Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
MMSP2. bab 14


Pagi yang cerah, hari ini adalah hari pertama Tia masuk ke kantor, setelah libur beberapa hari tidak masuk kantor.


"Rabu ceria, pertama kali aku masuk kerja!" seru Tia bersemangat sembari memantapkan diri di depan cermin. Balutan blazer berwarna putih tulang dengan dalaman lengan panjang berwarna hitam dan rok panjang ketat, membuat Tia tampil cantik dan elegan.


"Wow ... Istriku cantik sekali, tumben amat sih cantik begini. Mas jadi gak rela mengijinkan mu pergi!" Hans melingkarkan tangannya di pinggang Tia.


"Apa-apaan sih, Mas!! Aku mau ke kantor, awaaas ... Lecek nanti bajuku," ucap Tia menyingkirkan tangan Hans dari pinggangnya.


"Ck! Kenapa gak boleh peluk istri sendiri?" Hans meerengut protes pada sang istri. Namun sayang, protes Hans tidak digubris oleh Tia. Sikap Tia sudah berubah total lagi. Dia tidak lagi menunjukkan sikap mesra pada Hans. Padahal niat Hans hanya bercanda saja.


"Sudahlah, Mas. Kita sudah tua, bukan waktunya lagi untuk bermesra- mesraan!" Tia berlalu begitu saja meninggalkan Hans yang melongo dan berakhir kecewa.


"Astaghfirullah ... Kamu harus sabar, Hans!" Hans menghela napas dalam-dalam, berharap semua segera berlalu. Menunggu sang ustadz untuk segera datang dan mencari buhul ilmu hitam yang ditanam untuk merusak rumah tangga Tia dan Hans.


Tia dengan penampilan barunya membuat para pegawai yang berpapasan dengannya tercengang dan akan memuji kecantikan Tia.


"Wah ... Bu Tia sekarang cantik sekali," gumam salah satu pegawai Tia yang berjaga di meja resepsionis.


"Benar sekali, Bu Tia jika pakai make up ternyata sangat cantik sekali," sahut yang lain ikut memuji kecantikan Tia. Baru pertama kali ini mereka melihat terlihat sangat cantik dengan make yang tidak terlalu norak. Memang jika wanita yang tidak pernah pake make up, sekali make up akan terlihat sangat cantik.


Tia tersenyum senang dengan pujian yang ia dengar. Rasa percaya dirinya semakin bertambah.


"Selamat pagi, Bu Tia." Seseorang berdasi dengan kemeja putih dan jas hitam menyapa Tia dari belakang.


Tia berhenti lalu menoleh ke belakang kemudian tersenyum, membalas sapaan orang itu.


"Selamat pagi, Tuan Nigam," balas Tia.


"Bagaimana kabar Anda, Bu Tia? Hari ini Anda terlihat sangat cantik," ucap lelaki yang bernama Nigam itu.


"Terima kasih, Tuan. Anda terlalu memuji saya. Saya merasa tidak cantik lagi karena usia juga sudah tidak muda lagi," jawab Tia dengan tersipu malu.


Nigam tersenyum penuh arti, wanita yang menjalin kerjasama dengan dirinya baru beberapa Minggu ini kini sudah berubah sesuai dengan harapannya.


"Mari kita bicarakan bisnis kita di ruangan saya, Tuan. Hari ini Anda datang awal sekali. Tidak biasanya para rekan bisnis saya memilih datang ke kantor sebelum saya datang. Anda ini termasuk yang langka ya?" canda Tia. Dia tidak merasa sungkan jika bersama Nigam.


"Siap, Bu Tia."


Nigam dengan senyum merekah mengikuti Tia dari belakang. Mereka pun membicarakan bisnis di dalam ruangan Tia.


Tia menoleh ke arah coklat yang ditawarkan oleh Nigam.


"Ini? Anda juga sangat suka dengan coklat ini? Semenjak saya dapat dari seorang pemuda, saya sangat suka dengan coklat ini. Ternyata Anda juga menyukainya?" tanya Tia yang merasa terkejut dengan coklat yang ditawarkan oleh Nigam.


"Benar, Bu Tia. Saya sangat suka coklat ini. Setelah makan coklat ini saya meras hidup lebih berwarna. Silakan ambil, Bu Tia," ucap Nigam memberikan coklat itu pada Tia.


"Kalau boleh tahu, di mana Anda membeli coklat ini, Tuan Nigam?" tanya Tia sembari membuka pembungkus coklat tersebut.


"Mmm ... Saya tidak membelinya, akan tetapi membuat sendiri coklat ini. Saya punya pabrik dan toko makanan yang khusus membuat coklat ini," jawab Nigam dengan seringai di sudut bibirnya.


"Benarkah? Jadi pemuda itu beli di toko Anda, Tuan?" tanya Tia sembari menggigit ujung coklat yang dua hari ini sangat ia sukai. Tia merasa dirinya lebih bersemangat dalam menjalani hidup.


"Mungkin, dan lelaki yang mengirim coklat ke rumah anda itu adalah anak buah saya. Saya ingin Bu Tia mencoba produk toko kami. Syukurlah Bu Tia menyukai coklat produksi kami." Nigam tersenyum sembari memakan coklatnya.


"Benarkah? Terima kasih tuan Nigam, saya sangat suka sekali coklat itu. Saya ingin punya stok di rumah. Coklat ini mampu membuat saya lebih tenang dan bisa rileks." Tia mengungkapkan apa yang ia rasa setelah memakan coklat itu.


"Syukurlah, Bu Tia. Memang coklat ini saya produksi agar memiliki manfaat untuk yang memakannya. Semua khusus untuk Anda, Bu Tia. Eh ... Maksud saya untuk pelanggan saya," ucap Nigam. Lelaki dengan kulit berwarna sawo matang itu mengulas senyum simpul. Mata hitam pekatnya tidak pernah lepas dari mata Tia, hingga membuat Tau menjadi salah tingkah.


Tia menunduk malu, pipinya bersemu merah. Mata Nigam seperti panah yang tepat menembus hatinya. Getaran di dalam hati Tia mulai ia rasakan.


Nigam yang duduk di depan Tia mengambil bingkai foto yang ditaruh di atas meja Tia.


"Suami Anda adalah lelaki yang sangat beruntung, dia memiliki wanita yang sangat cantik. Andai dulu saya lebih dahulu kenal dengan Anda, mungkin sekarang saya sudah menjadi suami Anda," ucap Nigam dengan rahang yang mengeras.


"Apa maksud Anda? Mengapa Anda berkata seperti itu? Apa kita pernah bertemu sebelum saya bertemu dengan mas Hans?" tanya Tia sembari mengernyitkan dahinya.


"Maaf, bukan begitu, Bu Tia. Saya hanya berandai saja. Saya sangat mengenal tuan Hans dengan baik. Lupakan semua kata-kata saya tadi. Lebih baik kita fokus pada bisnis kita. Tadi sampai mana? Oh ya sampai membuka toko baju dan toko kue dalam satu gerai. Jadi pembeli bisa berbelanja baju sambil berbelanja kue dan coklat. Benar bukan?" tanya Nigam menutupi kegugupannya.


"Oh begitu, saya kira Anda mengenal saya jauh sebelum saya mengenal mas Hans," sahut Tia.


"Mm ... Lupakan saja, Bu Tia. Sebaiknya kita fokus. Fokus untuk mendapatkan hasil yang besar," ucap Nigam lagi.


Kedua orang pebisnis muda itu mulai membicarakan bisnis mereka. Dengan sesekali Nigam mencuri pandang dan tidak fokus dengan apa yang Tia jelaskan tentang konsep bagaimana toko itu akan dibangun dan dikembangkan menjadi sebuah gerai toko yang besar.


Tidak terasa jam makan siang tiba, ternyata kedua orang itu berbicara sudah cukup lama. Hampir empat jam mereka berbicara, hingga Tia tidak tahu jika sang suami sedari tadi menelepon dirinya.