
Hans yang sudah murka pun pada akhirnya menerobos tubuh Merlyn hingga Merlyn terdorong dan jatuh begitu saja.
"Syukurin kau Mak lampir! Jika bukan karena kau bos yang memiliki pengaruh besar di dunia bisnis, tidak akan aku biarkan kau masuk ke ruangan pak Hans tadi! Rasakan!" ucap Vera terkekeh dalam hati. Dia pun mendekat ke arah Merlyn berniat untuk membantunya berdiri.
"Miss Merlyn, Anda tidak apa-apa?" tanya Vera dengan manis. Namun tidak berapa lama kemudian, Vera yang mengantungi silet carter membelah jahitan rok belakang Merlyn tanpa sepengetahuan Merlyn.
"Kurang ajar si Hans! Dasar tidak tahu diuntung! Kurang apa aku coba? Cantik, muda dan seorang pebisnis sukses. Kita adalah pasangan yang serasi, tapi wanita kampung itu merusak semuanya!" omel Merlyn sambil berpegangan pada tangan Vera.
"Sabar, Miss. Memang untuk berjuang diperlukan pengorbanan," ucap Vera ambigu sambil tersenyum bahagia melihat Merlyn yang tidak menyadari roknya terbuka bagian belakang.
"Terimakasih, hanya kau yang peduli kepada ku. Apakah kau mau bayaran lebih?" Merlyn merapikan rambutnya yang kusut.
"Maaf, Miss. Maksudnya apa ya?" tanya Vera dengan Alua yang bertaut menjadi satu. Vera belum paham apa niat Merlyn berkata seperti itu.
"Apakah kamu mau menjadi mata-mata saya?" tanya Merlyn setengah berbisik dan memerhatikan sekitar.
"Memata-matai siapa, Miss?" tanya Vera lagi, gayanya seakan mendukung apa yang diinginkan oleh Merlyn.
"Ck, dasar bodoh! Tentu saja memata-matai Pak Hans! Apalagi mengenai istrinya itu. Aku sangat mencintainya dan rela menjadi istri keduanya. Bagaimana apakah kau setuju?" tanya Merlyn kembali berbisik.
Vera membulatkan mata dengan sempurna, dia tidak menyangka jika wanita secantik Merlyn bisa menjadi wanita bodoh. Jelas tadi ditolak oleh Hans tapi tetap saja ingin mendekatinya, bahkan ingin menjadi istrinya.
"Bagus! Aku akan memberi mu banyak uang. Kau tahu aku sangat berkuasa. Mudah bagiku untuk menjatuhkan siapa pun di negeri ini! Jika Hans menolak ku, maka sudah bisa dipastikan, usahanya akan aku hancurkan!!" ucap Merlyn dengan mata yang menyala terobsesi dengan pria yang sudah beristri.
Vera tercengang, ternyata wanita bule itu tidak main-main. Di sini Vera merasa kalau dirinya terpanggil untuk membantu sang bos. Bos yang sudah seperti saudara baginya itu.
"Mm ... Sebaiknya Miss Merlyn secepatnya kembali karena kami akan segera pulang. Jam kantor sebentar lagi sudah habis. Jika ada informasi apapun, Anda bisa menghubungi saya," ucap Vera dengan datar. Dia harus pandai membawa diri agar tidak terpancing emosi.
"Baiklah, tidak ada gunanya juga aku berlama-lama di sini!" jawab Merlyn angkuh. Dia pun bergegas meninggalkan ruangan Hans diikuti dua pengawalnya.
Sementara itu Hans mengejar Tia hingga sampai lobby.
"Sayang, tunggu dulu. Please, jangan salah paham! Ayo kita bicarakan semua dengan kepala dingin!" ucap Hans menarik tangan Tia.
Tia terpaksa berhenti karena tidak ingin menjadi tontonan para pegawai kantor. Dengan wajah ditekuk dan tanpa menjawab, Tia mengikuti langkah Hans. Hans membawa Tia ke kantin kantor.
"Ok, kamu pesan apa, Sayang?" tanya Hans.
Tia tidak menjawab, dia diam sembari memutar matanya malas.
"Okelah, mas akan pesan minuman kesukaan mu. Biar mas yang panggil pelayn!" Hans memutar tubuhnya memanggil pelayan kantin.