
Clara tiba di rumah setelah sebelumnya dia mampir ke kantor tapi tidak mendapati sang anak, gegas dia mencari sang anak kesayangannya di rumah.
"SINTA! SINTA!! KEMANA SIH, ANAK ITU?!" Clara berteriak penuh kemarahan saat pulang dari kantor. Dia langsung berkoar-koar di dalam rumahnya yang megah, memanggil sang anak yang ternyata sibuk bepergian menghambur- hamburkan uang.
"Nona Sinta baru saja pergi ke Bali untuk berlibur bersama teman-temannya, Nyonya," kata salah seorang pelayan melaporkan dengan raut wajah takut yang tergambar jelas di wajahnya.
"LIBURAN?! KETERLALUAN ANAK ITU!! Kapan dia kembali?!" tanya Clara dengan nada tinggi, penuh kemarahan.
"No- nona bilang..., akan kembali lima hari lagi, Nyonya." jawab si pelayan dengan suara bergetar.
"Dasar anak durhaka!! berani-beraninya dia kabur disaat kondisi perusahaan sedang genting seperti ini!!!" keluh Clara sembari memijat pangkal hidung yang berdenyut linu.
Clara melangkah cepat menuju sofa, dan istirahat sebentar di sana. Dia meraih ponsel, dan mencoba menghubungi sang putri sekali lagi. Namun seperti sebelumnya, panggilan wanita dewasa itu selalu diabaikan oleh sang putri semata wayang.
Akhirnya Clara hanya bisa membanting ponsel di sofa. Dia pasrah dan meletakkan kepala yang terasa berat disandaran sofa. Kini, dia harus memikirkan sendiri langkah terbaik bagi perusahaan yang kini sedang berada di ambang kehancuran.
"Cepatlah pulang, Sinta! Mama butuh bantuanmu," lirih Clara dalam kesunyian. Kini dia seorang diri meratapi nasib tanpa seseorang yang mau mendengarkan di sisinya.
Dalam kesunyian, Clara teringat kembali akan kenangannya dulu bersama dengan Gunawan. Pernikahan mereka semakin lama semakin mengerikan tetap saja dahulu mereka memiliki kenangan yang cukup menyenangkan.
Mengingat kembali keputusan Gunawan yang untuk menceraikannya malam itu membuat salah satu sudut hati Clara berdenyut ngilu. Ada sedikit sisi dalam hatinya yang tidak rela kehilangan Gunawan, apalagi mengingat selama ini pria itu sangat sabar dan pengertian kepada dirinya.
Namun segalanya telah terjadi, nasi telah menjadi bubur, dan pantang bagi Clara menelan ludahnya lagi.
Kini, yang terpenting bagi dirinya adalah, dia harus bisa menjalankan perusahaan tanpa Gunawan. Dia akan membuktikan kepada Gunawan dan juga kepada dunia bahwa dia tidak butuh seorang lelaki seperti Gunawan untuk membantunya maju memimpin perusahaan.
Clara tiba-tiba teringat dengan cucunya, dia pun bergegas menuju ke kamar cucu perempuannya.
"Anggun! Dimana Anggun? Biii ...!" Clara teringat dengan cucunya yang masih berusia dua bulan itu.
"Iya, Nyonya," jawab sang pelayan dengan tergesa -gesa.
"Apa Sinta mengajak si Anggun?" tanya Clara merasa tidak melihat sang cucu. Biasanya kalau hari sore begini sang cucu bersama baby sitter nya akan bermain di ruang tengah.
"Maaf, Nyonya. Nona Sinta membawa baby Anggun ke rumah ayahnya," jawab sang pelayan menunduk takut.
"Apa?! Sinta membawa Anggun ke rumah Steve?" ulang Clara yang terkejut dengan jawaban si pembantu.
"Benar, Nyonya. Kata nona Sinta, dia ingin bersenang-senang dan membiarkan tuan Steve merasakan repotnya mengurus anak," jawab sang pembantu polos.
Clara limbung, semua yang terjadi hari ini membuat dirinya oleng. Cucunya sudah pergi, perusahaannya diambang kehancuran. Jelas Steve tidak akan membiarkan Anggun kembali pada Sinta. Clara tahu keluarga Steve selalu berusaha untuk mendapatkan Anggun, namun selama ini dia menghalanginya walau tidak bercerita pada Sinta.
Kini semua yang sudah ia jaga satu persatu terlepas dari genggaman. Clara pun duduk terkulai lemas di lantai.
"Nyonya, nyonya baik- baik saja?" tanya sang pembantu khawatir.
Clara mengangguk lemah, kini dia duduk dengan melipat kakinya dan tangan melingkar di kaki tersebut. Dia tidak mengerti mengapa semua ini terjadi horor beriringan.
Lima hari pun berlalu dengan cepat, akhirnya Sinta pun kembali ke Lampung dan masuk ke kerja. Pagi itu saat cinta baru saja duduk di ruangannya, seketika pintu dibuka dengan kasar, BRAAKK!!
Wajah Clara yang penuh dengan kemarahan langsung terpampang dihadapan mata Sinta. Membuat sedikit banyak gadis itu ngeri saat mamanya murka.
"Ma- mama! Apa kabar, ma?" Sinta mencoba berpasa-basi dengan menanyakan kabar sang ibu sembari tersenyum lembut. Namun kemarahan yang sudah menguasai Clara membuatnya tidak lagi bisa melihat bujuk-rayu dari anaknya.
"Kabarku buruk sekali, Sinta!!! LIHATLAH INI!!" Cara membanting berkas tepat di atas meja Sinta. Meminta anak perempuan satu-satunya untuk memeriksa berkas itu.
Dengan panik Sinta segera memeriksa berkas laporan yang ada di depan wajahnya. Ada sedikit kepanikan yang terlihat di wajah cantik gadis tersebut. Kakaknya dia khawatir sang ibu menemukan bukti penyelewengan dan yang selama ini dia lakukan.
"KAMU MASIH MAU MENGELAK?! Itu adalah laporan keuangan perusahaan selama beberapa bulan ini!!! Kamu pasti mengerti apa maksudnya, Sinta!! Lebih baik kamu katakan sejujurnya kepada mama sekarang juga!!" suara Clara seperti guntur yang menggelegar. Penuh kemarahan dan emosi yang meluap-luap. Pasalnya kesalahan Sinta kali ini bukan main-main. Dia telah menggelapkan dana perusahaan sebesar 1 Milyar.
Sinta terdiam. Dia menundukkan kepala melihat kemarahan sang Ibu. Sinta sadar cepat atau lambat kelakuannya akan ketahuan namun dia tidak menyangka akan secepat ini.
Clara menatap putrinya dengan penuh kemarahan di wajah. Dadanya naik turun dipenuhi dengan kemarahan yang meluap-luap. Dia kehabisan akal untuk membuat Sinta mengerti bahwa menjalankan perusahaan itu bukanlah hal yang main-main.
"Mama gak habis fikir, Sinta! Apa yang kamu lakukan dengan uang sebanyak itu?! Padahal perusahaan kita ini sedang dalam masa kritis!" Tutur Clara mencoba menjelaskan kembali kepada sang putri Seperti apa kondisi perusahaan saat ini.
"A- aku..., Aku tidak tau, ma," sahut Sinta lirih. Dia masih saja mencoba mengalah dari kenyataan yang sudah jelas di depan mata.
"TENTU SAJA KAMU TIDAK TAU!!! KAMU SIBUK LIBURAN KE BALI!!!" hardik sang Ibu. Dia berkacak pinggang, memarahi sang Putri habis-habisan.
Clara benar-benar heran dengan sikat putrinya. Disaat seperti ini dia justru memilih melarikan diri ke Bali. Padahal mengingat latar belakang pendidikan Shinta yang tinggi, tidak mungkin Gadis itu tidak tahu bahwa perusahaan kini sedang dalam mengalami masa kritis. Itu berarti berapapun nominal yang ada sekarang akan sangat berarti bagi perusahaan.
"AKU STRESS, MA! aku juga butuh istirahat dari semua tekanan di kantor!! Siang malam aku bekerja dibawah tekanan itu benar-benar membuat lelah!!" kata Sinta dengan nada suara cukup tinggi. Rupanya dia berani melawan sebagai tidak mau terus disalahkan.
"Memang seperti itu bekerja di kantor!! Kamu pikir kamu sudah mi semua sedang piknik di sini?! Kita semua sedang bekerja mempertahankan perusahaan ini agar tetap jaya apapun kondisinya!!" Sahut Clara. Diagram mendengar ucapan anak satu-satunya. Dia pikir selama ini cinta sangat mengerti sistem kerja di kantor. Dia tidak menyangka justru cinta tumbang dengan semudah ini.
Sinta hanya bisa terdiam lagi. Dia mengalihkan pandangan dari sorot mata tajam sang ibu. Mencoba menahan air mata yang semena-mena ingin memberontak keluar. Bagaimana pun, Sinta hanyalah seorang wanita yang memiliki hati lemah. Dibentak seperti ini, tentu membuatnya sedih. Namun dia tidak suka membantah sang Ibu lebih dari ini, karena itu justru hanya akan menciptakan pertikaian semakin panjang.
"Mama gak mau tau! Kamu harus bisa segera menyelesaikan masalah ini, dan mengganti uang perusahaan yang telah kamu ambil!" tutur Clara dengan wajah geram. Nada suaranya yang tegas membuat cinta semakin kebingungan.
"Da- dari mana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat, ma?!" tanya Sinta. Sorot matanya penuh kesedihan, dan putus asa. Namun hal itu seakan tidak membuat hati sang ibu berbelas kasih. Sebab menurut Clara, kesalahan Sinta sangatlah fatal.
"Mama gak mau tau!! Pokoknya kamu harus segera mengembalikan uang perusahaan dalam waktu seminggu!! Karena kamu tau ada gaji karyawan juga di dalam uang itu!!" ketus Clara. Dia pun pergi dari ruangan putrinya dengan rasa kesal yang masih mendominasi hatinya. Kali ini dia bertekad untuk tegas kepada Sinta agar anaknya itu mengerti tanggung jawab mengelola perusahaan besar.
"Haaa ..!!" Sinta berteriak histeris. Dia mengobrak-abrik berkas yang ada di mejanya.
Membuat semua benda yang ada di meja jatuh berhamburan, berantakan, dan berserakan di lantai. Sinta benar-benar stres menghadapi masalah ini. Dia tidak menyangka sang ibu akan menuntutnya secepat ini untuk mengembalikan semua uang itu. Tadinya Sinta pikir ibunya akan berbaik hati dan merelakan uang itu seperti sebelumnya.
"Dari mana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu seminggu?!" keluh Sinta. Dia memijat pelipis yang mendadak pening karena masalah ini. "Oh, iya!! Aku coba pinjam ke teman-teman saja!"
Dengan semangat Sinta mengambil ponsel di tasnya dan mulai menghubungi teman-temannya satu-persatu. Dia terang-terangan meminjam uang kepada temannya dengan nominal yang cukup banyak mulai dari 20 juta hingga 100 juta. Tentu saja teman-temannya dari golongan orang kaya itu tidak mau meminjamkan Sinta nominal sebanyak itu. Sebab mereka tahu selama ini gaya hidup Sinta sangat glamour. Mereka mengira Sinta hanya akan menggunakan uang itu untuk bersenang-senang seperti biasa.
"SIAL!!! DISAAT SEPERTI INI MALAH TIDAK ADA YANG MAU MEMINJAMKAN UANG!!!" teriak Sinta setelah beberapa kali gagal meminjam uang kepada teman-temannya.
"Padahal kemarin semuanya sangat bersemangat saat aku ajak liburan gratis!! Tapi pada saat aku sedang kesulitan seperti ini tidak ada satupun yang mau meminjamkan aku sedikit uang!!"
PRAANGG!
"HHAAAAA!!" Sinta melemparkan ponsel canggihnya ke meja hingga rusak. Dia benar-benar frustasi menghadapi krisis ini.
"OH IYA! Para pemegang saham!!! Aku akan meminta pinjaman kepada mereka untuk menutup krisis ini, mereka pasti tidak akan menolaknya Karena perusahaan ini cukup menguntungkan bagi mereka selama ini!!" cahaya di wajah Sinta kembali saat mengingat hal ini. Dia seperti melihat cahaya harapan di dalam peliknya masalah. Cinta yakin para pemegang saham akan bersedia membantunya. Jadi dia segera mengangkat gagang telepon di meja dan melakukan panggilan pada sang sekertaris.
"Cepat telepon semua pemegang saham!! kita akan melakukan rapat darurat sekarang juga!!" Perintah Shinta lugas, dan tegas. Membuat sosok di seberang telepon bahkan tidak sempat untuk menjawab. Cinta langsung menutup teleponnya begitu saja setelah memberikan perintah yang demikian mendadak. Itu tandanya dia tidak mau mendengar bantahan dan harus segera dilakukan.
Sinta mulai menyusun rencana untuk membujuk para pemegang saham setelah telfon ditutup. Apapun Yang terjadi cinta harus berhasil membujuk para pemegang saham untuk memberikan uang pada perusahaan. Dia tidak mengetahui bahwa para pemegang saham di perusahaannya telah beralih kepada perusahaan baru Gunawan.
Jadi setelah beberapa menit dia menunggu akhirnya sang sekretaris masuk ke ruangan dengan ekspresi takut. Gadis muda itu berkata, "No- nona, saya sudah menelpon semua pemegang saham. Sa- saya juga sudah membujuk mereka untuk datang, na- namun anehnya semua pemegang saham menolak untuk datang."
"APAA?!!! Kenapa mereka semua menolak untuk datang?!" Intonasi suara Sinta langsung meninggi. Dia benar-benar shock mendengar bahwa para pemegang saham menolak untuk datang ke perusahaan. Padahal tadinya dia sudah yakin bahwa mereka tidak akan meninggalkan perusahaan di masa krisis seperti ini.
Sinta benar-benar kehabisan akal untuk mencari uang ganti bagi perusahaan. Jika situasi terus dibiarkan seperti ini, perusahaan akan jatuh ke dasar kehancuran.