serok.
Aris mulai menggali dengan penuh semangat, hingga sampai kedalaman 60cm, Aris melihat kami putih.
"Ustaz ada lain putih!" pekiknya terkejut.
"Cepat ambil kain itu!" perintah ustaz Imran.
"Ini, Ustadz," ucap Aris menyerahkan kain putih dengan kedua ujung yang diikat.
"Alhamdulillaah, kita menemukannya. Semoga dengan ditemukannya buhul sihir ini, Bu Tia akan lebih baik lagi," ucap sang ustaz menimang bungkusan kain putih yang biasa untuk membungkus mayat.
"Aris, cepat kau kembalikan lagi tanah itu kembali seperti semula. Pasti yang menanam akan mencari tahu mengapa teluhnya sudah tidak mempan lagi. Buat kembali seperti semula, kalau perlu tanami dengan bunga atau pohon lain," titah sang ustaz pada Aris.
"Baik, Ustadz." Aris menjawab dengan penuh semangat. Dia juga berharap sang kakak satu-satunya bisa kembali normal dan tidak ada lagi yang mengganggunya.
Setelah selesai menguburkan kembali tanah yang sudah ia gali, Aris pun kembali bergabung dengan sang ustadz dan kakak iparnya.
"Bagaimana sudah selesai?"
"Alhamdulillah, Tadz. Sesuai dengang perintah ustaz. Semua sudah saya rapikan dan saya tanami pohon.
"Bagus, kalau begitu mari kita lanjutkan untuk membakar buhul sihir ini. Kita akan buka, apa yang dipakai orang itu mengganggu Bu Tia," ucap ustadz Imran membawa buhul sihir itu di tengah halaman rumah Hans. Berharap jika memang ada kekuatan jin nya maka kekuatan jin itu akan masuk ke dalam tanah dan pergi selamanya dari rumah Hans.
Ketiga orang itu pun berjalan menuju ke tengah halaman rumah Hans dan menghadap pintu masuk rumah Hans.
Perlahan sekali sambil membaca ayat rukyah, sang ustadz membuka ikatan tali di kedua ujung bungkusan itu.
"Astaghfirullahal adziim ...!" teriak Hans yang terkejut melihat foto Tia saat penobatan menjadi pebisnis sukses ditusuk bagian kepala dan dadanya. Selain itu wajahnya dilumuri dengan warna merah yang kemungkinan adalah da rah. Dan beberapa helai rambut Tia juga ada di situ.
"Astaghfirullah ... Ustadz beneran ini? Apa ini yang membuat mbak Tia tidak bisa tidur dan juga semua perubahan yang terjadi pada dirinya karena pengaruh benda ini?" tanya Aris mencoba menggabungkan apa yang menjadi pengamatannya selama ini.
"Benar sekali. Berkat benda inilah semua hal yang menimpa pada Bu Tia. Kita harus menghancurkannya dengan cara membakarnya dengan diikuti ayat rukyah," ujar sang ustadz dengan wajah yang serius.
Aris dan Hans bertukar pandang sejurus kemudian mereka serempak mengangguk, geliat wajah lega mewarnai wajah keduanya.
"Mari kita mulai," ucap sang ustadz memulai ritual menghancurkan buhul sihir yang telah dijadikan perantara untuk membuat Tia menderita dengan tidak wajar.
"Bismillah ... Allahu Akbar!" pekik sang ustadz membakar bungkusan kain tersebut.
Bum ....
Suara ledakan keluar saat sang ustaz memekikkan takbir. Bungkusan itu pada akhirnya terbakar juga. Lagi-lagi Hans yang kurang percaya akan hal mistis melongo, sembari menggosokkan kedua mata mereka. Berharap semua itu hanya mimpi atau imajinasi, akan tetapi semua nyata.
"Alhamdulillaah ...." Seru ketiga bersyukur dengan lega karena Tia sebentar lagi akan terbebas dari sihir yang dikirim ke rumah itu.
"Terima kasih atas semua yang ustadz arahkan, dan juga berkat ustadz rumah ini terlihat lebih tenang dari sebelumnya," ucap Hans berterimasih pada ustadz.