
Bab. 103
Steve bersimpuh dan memohon di depan sang mertua. Hanya ini jalan satu-satunya yang bisa Steve lakukan. Mengharap sang mertua tidak mendepaknya saat ini juga.
Clara melengos menatap suaminya yang terlihat dingin, Gunawan Pramudya seorang penguasa bisnis properti dan kuliner di tanah air. Dia sangat pendiam tapi juga mengerikan jika sudah marah.
"Bagaimana, Pa? Apa dimaafkan?" tanya Clara pada suaminya. Dia ternyata masih punya hati untuk mengijinkan Steve melihat dan memberi nama pada anaknya. Clara tidak ingin melihat cucunya merasa tidak memiliki anak.
Gunawan menatap ke arah Steve dengan tajam, lalu berkata, "Cucu saya tidak butuh ayah pengkhianat sepertimu! Aku masih bisa mencarikan ayah yang lebih baik darimu!"
Setelah berkata Gunawan pergi begitu saja meninggalkan Steve sembari menarik lengan sang istri.
Glek!
Kata-kata yang keluar dari mulut sang ayah mertua mampu membuat Steve luruh ke lantai. Ayah mertua yang dulu selalu membanggakan dirinya kini sama sekali tidak mau melihat ke arahnya.
Pupus sudah harapan Steve untuk bisa merayu sang mertua, Steve pun berniat kembali masuk ke kamar untuk membujuk sang istri.
Baru mau melangkah masuk kembali ke kamar sang istri. Dari atas ranjang, Sinta yang duduk langsung berteriak mengusir Steve.
"Stop! Jangan masuk, Mas!!" teriak Sinta dengan lantang. Seorang istri yang tidak pernah bersuara keras pada suaminya itu terpaksa harus berteriak kasar.
"Sinta! Ada apa Sinta? Mengapa kau melarang Mas untuk masuk ke dalam. Apa yang terjadi, Sinta?" Steve pura-pura tidak tahu kalau mertuanya pasti sudah cerita pada Sinta.
"Sudahlah, Mas, tidak usah pura-pura lagi aku sudah tahu semua bukan darimu tapi lihatlah kau dan selingkuhanmu viral di media massa. Aku baru saja membaca berita mu dari beranda Facebook ku!! Lihat saja sendiri, Mas!!" Sinta menunjukkan foto me5um suaminya.
Tubuh Steve bagai disambar petir mendengar dirinya sudah viral di berbagai sosial media. Dia tidak bisa mencegah semua karena ponsel Steve hilang.
"Astagaa ... Apa lagi ini? Mengapa aku sial sekali hari ini. Semenjak bertemu dengan Wulan, nasibku selalu sial!!" gumam Steve di dalam hati meratapi nasibnya yang sial.
Steve bergeming di depan pintu. Dia tidak berani maju satu langkah pun. Sepertinya sudah tidak ada celah lagi bagi diri Steve untuk meminta pembelaan. Sang istri sudah mengetahui perselingkuhan antara dirinya dan Wulan.
Steve bersimpuh di depan pintu kamar berharap Sinta mau sedikit mengasihani dirinya. Steve menatap satu persatu istri dan kedua mertuanya. Wajah mereka diliputi amarah yang siap meledak kapan saja.
"Sinta, ampuni aku! Aku khilaf karena wanita itu yang menggodaku. Jujur aku tidak kenal siapa wanita itu!" ucap Steve masih membela dirinya.
"Mau mamah beritahu siapa wanita yang menjadi selingkuhanmu itu? Dia adalah istri dari keponakan papa!! Sungguh memalukan sekali perbuatanmu, Steve!" geram Clara.
"Apa, Ma? Dia istri dari anak om siapa, Mah?" tanya Sinta yang terkejut dengan berita yang dia terima dari sang mama. Selama ini Sinta tidak pernah dengar kalau suaminya main wanita di belakangnya.
"Dia adalah anak paman Danu!"
"Mas Ridho? Bukankah dia baru saja menikah? Masa istrinya sudah selingkuh, Ma? " tanya Sinta lagi. Sungguh berita ini membuat mereka terkejut sekaligus malu.
"Namanya perselingkuhan tidak peduli masih pengantin baru atau pengantin lama. Semua bisa saja terjadi! Sayang, kita dulu tidak diundang di pernikahan si Ridho. Katanya hanya pesta sederhana, namun ternyata pesta itu cukup mewah juga," jawab Clara dengan sinis.
"Sudah, Sinta. Masih banyak lelaki yang baik mau menerima mu dan juga putrimu! Sekali selingkuh maka akan ketagihan. Kamu tidak mau hidup menderita bukan?" Gunawan bersuara, memperingatkan sang putri untuk tidak mudah memaafkan Steve-- suaminya.
Sinta melirik ke arah sang ayah yang sepertinya menyimpan sebuah rahasia. Sebuah rahasia yang tidak ia ketahui, begitu pula dengan sang ibu yang tidak tahu rahasia apa yang sesungguhnya Gunawan simpan dengan rapat.
"Sinta ... Aku mohon, pertimbangkan lagi. Apa kau tega membiarkan anak kita tanpa kasih sayang dari ayahnya?" bujuk Steve. Dia mencoba untuk kembali merayu Sinta dengan anak sebagai alasannya.
Sinta terdiam, satu sisi memang anaknya butuh kasih sayang dari sang ayah. Namun di sisi lain, dia tidak mau sakit hati dan perbuatan sang ayah akan berdampak pada hidup putrinya dulu. Bagaimana jika kelak saat sang putri dewasa di olok temannya sebagai anak dari tukang selingkuh yang viral?
"Mas! Sebelum selingkuh, apa kau tidak memikirkan aku dan anakmu? Apa kau pernah membayangkan jika kelak anakmu juga diselingkuhi oleh suaminya atau bahkan dia bisa jadi wanita yang merebut suami orang? Apa kau tidak memikirkan semua itu, Mas!!" gertak Sinta yang amat kecewa dengan suaminya.
"Tapi, Sinta!"
Sinta meringis, luka jahitan masih belum kering, sudah mendapatkan berita yang membuatnya sakit hati.
"Cukup, Mas. Tinggalkan kami sendiri. Surat cerai akan aku kirimkan kepadamu. Maaf, aku bukanlah wanita yang kuat seperti mereka yang bertahan walau sudah dikhianati. Aku wanita lemah yang tidak ingin berbagi dengan wanita manapun. Maafkan Sinta, Mas. Semoga kau hidup bahagia dengan wanita yang lebih kuat," ucap Sinta dengan perasaan yang hancur.
Rumah tangga yang dulu dia jaga hingga semua yang menjadi kata-kata sang suami adalah perintah, ternyata harus karam juga. Ketulusan pengabdian dan diamnya ternyata disalah gunakan oleh sang suami.
"Sintaa ... Jangan begitu, Sinta! Tolong beri mas kesempatan sekali lagi. Mas berjanji akan merubah sifat mas, mas akan menjadi suami yang baik dan setia," ucap Steve terus memohon.
Sinta menatap kedua orang tuanya bergantian. Baik Clara dan Gunawan semua mendukung apa yang menjadi keputusan sang putri semata wayang mereka. Mereka hanya tidak ingin putri mereka merasa sakit hati dan tidak bisa bahagia menjalani biduk rumah tangganya.
Steve tidak kuasa menahan air matanya, apa yang selama ini dia banggakan akan lepas dari genggamannya. Tidak tahu jika akan berakhir begitu cepat hanya karena wanita yang ia temui di pesta pernikahan.
"Pergilah, Steve! Sinta sudah tidak mau lagi bersamamu! Bawa semua barangmu, dan jangan pernah kau menampakkan dirimu di depan kami lagi!!" usir Gunawan pada Steve.
Steve berdiri dengan tubuh yang seperti tidak beraga. Lemas dan rapuh. Dia sudah ditinggalkan oleh dunianya. Memang hal apapun yang disia-siakan, jika pergi pasti akan menorehkan luka. Hanya tinggal penyesalan yang kini ada di dalam jiwa Steve.
Sinta menunduk, jauh dalam relung hatinya, sebenarnya masih sangat mencintai sang suami, namun sebuah pengkhianatan telah menghancurkan segala cinta yang ada dalam dirinya.
Dengan langkah berat, Steve meninggalkan kamar Sinta. Namun, dia tidak lupa untuk melihat sang putri yang masih ada di inkubator.
Steve berdiri di depan kaca, dari jauh dia melihat bayi dengan nama box baby Nyonya Sinta P.
Mata Steve berkaca-kaca, bayi yang sering ia tinggal saat dalam kandungan itu, seakan bertanya. "Dari mana saja kau papa? Mengapa kau sering meninggalkan aku sendirian dengan mama?"
Karena sudah tidak sanggup lagi melihat sang putri, Steve pun meninggalkan ruang bayi tersebut.
***
Sementara itu Tia dan Hans sudah berada di bandara. Mereka berdua kembali ke kampung di mana Tia dilahirkan dan awal bagaimana kejadian yang menimpa sang ibu terjadi.
Dari cerita sang ibu, mandor pabrik tempat ayahnya bekerja dulu itu, adalah ayah kandung Tia.
Kota Lampung dengan segala keindahannya menyambut kedatangan Hans dan Tia. Perjalanan tujuh jam dengan mobil, bisa dilalui lebih cepat dengan pesawat terbang.
Dengan mobil sewa, Hans dan Tia menuju ke kampung halaman Tia. Tujuan utama mereka adalah pabrik minuman tempat sang ayah bekerja sebagai teknisi.
"Mas, ini kah pabrik itu? Lihat sekarang sudah berdiri dengan megah. Tidak seperti dulu, ternyata semua sudah berubah. Apa kita mendapatkan informasi itu, Mas?" ucap Tia sembari menatap kagum pada pabrik megah itu.
Hans menatap sang istri yang merasa pesimis sebelum berusaha.
"Tia, kita akan mencoba masuk dan bertanya pada bagian personalia. Kita akan meminta data pegawai dari awal mula pabrik ini berdiri. Jangan menyerah sebelum berperang, okey?" ujar Hans memberi semangat pada Tia.
"Baiklah, Mas. Semangat!!" pekik Tia menyemangati dirinya sendiri. Dia tidak ingin menyerah sebelum berusaha.
Hans menggenggam tangan Tia lalu mengajaknya masuk ke dalam pabrik tersebut. Mereka menuju lobi pabrik dan menemui petugas resepsionis.
"Selamat siang, Tuan. Ada yang bisa kami bantu?" tanya sang petugas resepsionis.
"Selamat siang, bisakah kami menemui pemimpin pabrik ini?" tanya Hans pada petugas resepsionis.
"Maaf, Apakah Anda sudah punya janji dengan pimpinan kami?" tanya pegawai tersebut.
"Bilang saja dari Tuan Hans dari Permana Corps," ucap Hans dengan senyum ramah. Tia menatap heran pada sang suami.
"Baik, Tuan. Akan kami sampaikan, silakan tunggu sebentar," jawab sang pegawai resepsionis.
Hans dan Tia duduk di sofa yang khusus untuk para tamu. Tidak berapa lama, datanglah seorang laki -laki tambun dengan kemeja warna hitam.
"Tuan Hans? Anda di sini?" sapa lelaki tersebut. Dia adalah pimpinan direktur pabrik tersebut.
"Tuan Alan? Senang bisa bertemu dengan Anda," jawab Hans. Tia kembali menatap heran sang suami. Mengapa sang pimpinan pabrik malah begitu hormat pada Hans.
"Tuan Hans, begitu juga dengan saya, senang sekali. Akhirnya bisa kedatangan pebisnis sukses seperti Anda," ucap Alan.
"Anda terlalu memuji, Tuan. Kita sebenarnya sama saja. Masing-masing punya bisnis yang sukses. Bagaimana kabar Anda, Tuan Alan?" tanya Hans menepuk bahu Alan.
"Alhamdulillah baik, Tuan Hans. Bagaimana dengan Anda, saya dengar Anda melangsungkan pernikahan. Dan saya yakin wanita cantik yang ada di samping Anda ini pasti lah nyonya Hans. Benar bukan?" tebak Alan.
"Benar sekali. Kenalkan, dia adalah Tia, istri saya. Kami di sini ingin meminta bantuan Anda, Tuan," ucap Hans memperkenalkan Tia dan mengutarakan maksud kedatangannya.
"Selamat datang, Nyonya Tia. Senang berkenalan dengan wanita cantik seperti Anda," ucap Alan sembari mengedipkan matanya ke arah Tia.
Tia membulatkan matanya melihat untuk sekian detik tadi Alan mengedipkan matanya. Tia hanya tersenyum dan mengangguk tanpa membalas uluran tangan Alan.
"Apa yang bisa saya bantu, Tuan Hans?"
"Kami hanya ingin melihat data para pegawai dari awal mula pabrik ini berdiri. Bisakah Anda membantu kami, Tuan?" tanya Hans berharap Alan akan membantu dirinya.
Akankah Alan membantu Hans?