Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab. 109


Clara memilih diam agar tidak membuat malu sang suami. Tangan yang mengepal kuat hingga terlihat buku-buku jarinya yang memutih.


"Mau apa wanita itu kesini, dan bagaimana jika terjadi apa-apa pada Sinta. Apa yang harus aku lakukan," gumam Clara memikirkan apa yang akan selanjutnya Wulan lakukan.


Tiing ....


Satu pesan dari Wulan kembali masuk ke dalam aplikasi hijau. Mendengar ada pesan masuk lagi, Clara seketika mengambil ponselnya untuk melihat pesan yang Wulan kirim ke nomernya.


"Sialan! Dasar wanita pembawa sial! Dia tidak bisa melihat orang lain bahagia. Apa maunya wanita itu?" geram Clara di dalam hati saat melihat foto dan membaca pesan di bawahnya. Di sana tertuliskan bahwa Wulan tidak akan segan-segan memberikan video Steve pada sang istri.


'Bagaimana, Nyonya? Jika ingin semua aman maka Anda harus mengisi rekening saya seusai jumlah yang saya tentukan. Apakah Anda setuju, Nyonya?'


Pesan dari Wulan itu membuat Clara tidak tahan lagi. Dia harus mengalah dulu pada Wulan demi kebaikan putrinya yang baru saja melahirkan. Lukanya masih belum mengering, terpaksa Sinta harus merasakan akibat dari perbuatan kejam sang suami.


Clara pun kembali membalas pesan dari Wulan.


Clara: 'Baiklah! Berapa yang kau butuhkan!'


Wulan : 'Hanya sedikit, 100 juta saja sudah cukup!'


Clara: 'Gila kamu! Kau mau merampok saya?'


Wulan: 'Itu sangat murah dan tidak ada artinya jumlah segitu untuk Anda yang kaya raya, Nyonya!'


Clara: 'Maaf, saya tidak ada uang segitu! Lebih baik kau beritahu saja anak saya, Toh dia sudah tahu perbuatan suaminya lewat media sosial! Silakan coba saja kau beritahu anak saya!'


Wulan membulatkan matanya membaca kalimat terakhir yang ditulis oleh Clara. Dia tidak menyangka jika istri Steve sudah tahu semua. Rencana Wulan terancam gagal.


Wulan pun kembali mengetik membalas pesan dari Clara.


Wulan: 'Baiklah, jika itu keinginan nyonya, asal nyonya tahu saya memiliki berbagai video adegan dewasa saat bersama wanita sewaan milik menantu Anda. Ingat walau anak Anda sudah tahu tapi belum lihat video ini dan saat ini Steve masih menyandang status sebagai menantu Anda, Nyonya! Bagaimana kalau saya viralkan seperti Anda memviralkan saya?!'


Clara melongo tidak percaya jika Steve benar-benar keterlaluan. Sejurus kemudian Clara terdiam, apa yang dikatakan Wulan memang benar, saat ini status Steve masih menjadi suami dari Sinta karena belum ketuk palu di pengadilan agama. Clara pun mengetik pesan untuk Wulan.


Clara: 'Baiklah, temui aku di kafe samping rumah sakit, sekitar satu jam lagi.'


Tiing ....


Wulan tersenyum melihat pesan masuk dari Clara, hatinya senang karena merasa dirinya sudah menang dari Clara.


"Hahaha ... Akhirnya aku akan mendapat uang juga, lumayan bisa untuk hidup beberapa Minggu. Setelah mendapat uang ini aku akan operasi wajah, biar lebih cantik dan muda," gumam Wulan di dalam hati.


Wulan pun bergegas mengetik membalas pesan dari Clara.


Wulan : 'Siap, Nyonya. Saya akan datang ke kafe itu satu jam lagi.'


Clara: 'Ok'


Merasa dirinya sudah mendapatkan angin segar, Wulan pun memasukkan kembali ponselnya ke dalam tasnya. Dengan senyum yang merekah Wulan berjalan menuju ke kantin rumah sakit untuk mengisi perutnya yang sudah lapar. Dari awal berangkat Wulan belum makan apapun.


Brukk!


Tidak sengaja Wulan ditabrak oleh seseorang.


"Hey! Punya mata gak sih?!" hardik Wulan yang terjatuh karena tertabrak oleh orang itu.


"Maaf, Nona. Saya terburu-buru, mungkin tadi tidak melihat nona ada di depan," jawab lelaki itu dengan senyum kecutnya.


Wulan menatap laki-laki yang masih mengenakan kemeja dan jas putih lengkap.


"Maaf ... Maaf! Sakit tahu! Kau harus ganti rugi! Lihat kakiku sakit untuk berjalan!" teriak Wulan judes. Dia mengambil keuntungan dari kejadian tersebut.


"Baiklah, kali ini aku maafkan, tapi ingat! Aku pasti akan menagihnya! Namaku Wulan," ucap Wulan sembari mengulurkan tangannya ke arah lelaki tersebut.


"Oh, baiklah, Nyonya. Nama saya sudah ada di kartu tersebut, maaf saya terburu-buru menghadiri rapat. Permisi ...." Lelaki itu tidak membalas uluran tangan Wulan melainkan mengacuhkan dan meninggalkan Wulan begitu saja.


"Sombong sekali dia! Siapa sih namanya?! Dokter Arga. Nama yang cakep sesuai dengan orangnya! Walau berkacamata tapi ganteng juga sih, hahaha ... Wulan, Wulan ... Dimana kau berada selalu dipertemukan dengan lelaki ganteng dan tajir. Sungguh nasibmu mujur sekali!" gumam Wulan di dalam hatinya sembari membaca kartu nama yang ada di tangannya itu.


Wulan pun melanjutkan jalannya, namun saat sampai di kamar Tia, Wulan menghentikan langkahnya sejenak. Jiwa kepo-nya meronta ingin mencari tahu apa yang terjadi dengan Tia. Melihat ada beberapa suster dan seorang dokter masuk ke dalam ruangan Tia.


Wulan berdiri di depan pintu yang kebetulan sang suster tidak menutupnya dengan benar, sehingga dirinya masih bisa melihat ke dalam ruangan Tia.


"Kenapa para dokter datang ke kamar Tia? Apakah terjadi sesuatu pada Tia?" gumam Wulan sembari menguping pembicaraan dokter dan Hans.


Di dalam ruangan Tia.


"Maafkan kami mengganggu istirahat nyonya Tia. Kami ke sini untuk mengambil sampel urine nyonya Tia untuk pemeriksaan lebih lanjut," ucap sang Dokter


"Oh, silakan, Dok. Ini kami harus bagaimana?" tanya Hans yang tidak paham bagaimana sang dokter meminta sampel urine milik Tia.


"Cukup isi botol sampel ini dengan urine nyonya Tia nanti. Setelah terisi, baru nanti serahkan kami kembali," ucap sang dokter sembari menyerahkan botol sampel pada Hans.


"Baiklah, Dok. Nanti jika sudah selesai, akan saya serahkan pada suster yang berjaga," jawab Hans menerima botol sampel dari tangan sang dokter.


"Kalau begitu kami permisi, Tuan." Sang dokter itu pergi setelah berpamitan pada Tia dan Hans.


"Terima kasih, Dok," ucap Hans dan Tia bergantian. Hans mengantar sang dokter keluar dari kamar Hans, setelah itu mengajak Tia untuk buang air kecil.


Sementara itu Wulan yang menguping pun bergegas pergi dari tempat persembunyiannya, dia takut jika kepergok sang dokter.


Rombongan suster dan dokter itu pun keluar dari kamar Tia. Setelah sepi barulah Hans mengajak sang istri untuk buang air kecil.


"Ayo, Tia. Kau buang air kecil dulu, setelah itu masukkan ke dalam botol sampel," ajak Hans pada Tia, agar segera diketahui penyakit apa yang diderita sang istri.


"Baik, Mas," ucap Tia.


Perlahan Hans membantu istrinya untuk turun dan memapah sang istri berjalan menuju ke kamar kecil.


"Tia, ini botolnya. Segera kamu isi bot ini dengan urine mu. Setelah selesai kamu panggil mas ya," ucap Hans lagi.


"Iya, Mas," jawab Tia lirih karena belum sepenuhnya tubuh Tia pulih.


Tia pun bergegas masuk ke kamar kecil l, dan tidak berapa lama kemudian dia keluar dengan membawa sampel urinnya.


"Ini, Mas." Tia menyerahkan botol tersebut pada Hans.


"Baiklah, aku bantu kau kembali ke ranjang," ucap Hans kembali memapah sang istri dan merebahkannya di ranjang. Setelah membenarkan posisi sang istri, Hans menekan bel untuk memanggil perawat.


Ting ... Tong ....


Setelah menekan bel, Hans kembali duduk di kursi samping bed sang istri.


Tok! Tok!


"Permisi, Tuan. Saya petugas yang mengambil sampel urine nyonya," ucap petugas itu.


"Baiklah, silakan, Sus," ucap Hans menyerahkan botol sampel itu pada sang suster.


"Terimakasih, Tuan. Akan kami bawa dulu, untuk hasilnya nanti akan kami serahkan pad dokter yang menangani nyonya." Suster itu mengambil sampel botol dari tangan Hans.