Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab 63


Hans memutar arah menuju ke salon MUA yang berada di dekat hotel miliknya. Hotel yang akan dijadikan tempat perhelatan pesta pernikahan kedua bersama Tia.



"Lhoh, Mas. Kok putar arah?" tanya Tia. Dia bingung melihat sanga suami yang memutar arah mobilnya.



"Tenang saja, nanti kamu juga akan tahu sendiri," jawab Hans dengan senyum seringai di ujung bibirnya. Lama sudah tidak mendapatkan kehangatan dari seorang wanita, membuat Hans sedikit berpikiran mes\*m.



"Bodo amat, mes\*m dengan istri sendiri tidak ada yang protes dan tidak melanggar hukum manapun. Beda kalau punya pikiran mes\*m dengan istri orang!" celetuk Hans di dalam hati. Malam ini dia begitu bersemangat menyelesaikan semua persiapan pesta pernikahannya.



Tia melirik Hans yang sedari tadi senyum-senyum sendiri.



"Mas, kamu kenapa senyum-senyum sendiri seperti itu? Apa ada yang lucu atau ada yang salah?" tanya Tia penasaran. Pasalnya aneh saja melihat tidak ada hal yang lucu namun Hans tertawa sendiri.



Hans menoleh ke arah Tia dengan mengedipkan mata kirinya. Hal tersebut semakin membuat Tia merasa aneh dengan sikap Hans.



"Mas, bukannya jawab malah pasang mata genit gitu. Ada apa sih? Tia penasaran ini, bagi tahulah apa yang mas rasakan," ucap Tia menyentuh bahu Hans.



Deg ... Deg ....



Sentuhan tangan Tia di bahu Hans membuat jantung Hans berdetak dengan kencang. Tubuh yang lama tidak tersentuh tangan wanita itu pun seperti kesetrum listrik ribuan Watt.



"Ah, tidak apa-apa, Tia. Semua baik-baik saja. Tidak ada yang aneh kok," ucap Hans mendadak gugup dan grogi. Jiwa maskulin Hans tumbuh kembali.




Sambutan ramah dari pelayan dan suasana yang nyaman di Salon D&R membuat Tia merasa betah. Tidak seperti salon milik madam Jo, di salon ini, Tia benar-benar dihargai selayaknya tamu istimewa.



"Silakan masuk, Nyonya. Bisa kami bantu?" tanya sang pelayan dengan ramah.



"Mmm ... Kami ingin menyewa jasa rias pengantin untuk hari minggu besok. Apakah bisa?" tanya Tia pada sang pelayan tersebut.



"Sebentar saya lihat jadwalnya terlebih dahulu," Jawab sang pelayan sembari menengok jadwal untuk hari Minggu.



Hans dan Tia saling menatap kemudian senyum genit Hans lemparkan untuk Tia. Tia mendelik dan akhirnya bergidik ngeri.



"Tuan dan nyonya, untuk besok hari minggu masih ada slot kosong. Jadi kami bisa menerima job ini. Nanti akan ada bagian marketing yang akan mengajak tuan dan nyonya memilih riasan yang diinginkan. Untuk gaunnya apakah sudah ada, Nyonya?" jelas sang pelayan.



"Sudah, Mbak. Kami sudah ada gaunnya. Kami hanya ingin jasa rias wajah saja. Kami seperti itu karena jasa MUA sebelumnya mengecewakan kami," ucap Tia memberi tahu mengapa pindah mencari MUA lain.



"Baiklah, kami akan meminta salah satu marketing kami untuk melayani nyonya dan tuan lebih lanjut, silakan nyonya dan tuan ikut saya," ajak sang pelayan pada Tia dan Hans, untuk mengikutinya menuju ke suatu tempat khusus pelayanan pelanggan.



Seorang gadis cantik berdiri menyambut kedatangan Hans dan Tia. "Silakan masuk, Nyonya dan Tuan. Kami akan menunjukkan berbagai paket pelayanan kami khusus untuk pengantin. Silakan bisa tuan dan nyonya bisa melihat-lihat terlebih dahulu buku daftar paket ini." Gadis yang bertugas sebagai marketing itu memberikan buku daftar paket pengantin.



Tia dan Hans bersama -sama melihat berbagai paket riasan pengantin yang ditawarkan oleh salon D&R tersebut. Keduanya tampak serius dalam memperhatikan fasilitas yang didapat setiap paketnya.